Eksekusi mati terhadap Christa Pike di Tennessee, Amerika Serikat, berakhir tanpa hasil setelah narapidana perempuan itu masih menunjukkan tanda-tanda hidup usai penyuntikan obat dalam prosedur hukuman mati pada Selasa (30/9) malam waktu setempat. Pike, 50 tahun, sempat dipindahkan ke fasilitas medis untuk mendapat penanganan, sementara otoritas penjara kemudian membuka penyelidikan atas kejadian tersebut. Insiden ini menjadi sorotan luas karena Pike adalah perempuan pertama yang dijadwalkan dieksekusi di Tennessee dalam lebih dari dua abad.
Proses itu berlangsung di Lembaga Pemasyarakatan Keamanan Maksimum Riverbend, Nashville, dan dimulai sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Sejumlah wartawan yang hadir melaporkan Pike mendengkur, tampak kesakitan, dan terengah-engah setelah obat diberikan. Mereka juga melihat ia menggerakkan kaki dengan keras sampai kain penutup tubuhnya robek. Dalam beberapa momen, tirai ruang eksekusi ditutup sehingga saksi di luar ruangan tidak bisa melihat seluruh proses dan hanya mendengar suara dari dalam.
Kondisi tersebut memicu langkah hukum darurat dari tim kuasa hukum Pike yang meminta pengadilan federal menghentikan eksekusi yang sedang berjalan. Mengutip laporan NBC News, pengacara menyampaikan keterangan saksi bahwa dua botol obat telah disuntikkan, tetapi Pike masih hidup dan masih mendengkur. John North, reporter yang menyaksikan peristiwa itu, menilai situasinya tidak berjalan sebagaimana mestinya. “Sepertinya semuanya tidak berjalan seperti yang mereka harapkan. Tapi kita tidak tahu pasti,” kata North.
Departemen Pemasyarakatan Tennessee kemudian mengonfirmasi bahwa Pike dibawa keluar dari penjara menuju fasilitas medis untuk perawatan lebih lanjut. Namun, detail mengenai kondisi kesehatannya setelah dipindahkan belum diumumkan. Beberapa hari kemudian, Sabtu (3/10), Komisioner Biro Penjara Tennessee Frank Strada mengundurkan diri. The New York Times melaporkan langkah itu muncul setelah pelaksanaan eksekusi tidak berjalan sesuai rencana. Gubernur Tennessee Bill Lee mengatakan telah menerima keputusan tersebut, sementara Strada menyebut pengunduran dirinya dilakukan demi kepentingan warga Tennessee dan ia siap membantu penyelidikan.
Strada menegaskan dirinya masih meyakini bahwa prosedur yang berlaku telah dijalankan dalam kasus Pike. Ia juga menyatakan akan bekerja sama untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi selama proses eksekusi. Hingga kini, Lee belum mengumumkan pengganti Strada. Setelah peristiwa itu, Lee juga menghentikan pelaksanaan eksekusi di Tennessee sampai akhir tahun.
Pike dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan Colleen Slemmer pada 1995. Saat itu, Pike berusia 18 tahun dan Slemmer 19 tahun. Keduanya mengikuti program Job Corps di Knoxville, Tennessee. Menurut AFP, Pike bersama pacarnya, Tadaryl Shipp, dan seorang remaja lain terlibat dalam penyiksaan serta pemukulan yang menyebabkan Slemmer tewas. Kasus itu menarik perhatian besar setelah jasad korban ditemukan dengan ukiran berbentuk pentagram di dadanya. Pada 30 Maret 1996, Pike resmi dijatuhi hukuman mati. Selama bertahun-tahun, pihak pembela menyoroti usia Pike ketika melakukan kejahatan, dugaan pelecehan seksual yang dialaminya saat kecil, serta masalah kesehatan mental yang menurut mereka belum ditangani memadai. Mereka juga berargumen bahwa PTSD dan kelainan darah yang dialami Pike dapat membuat suntik mati menimbulkan penderitaan yang tidak perlu. Perserikatan Bangsa-Bangsa sempat meminta agar eksekusi dibatalkan, tetapi pada 29 September Mahkamah Agung Amerika Serikat menolak permohonan terakhir untuk menunda hukuman tersebut.
Sumber: www.tribunnews.com




