Upaya Pengendalian Hujan di Jakarta: Operasi Modifikasi Cuaca Dijalankan
Upaya strategis tengah dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi. Salah satu metode yang diterapkan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan, menegaskan bahwa tujuan utama dari operasi ini bukanlah untuk menghentikan hujan sepenuhnya di ibu kota.
“Kami tidak bisa menghentikan hujan di Jakarta,” jelas Yohan. “Yang kami lakukan adalah mengalihkan arah turunnya hujan ke lokasi yang telah ditentukan.” Pendekatan ini didasarkan pada prinsip ilmiah bahwa energi hujan, yang merupakan salah satu bentuk energi alam, tidak dapat dihilangkan, melainkan hanya dapat dialihkan.
Proses OMC melibatkan penggunaan pesawat khusus yang bertugas mengejar awan-awan yang berpotensi membawa hujan lebat. Setelah awan target teridentifikasi, dilakukanlah proses penebaran garam (Natrium Klorida atau NaCl). Seluruh tahapan ini telah dirancang dan dihitung secara cermat, bekerja sama dengan instansi terkait seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Seperti yang kami lakukan kemarin, sasaran kami adalah Selat Sunda,” ungkap Yohan. “Awan-awan yang berpotensi masuk ke wilayah Jawa Barat dan Jakarta, kami upayakan agar gugur di atas laut.” Dengan demikian, diharapkan hujan akan turun di perairan dan mengurangi potensi banjir serta genangan di wilayah daratan Jakarta.
Yohan juga memastikan bahwa proses OMC ini tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan alam. Hal ini dikarenakan seluruh kegiatan dilakukan sesuai dengan kaidah ilmiah dan perhitungan yang matang. Ia menambahkan, “OMC ini merupakan ilmu yang diberikan Tuhan, bukan untuk melawan kehendak-Nya. Ada hukum kekekalan energi, dan hujan adalah salah satu bentuk energi. Energi itu hanya bisa dialihkan, bukan dihilangkan. Jadi, tidak ada dampak negatif yang berarti.”
Detail Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca
BPBD DKI Jakarta telah memulai pelaksanaan OMC sejak Jumat, 16 Januari 2026. Operasi ini dirancang untuk mengantisipasi lonjakan potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi. Dalam pelaksanaannya, sedikitnya 1,6 ton garam (NaCl) telah disebar.
Serangkaian kegiatan OMC ini dijadwalkan berlangsung selama lima hari, terhitung mulai tanggal 16 hingga 20 Januari 2026. Pelaksanaan operasi ini bersifat terpadu, melibatkan kolaborasi erat antara BPBD DKI Jakarta, BMKG, dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU).
Pusat kegiatan operasi ini berlokasi di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Pesawat yang digunakan dalam operasi ini adalah pesawat jenis CASA 212 A-2105 yang merupakan aset milik TNI AU.
Hari Pertama Operasi: Fokus di Perairan
Pada hari pertama pelaksanaan, Jumat (16/1), operasi mencakup dua sorti penerbangan. Total bahan semai yang digunakan mencapai 1.600 kilogram garam (NaCl). Bahan tersebut disebar di wilayah perairan Selat Sunda. Tujuannya adalah untuk memicu gugurnya awan hujan di atas laut, sehingga presipitasi atau curah hujan terkonsentrasi di area perairan dan tidak mencapai daratan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Isnawa Adji, merinci jalannya operasi pada hari pertama.
Sorti Pertama:
- Dilaksanakan pada pukul 13.28 hingga 14.48 WIB.
- Sebanyak 800 kg NaCl disebar.
- Ketinggian terbang pesawat adalah antara 8.000 hingga 12.000 kaki.
- Fokus utama adalah mendukung pengendalian pertumbuhan awan hujan.
Sorti Kedua:
- Dilaksanakan pada pukul 15.40 hingga 17.30 WIB.
- Ketinggian terbang pesawat adalah 9.000 kaki.
- Jumlah bahan semai yang digunakan pada sorti ini juga seberat 800 kg NaCl.
Pelaksanaan OMC pada hari pertama ini secara spesifik berfokus pada penyemaian di wilayah perairan. Ini merupakan bagian integral dari strategi mitigasi dini yang dirancang untuk mengendalikan pertumbuhan awan hujan sebelum awan tersebut bergerak dan berpotensi menimbulkan hujan lebat di wilayah daratan Jakarta.


















