Elkan Baggott menutup malam bersejarah Timnas Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (5/10/2026), dengan kalimat yang merangkum emosi skuad Garuda: Indonesia disebutnya pantas berada di puncak Asia Tenggara. Ucapan itu muncul setelah Indonesia menaklukkan Thailand dalam final FIFA ASEAN Cup 2026 dan memastikan gelar pertama di ajang tersebut lewat drama adu penalti.
Bagi bek kelahiran Bangkok itu, kemenangan ini punya makna lebih besar daripada sekadar trofi. Ia pernah merasakan langsung pahitnya kekalahan dari Thailand pada final Piala AFF 2020 yang dimainkan di Singapura pada Desember 2021. Saat itu, Indonesia tak mampu membendung lawan dan harus puas menjadi runner-up setelah kalah agregat 2-6. Pengalaman tersebut ikut membentuk perjalanan Elkan bersama tim nasional, termasuk saat ia sempat absen dari turnamen ASEAN pada edisi-edisi berikutnya.
Di final 2026, Elkan justru menjadi bagian penting dari kebangkitan Indonesia. Laga berjalan ketat dan penuh perubahan situasi. Dean James sempat membawa Indonesia unggul pada menit ke-84, tetapi Thailand cepat membalas. Setelah memasuki babak tambahan, giliran Thailand berbalik memimpin 2-1 melalui gol Peeradol Chamrasamee pada menit ke-111. Keadaan itu seolah mengulang memori lama ketika gelar kembali menjauh dari genggaman Indonesia.
Namun, kali ini akhir ceritanya berbeda. Lima menit setelah tertinggal, Elkan menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Tembakannya menghantam bagian bawah mistar sebelum masuk ke gawang Thailand. Gol tersebut menjaga asa Indonesia tetap hidup hingga 120 menit permainan usai dan pemenang harus ditentukan lewat adu penalti. Momen itu sekaligus menjadi penegas bahwa Elkan bukan hanya kembali ke final, tetapi juga tampil sebagai pembeda di saat paling genting.
Dalam jumpa pers usai laga, Elkan hadir bersama pelatih John Herdman. Ia mengenang bagaimana tim sempat diingatkan lagi pada kegagalan masa lalu. Menurutnya, staf pelatih menampilkan kembali momen-momen kekalahan di hotel sebagai pengingat bahwa perjalanan menuju juara tidak pernah mudah. Ia juga menyinggung bahwa sejak final sebelumnya, banyak hal telah berubah di federasi maupun di lingkungan tim, tetapi semangat membela Merah Putih tetap sama.
“Saya pikir kita sudah menunjukkannya, kita adalah Raja Asia Tenggara,” kata Elkan sambil tertawa. Ia menambahkan bahwa dirinya bangga terhadap Indonesia dan menilai skuad Garuda memang layak menyandang status tersebut. Bagi Indonesia, gelar ini menandai berakhirnya penantian panjang di turnamen kawasan. Bagi Elkan, ini adalah jawaban atas luka lama: dari final yang berakhir pahit pada 2021, menjadi final yang ditutup dengan selebrasi juara lima tahun kemudian.
Sumber: www.tribunnews.com




