Harga Aspal Melonjak, DPRD Sulsel Khawatir Proyek Multi Tahun Terganggu

Diposting pada

Dampak Kenaikan Harga Aspal pada Proyek Infrastruktur di Sulsel

Kenaikan harga aspal yang mencapai hingga 50 persen telah memengaruhi sektor infrastruktur di Sulawesi Selatan (Sulsel). Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap progres beberapa proyek jalan, khususnya yang menggunakan skema multi years. Anggota Komisi D DPRD Sulsel, Muh Sadar, menyampaikan bahwa lonjakan harga tersebut tidak hanya terjadi di satu daerah, melainkan berskala nasional.

Menurut Sadar, hampir seluruh wilayah di Indonesia mengalami dampak serupa akibat kenaikan harga material. Ia menjelaskan bahwa perbedaan harga antar daerah wajar terjadi karena faktor distribusi dan biaya transportasi. Di Sulsel, harga aspal cenderung lebih tinggi dibanding daerah lain karena ketergantungan pada pasokan dari PT Pertamina (Persero), yang membuat harga sangat bergantung pada jarak dan rantai logistik.

Selain aspal, kenaikan juga terjadi pada komponen lain seperti bahan bakar minyak (BBM) dan material pendukung konstruksi. Kondisi ini semakin memberatkan biaya pelaksanaan proyek di lapangan. Menurut Sadar, hal ini akan berdampak pada keseluruhan biaya proyek, baik itu proyek single years maupun multi years.

Saat ini, terdapat enam paket proyek jalan multi years yang ditangani oleh Pemerintah Provinsi Sulsel. Meski progresnya masih sesuai target awal, Sadar mengingatkan adanya potensi keterlambatan jika kondisi harga material terus bergejolak. Ia menegaskan bahwa saat ini belum ada proyek yang melebihi 50 persen progres.

Potensi penyesuaian harga atau eskalasi biaya masih bergantung pada kebijakan pemerintah pusat. Jika kondisi kenaikan harga ini ditetapkan sebagai situasi darurat atau bencana nasional, maka pemerintah daerah dapat melakukan evaluasi harga satuan proyek. Dengan demikian, ada ruang untuk penyesuaian di daerah.

Meski demikian, Sadar menegaskan bahwa ia akan tetap mengawal pelaksanaan proyek agar berjalan sesuai spesifikasi. Pihaknya meminta kontraktor tetap menyelesaikan pekerjaan tanpa mengurangi kualitas, volume, maupun waktu pengerjaan. Ia menegaskan bahwa kualitas tidak boleh turun hanya karena ada kenaikan harga.

Bendahara Partai Nasdem Sulsel itu juga mengingatkan Pemprov Sulsel untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap harga satuan pekerjaan. Langkah ini dinilai penting agar proyek infrastruktur tetap berjalan optimal tanpa melanggar ketentuan yang berlaku.

Harga aspal di Sulawesi Selatan saat ini telah menembus angka di atas Rp10 juta per metrik ton. Angka tersebut dinilai cukup tinggi dan berpotensi mengganggu perencanaan pembangunan jalan jika tidak segera diantisipasi. Dengan kondisi tersebut, Sadar berharap ada langkah cepat dari pemerintah pusat maupun daerah agar proyek strategis tetap berjalan dan kebutuhan infrastruktur masyarakat tidak terganggu.

Gambar Gravatar
Hidayat merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan