IHSG Mengalami Pelemahan, Sentimen Global dan Komoditas Jadi Sorotan
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan pekan lalu yang menyusut akibat libur panjang Hari Raya Idul Fitri. IHSG tercatat mengalami koreksi sebesar 0,14%, dipicu oleh aksi jual investor asing yang melepaskan dana senilai Rp3,8 triliun.
Menurut Imam Gunadi, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), tekanan yang terjadi di pasar saham saat ini masih sangat dipengaruhi oleh sentimen global, terutama ketegangan geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait potensi gangguan pasokan energi, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz. Dampaknya, harga minyak mentah dunia melonjak tajam, mendekati level US$99 per barel.
“Kenaikan harga minyak ini memicu efek domino yang signifikan terhadap harga komoditas lain, termasuk batubara. Saat ini, harga batubara telah menembus rekor baru, mencapai US$140 per ton,” jelas Imam dalam keterangan resminya pada Senin, 1 April 2026.
Lebih lanjut, Imam merinci bahwa lonjakan harga batubara tidak hanya dipengaruhi oleh isu geopolitik, tetapi juga oleh pergeseran fundamental dalam konsumsi energi global. Beberapa negara besar, seperti Jepang, dilaporkan mulai meningkatkan ketergantungan pada batubara sebagai sumber energi alternatif yang dianggap lebih stabil dibandingkan opsi lain.
Sektor Agrikultur Menjadi Pelipur Lara di Tengah Ketidakpastian
Di tengah gejolak di sektor energi, sentimen positif justru mengalir dari sektor agrikultur. Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dari Malaysia berhasil mempertahankan posisinya di level MYR4.600 per ton. Penguatan ini ditopang oleh peningkatan volume ekspor serta daya tarik CPO sebagai bahan baku biofuel, seiring dengan kenaikan harga minyak dunia yang terus merangkak naik.
Pada konteks domestik, percepatan implementasi program biodiesel B50 turut memberikan dorongan signifikan bagi sektor ini. Meskipun demikian, para pelaku pasar tetap menyikapi dengan hati-hati, sembari terus mencermati potensi risiko perlambatan permintaan dari dua raksasa ekonomi Asia, yaitu India dan China.
Implikasi Dinamika Global bagi Pasar Domestik
Imam Gunadi menilai bahwa dinamika pasar global yang kompleks ini membawa implikasi yang beragam bagi pasar saham domestik. Di satu sisi, terjadi tekanan yang cukup terasa terhadap nilai tukar Rupiah dan memicu arus keluar dana asing dari pasar modal Indonesia. Namun, di sisi lain, situasi ini justru membuka peluang keuntungan yang menarik bagi saham-saham yang berbasis komoditas.
“Emiten yang bergerak di sektor energi dan CPO menjadi pihak yang paling diuntungkan dari tren kenaikan harga komoditas global yang sedang terjadi. Selain itu, emiten-emiten yang berorientasi pada pasar ekspor juga turut merasakan manfaat dari pelemahan nilai tukar Rupiah,” terang Imam.
Secara umum, pasar saham Indonesia dinilai masih berada dalam fase wait and see atau mengamati, dengan tingkat volatilitas yang cenderung tinggi. Hal ini disebabkan oleh belum adanya kepastian yang jelas terkait perkembangan konflik geopolitik global dan arah pergerakan harga energi di pasar internasional.
Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham Jangka Pendek
IPOT memproyeksikan pergerakan IHSG dalam jangka pendek cenderung bergerak mendatar atau sideways, dengan rentang pergerakan diperkirakan berada di antara level 6.745 hingga 7.323.
Memasuki pekan yang dimulai pada 1 April hingga 2 April 2026, para pelaku pasar akan terus mencermati sejumlah sentimen penting, baik dari kancah global maupun domestik. Salah satu agenda penting yang patut dicermati adalah pidato dari Ketua The Federal Reserve Amerika Serikat, Jerome Powell. Pernyataannya berpotensi memberikan arah yang jelas mengenai kebijakan suku bunga di masa mendatang, yang akan memiliki dampak luas bagi pasar keuangan global.
Selain itu, pasar juga menantikan rilis data-data ekonomi penting lainnya. Di antaranya adalah data manufaktur dari China, data inflasi domestik Indonesia, serta data ketenagakerjaan dari Amerika Serikat. Rilis data-data ini memiliki potensi kuat untuk memengaruhi arus dana yang masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam menghadapi kondisi pasar yang dinamis ini, IPOT memberikan sejumlah rekomendasi saham untuk strategi perdagangan jangka pendek.
- Sektor Energi: Investor dapat mencermati pergerakan saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dengan target harga yang dipatok pada Rp2.700.
- Sektor Energi: PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga direkomendasikan untuk dibeli saat terjadi penurunan harga atau buy on pullback, dengan target harga Rp3.240. Rekomendasi ini didukung oleh kombinasi eksposur perusahaan terhadap pasar global dan domestik.
- Sektor Agrikultur: PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dinilai sebagai pilihan menarik dengan target harga Rp1.415, seiring dengan prospek positif yang diperkirakan akan terus berlanjut pada harga CPO.
- Alternatif Defensif: Sebagai pilihan investasi yang lebih defensif, IPOT juga merekomendasikan reksadana yang berbasis indeks dividen tinggi, yaitu Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD) dengan target harga Rp678.


