Penemuan Bayi di Depan Masjid Sintang Mengundang Perhatian Masyarakat
Pada Minggu pagi, seorang bayi laki-laki ditemukan oleh warga di depan Masjid Shiratul Jannah Polres Sintang. Kejadian ini terjadi sekitar pukul 06.20 WIB di Jalan Bhayangkara. Awalnya, warga yang sedang menyapu teras rumah mengira suara tangisan itu berasal dari anak kucing. Namun, setelah diperiksa, ternyata ada bungkusan kain dan tas yang berisi seorang bayi mungil.
Di samping bayi tersebut, terselip sepucuk surat tulisan tangan yang membuat hati banyak orang tersentuh. Surat itu ditulis oleh ibu kandung bayi tersebut, yang mengaku terpaksa meninggalkan anaknya karena hidup seorang diri setelah ditinggalkan ayah bayi saat mengetahui dirinya hamil.
Penemuan dan Tindakan Petugas
Kapolres Sintang Sanny Handityo melalui Kasi Humas Polres Sintang Iptu Eko Budi Purwanto membenarkan adanya penemuan bayi tersebut. Menurutnya, kejadian pertama kali diketahui oleh seorang warga berinsial ID. Saat itu, ID sedang menyapu teras rumah dan mendengar suara tangisan kecil seperti suara anak kucing. Setelah dicek, ia menemukan bungkusan kain dan tas yang berisi bayi mungil.
Setelah mengetahui hal tersebut, suami ID segera melaporkan penemuan bayi itu ke Polres Sintang agar segera mendapat penanganan. Petugas kepolisian langsung mendatangi tempat kejadian perkara untuk melakukan pemeriksaan dan meminta keterangan sejumlah saksi. Selain itu, bayi tersebut juga langsung dibawa ke RSUD Ade M Djoen Sintang guna mendapatkan penanganan medis dan memastikan kondisi kesehatannya.
Surat yang Menyentuh Hati
Surat yang ditemukan bersama bayi tersebut menambah haru sekaligus pilu peristiwa penemuan bayi tersebut. Dalam surat itu, sang ibu memperkenalkan bayi dengan nama Rui dan meminta agar nama itu tidak diganti oleh siapa pun yang nantinya merawat sang bayi. Ia juga meminta agar bayi tersebut dirawat dengan baik dan tidak disebarluaskan di media sosial.
Dalam surat itu, sang ibu mengaku terpaksa menitipkan bayinya karena hidup seorang diri setelah ditinggalkan ayah sang bayi saat mengetahui dirinya hamil. Bahkan pada bagian akhir surat, penulis yang menandatangani dengan inisial EN itu meminta agar bayi tersebut tidak diberikan kepada orang lain lagi.
Tanggapan Pemerintah Daerah dan DPRD
Temuan itu memantik perhatian Wakil Bupati Sintang, Florensius Ronny. Ia menyampaikan rasa prihatin mendalam atas penemuan seorang bayi yang ditinggalkan di Jalan Bhayangkara tersebut. Ronny menegaskan bahwa pemerintah daerah akan memberikan perhatian terhadap kondisi bayi tersebut agar mendapatkan perawatan dan perlindungan yang baik.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak langsung memberikan penilaian negatif kepada ibu bayi tersebut sebelum mengetahui persoalan sebenarnya. “Kita harus melihat persoalan ini dengan hati nurani. Jangan mudah menghakimi. Bisa jadi ibunya berada dalam kondisi yang sangat sulit dan tidak memiliki dukungan,” ujarnya.
Ketua DPRD Sintang Indra Subekti juga tersentuh setelah mengetahui adanya sepucuk surat yang diduga ditulis oleh ibu bayi tersebut. Ia berharap pihak kepolisian tetap melakukan penyelidikan untuk memastikan keselamatan dan masa depan bayi tersebut. Ia juga meminta masyarakat tidak langsung menghakimi ibu sang bayi.
Pandangan Psikolog
Psikolog Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Dr Miftakhul Jannah SPsi MSi mengatakan tindakan membuang bayi merupakan fenomena yang kompleks dan sering kali berakar pada kondisi psikologis yang ekstrem. Dari sudut pandang psikologi, pelaku biasanya berada dalam kondisi mental yang tidak stabil atau mengalami tekanan hebat yang melumpuhkan kemampuan berpikir rasional.
Menurutnya, tindakan membuang bayi menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam diri pelaku, yang bisa berdampak jangka panjang. Jika seseorang tidak mampu menerima kenyataan menjadi ibu dan tidak mendapat dukungan dari lingkungan, maka kemungkinan besar akan muncul tindakan destruktif.
Ia menekankan pentingnya pendekatan psikologis terhadap pelaku. Hukuman saja tidak cukup. Mereka butuh social support agar bisa pulih dan tidak mengulangi perbuatannya. Budaya kita seharusnya menguatkan, bukan membiarkan.


















