Menjelajahi Titik Balik Pernikahan: Dinda Hauw dan Rey Mbayang Ungkap Perjuangan Lewati Rasa Cemburu dan Posesif
Pernikahan pasangan selebriti Dinda Hauw dan Rey Mbayang kini telah memasuki usia lima tahun. Selama kurun waktu tersebut, keduanya kerap tampil harmonis dan romantis di mata publik, diperlengkap dengan kehadiran dua buah hati yang semakin menyempurnakan kebahagiaan keluarga kecil mereka. Namun, di balik citra ideal tersebut, terkuak sebuah perjalanan emosional yang tak selalu mulus. Dinda Hauw baru-baru ini berbagi cerita mengenai fase sulit yang pernah ia alami di awal pernikahannya, sebuah periode yang membuatnya harus menempuh jalan hipnoterapi untuk menemukan kembali keseimbangan diri.
Fase Posesif dan Cemburu di Awal Pernikahan
Dinda Hauw mengakui bahwa di tahun-tahun awal pernikahannya, ia kerap dilanda rasa cemburu dan sifat posesif terhadap sang suami. Perasaan ini begitu kentara dan menjadi tantangan tersendiri dalam membangun kepercayaan.
“Mungkin kalau awal-awal nikah ada rasa takutnya, cuma makin kesini kaya yaudahlah serahin aja sama yang di atas,” ungkap Dinda saat berbincang dalam sebuah podcast. Ia menambahkan bahwa meski rasa cemburu masih ada sesekali, seiring berjalannya waktu, kedewasaan dan kepercayaan pada Sang Pencipta membantunya untuk lebih legowo. “Karena kan yang ngebentuk dia dan kasih hatinya dia untuk bagaimana kan yang diatas jadi aku serahin aja apapun yang terjadi yaulah,” tuturnya.
Proses saling percaya ini rupanya baru benar-benar terbangun setelah empat hingga lima tahun usia pernikahan. “Mulai percaya tahun ini kayaknya. Tahun keempat kelima lah yang udah mulai agak enakan. Kalau awal-awal tuh masih yang cemburu posesif,” jelas Dinda.
Hipnoterapi: Jalan Keluar dari Trauma dan Ketidakpercayaan
Sifat posesif yang dialami Dinda Hauw ternyata berakar dari pengalaman masa lalu. Ia mengaku pernah memiliki trauma yang membuatnya sulit untuk percaya pada laki-laki. “Aku posesif sampai hipnoterapi, karena mungkin aku pernah punya trauma jadi ngerasa gak terlalu banyak percaya sama laki-laki,” ujarnya.
Pengalaman masa lalu, termasuk cerita dari ibunya tentang sang ayah, turut membentuk pandangan Dinda terhadap laki-laki. Ia tumbuh dengan lebih berhati-hati dan terkadang merasa tidak percaya pada lawan jenis. “Bisa dibilang kaya gak percayalah sama laki-laki, apalagi aku juga kerja dari dulu jadi ngerasa kayak yaudah,” katanya.
Namun, setelah menikah dan memiliki tujuan untuk menjadi istri yang baik serta menjadikan pernikahan sebagai ibadah, Dinda bertekad untuk memperbaiki diri. Ia menyadari bahwa sifat-sifat negatif dalam dirinya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. “Tapi pas aku menikah dan tujuannya ibadah serta jadi istri yang baik makanya aku ngerasa kayak sifat-sifat yang buruk dari dalam diriku gak boleh ada. Aku ngerasa harus dikurangin, bahkan kalau boleh dikontrol dan dihilangkan,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal ini, Dinda memutuskan untuk menjalani hipnoterapi. Ia menjalani sesi hipnoterapi sebanyak dua kali dengan harapan dapat mengurangi rasa ketidakpercayaan dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Dukungan Rey Mbayang: Hipnoterapi Bersama untuk Memperkuat Hubungan
Tak hanya Dinda Hauw, Rey Mbayang pun turut serta dalam sesi hipnoterapi yang sama. Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan dan upaya bersama untuk memperkuat fondasi rumah tangga mereka.
“Kita berdua bareng hipnoterapi. Jadi bagaimana cara Dinda ke aku dan bagaimana aku juga ke dia karena pastikan aku banyak salahnya juga, jadi selagi tujuannya baik kita hipno bareng,” ujar Rey.
Rey menekankan bahwa metode ini bukan sebuah aib, melainkan cara bagi mereka untuk saling mengenal lebih dalam dan memperbaiki diri. “Itu bukan aib kan ya, itu cara setiap orang aja buat bisa lebih mengenal satu sama lain. Makanya kita selalu bilang kalau ada yang buat kesalahan antara kita berdua tuh jangan ada yang denial dan tidak menerima. Jadi kalau bikin kesalahan ya mengakui dan memperbaiki,” tutupnya.
Sesi hipnoterapi yang dijalani bersama psikolog yang sama ini terbukti memberikan manfaat besar bagi hubungan mereka. “Jadi aku juga works banget karena justru bukan percaya ke pasangannya, lebih ke emosi yang negatif dan gak baik buat diri kita,” kata Rey.
Melalui berbagai upaya dan komitmen yang telah mereka tunjukkan, Dinda Hauw dan Rey Mbayang membuktikan bahwa pernikahan yang harmonis memerlukan kerja sama, kepercayaan, dan kesediaan untuk terus belajar dan berkembang bersama.
Menjaga Batasan Profesional: Kesepakatan tentang Adegan Mesra dalam Akting
Sebagai pasangan yang sama-sama berprofesi di dunia seni peran, Dinda Hauw dan Rey Mbayang memiliki kesepakatan penting terkait batasan saat harus beradu akting dengan lawan jenis. Kesepakatan ini lahir dari kesadaran bersama, bukan karena paksaan dari salah satu pihak.
“Bukan aku ke Dinda, Dinda ke aku sih. Lebih ke rules ke kita sama kitanya sendiri,” tegas Rey Mbayang mengenai aturan main ini.
Dinda Hauw membenarkan adanya batasan tersebut dan mengungkapkan harapannya agar ke depannya mereka bisa terus bekerja bersama, terutama mengingat usia anak-anak mereka yang masih kecil. “Iya, soalnya kan ya pengennya kan apalagi anak-anak masih pada kecil kan. Jadi ya pengennya kalau bisa ya berdua gitu,” ungkapnya.
Namun, ia juga menyadari bahwa jika memang harus berakting dengan orang lain, mereka berdua sudah memiliki pemahaman mengenai batasan masing-masing. “Tapi kalaupun enggak, ya kita tahulah batasan masing-masingnya tuh seperti apa,” lanjut Dinda.
Garis Merah Adegan Intim
Dinda Hauw menjelaskan lebih lanjut mengenai batasan yang dimaksud. Adegan yang hanya melibatkan sentuhan tangan masih bisa ditoleransi. “Ya, mungkin kalau masih kayak bersentuhan-sentuhan yang tangan gitu mungkin masih kayak masih aman lah,” terangnya.
Namun, untuk adegan yang lebih intim seperti ciuman, Dinda Hauw secara tegas tidak mengizinkannya. “Tapi ya kalau untuk yang udah cium, yang… itu udah… (Nggak),” tegasnya.
Keputusan ini lebih didorong oleh keinginan untuk menjaga perasaan dan pemahaman anak-anak mereka kelak. “Mereka (anak-anak) akan terus bertumbuh dan lama-lama kan mengerti ya bagaimana cara kerja mamanya, tempat bekerjanya seperti apa gitu. Jadi kita lebih menjaga buat anak-anak aja sih,” jelas bintang film Surat Kecil untuk Tuhan itu.
Gaya Hidup Rumahan dan Kesadaran sebagai Orang Tua
Keharmonisan rumah tangga Dinda Hauw dan Rey Mbayang juga ditopang oleh gaya hidup mereka yang cenderung menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga. Hal ini secara alami mengurangi potensi konflik yang mungkin timbul.
“Karena kita tuh sebenarnya jarang, jarang juga sih, Kak. Soalnya memang anak rumahan, terus kedua tuh kita emang udah sama-sama kasih pengertian gitu loh,” beber Dinda Hauw.
Status sebagai orang tua juga membuat keduanya semakin sadar akan tanggung jawab yang mereka emban. “Kalau misalnya kita kayak gini tuh kita udah punya anak nih, jadi kita tahu nih harus gimana-gimana gitu. Jadi emang kita udah mawas diri masing-masing,” pungkasnya.

















