Dampak Gejolak Ekonomi Global pada Dompet Warga
Perang di kawasan Timur Tengah telah memicu gejolak ekonomi global yang berdampak langsung pada masyarakat Indonesia. Kenaikan harga minyak mentah global, terutama Brent yang menyentuh level 107,48 dolar AS per barel, telah mengubah dinamika perekonomian nasional. Mara (27), pelaku UMKM di Yogyakarta, merasakan dampaknya secara langsung. Harga bahan baku seperti kertas dan plastik untuk kemasan meningkat hingga 15 persen dalam sebulan terakhir. Ini menunjukkan bahwa tekanan dari sisi penawaran (supply) dan permintaan (demand) saling berkaitan.
Beberapa faktor utama yang memicu kenaikan harga antara lain:
- an Selat Hormuz: Sebagai jalur distribusi 20 persen suplai minyak dunia.
- Kenaikan harga minyak mentah global yang mencapai 37,55 persen secara bulanan.
- Gangguan rantai pasok yang menyebabkan kenaikan harga pupuk dan komoditas lainnya.
Tekanan ini tidak hanya berdampak pada industri, tetapi juga pada daya beli masyarakat, terutama kelas menengah yang menjadi penopang perekonomian nasional.
Inflasi Impor dan Tekanan pada Rupiah
Inflasi impor menjadi ancaman nyata bagi perekonomian Indonesia. Dengan kebutuhan impor bahan baku yang tinggi, industri harus menanggung beban biaya impor tinggi seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kini menyentuh level Rp 16.999 per dolar AS, dengan depresiasi 1,63 persen secara tahun kalender berjalan.
Menurut Abdul Manap Pulungan dari Indef, inflasi akan meningkat 0,5-0,8 persen untuk inflasi bulanan pada Maret 2026 jika pemerintah belum merespons gejolak ekonomi global dengan menaikkan harga minyak. Hal ini akan menggerus pendapatan riil masyarakat, terutama kelas menengah yang cenderung menahan belanja ketika terjadi kenaikan harga atau inflasi.
Peran Kelas Menengah dalam Perekonomian Nasional
Kelas menengah Indonesia menghadapi tekanan dari berbagai sisi. Stagnasi pendapatan riil akibat keterbatasan lapangan kerja di sektor formal dan kenaikan harga kebutuhan pokok membuat mereka semakin rentan. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah turun 10 juta orang, dari 57 juta pada 2019 menjadi 47 juta orang pada 2025.
Mohammad Faisal dari CORE Indonesia menjelaskan bahwa kenaikan inflasi akibat dampak gejolak ekonomi global semakin mempersulit pemulihan perekonomian masyarakat kelas menengah. Untuk menghadapi tekanan ini, kelas menengah perlu:
- Menekan pengeluaran dengan menurunkan standar gaya hidup sementara waktu.
- Mencari sumber pendapatan tambahan melalui freelance, berdagang kecil-kecilan, atau menjadi konsultan.
- Melakukan substitusi konsumsi dengan barang yang lebih ekonomis namun tetap fungsional.
- Membuat dana darurat minimal 6-12 bulan pengeluaran rutin yang disimpan di instrumen aman seperti reksa dana pasar uang, tabungan/deposito, serta emas.
Strategi Pemerintah dalam Menghadapi Krisis Energi
Pemerintah Indonesia perlu segera mengambil langkah mitigasi cepat guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain:
1. Meningkatkan Cadangan Operasional BBM
Pemerintah perlu meningkatkan cadangan operasional BBM nasional dari rata-rata 21 hari menjadi minimal 45 hari konsumsi nasional. Kolaborasi dengan sektor swasta melalui pemanfaatan fasilitas penyimpanan milik pelaku usaha energi domestik sebagai national energy buffer menjadi penting.
2. Memaksimalkan Energi Domestik
Batubara dan gas domestik harus diposisikan sebagai energy security asset. Optimalisasi pembangkit listrik berbasis batubara (baseload) serta implementasi Domestic Market Obligation (DMO) gas untuk sektor kelistrikan dapat mengurangi eksposur terhadap LNG spot market yang volatil.
3. Mengamankan Kontrak LNG Jangka Panjang
PLN bersama pelaku usaha energi perlu segera mengamankan kontrak LNG jangka panjang dengan negara pemasok utama seperti Qatar dan Australia guna menjaga stabilitas harga energi primer nasional di tengah volatilitas pasar global.
4. Membentuk Energy Supply Shock Task Force
Pemerintah perlu membentuk Energy Supply Shock Task Force yang melibatkan kementerian terkait dan sektor swasta untuk memantau risiko logistik energi global secara real-time serta memastikan stabilitas pasokan energi domestik bagi sektor industri strategis.
Peran Sektor Swasta dalam Ketahanan Energi
Konflik global hari ini adalah pengingat bahwa ketahanan energi bukan hanya agenda transisi menuju energi hijau, tetapi juga fondasi utama stabilitas ekonomi nasional. Sektor swasta memiliki peran penting dalam:
- Penyediaan fasilitas penyimpanan BBM tambahan.
- Dukungan logistik distribusi energi.
- Percepatan investasi infrastruktur FSRU.
- Skema pembiayaan bersama untuk pembangunan cadangan energi strategis nasional.
Indonesia mungkin tidak dapat mengendalikan konflik global. Namun Indonesia dapat-dan harus-memperkuat sistem ketahanan energinya sendiri sebelum gejolak eksternal berubah menjadi krisis domestik.
Penulis : wafaul




