Fatmawati disebut tidak hadir saat Sukarno—yang akrab dipanggil Bung Karno—menjelang wafat, bahkan hingga jenazahnya dimakamkan di Blitar pada 21 Juni 1970. Baru beberapa hari setelah pemakaman itu, ia akhirnya berziarah ke makam sang proklamator. Kisah tersebut disampaikan Guruh Soekarnoputra dalam wawancara yang dimuat Tabloid NOVA edisi 6 Agustus 1989, dan menggambarkan suasana keluarga di tengah akhir hayat Bung Karno.
Peristiwa itu bermula pada Minggu dini hari, sekitar pukul 05.00, ketika Guruh dibangunkan ibunya di rumah Sriwijaya. Saat itu hanya ia dan Fatmawati yang tinggal di sana, sementara anak-anak lain sudah berada di tempat masing-masing: Rahma dan Sukma mengontrak di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan, Guntur di Bandung, sedangkan Megawati mengikuti suaminya ke Madiun. Dengan tenang, Fatmawati memberitahu bahwa Bung Karno dalam kondisi kritis. Ia bahkan meminta anak-anaknya bersiap secara batin jika hal terburuk terjadi.
Menurut Guruh, sehari sebelumnya ia masih sempat menjenguk ayahnya di rumah sakit. Saat itu Bung Karno masih bisa membaca koran dan bahkan masih makan pepaya yang dibawakan anaknya. Namun setiap kunjungan keluarga ke rumah sakit, Fatmawati tidak pernah ikut. Guruh menyebut ada semacam kesepakatan antara kedua orang tuanya, meski ia tidak mengetahui isi pastinya. Yang ia pahami, ibunya memang tidak ingin berhadapan langsung dengan istri-istri Bung Karno.
Di rumah sakit, Guruh dan saudara-saudaranya sempat menunggu di luar kamar karena tim dokter masih berada di sisi ranjang Bung Karno. Setelah dokter keluar, ia baru diizinkan masuk dan melihat kondisi ayahnya yang mulai tidak sadar. Sementara itu, Fatmawati tetap berada di Sriwijaya dan terus berzikir sampai kabar wafat Bung Karno sampai kepadanya. Pada pukul 07.00, Minggu 21 Juni 1970, Bung Karno mengembuskan napas terakhir. Guruh mengaku bersyukur karena masih dapat menunggui saat-saat akhir itu.
Setelah jenazah dimandikan, Bung Karno dibawa ke Wisma Yaso sekitar pukul 13.00 untuk disemayamkan. Rumah duka segera dipadati pelayat, bahkan desakan massa membuat salah satu pintu masuk jebol. Sejumlah tokoh juga datang, di antaranya Bu Hartini, Bu Dewi, Kartika, lalu Bapak Soeharto dan Ibu Tien. Meski sempat menanyakan kondisi Bung Karno setelah Guruh pulang ke Sriwijaya, Fatmawati tetap tidak ikut melayat. Ia hanya mengirim karangan bunga merah-putih.
Pemakaman Bung Karno sendiri sempat dibicarakan di Sriwijaya malam itu, merujuk pada amanat almarhum agar dimakamkan di tempat yang rindang, dekat aliran sungai, tanpa nisan di atas kubur. Ia menginginkan batu bertuliskan “Bung Karno penyambung lidah rakyat”. Pada akhirnya, keluarga sepakat memakamkannya di Blitar. Keesokan harinya, Senin sekitar pukul 10.00, jenazah diberangkatkan dari Lapangan Terbang Halim Perdana Kusuma dengan pesawat Hercules, lalu mendarat di Malang dan diteruskan ke Blitar melalui konvoi mobil.
Guruh mengenang perjalanan itu sebagai momen yang dipenuhi lautan manusia, tangis, dan suasana duka yang berat. Ia juga teringat pesan Bung Karno bahwa semakin banyak orang mencintai seseorang, semakin banyak pula musuh yang dimiliki. Baru sekitar sepekan kemudian Fatmawati datang menengok makam Bung Karno. Setelah itu, Guruh perlahan kembali ke sekolah dan aktivitas kesenian, meski kehilangan ayah sekaligus pemimpin besar itu masih sangat membekas.
Sumber: intisari.grid.id




