Presiden Prabowo Subianto melantik 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (2/10/2026). Salah satu nama yang masuk dalam jajaran tersebut adalah Ignasius Jonan. Penetapan itu merujuk pada Keputusan Presiden Nomor 107/P Tahun 2026 tentang pengangkatan keanggotaan Wantimpres. Dalam susunan baru ini, Pratikno dipercaya sebagai ketua dan Hatta Rajasa menjadi wakil ketua.
Jonan bukan nama baru di lingkaran pemerintahan maupun BUMN. Sebelum duduk di Wantimpres, ia pernah memimpin PT Kereta Api Indonesia, lalu masuk kabinet sebagai Menteri Perhubungan dan kemudian Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Rekam jejak itulah yang membuatnya dikenal sebagai birokrat dengan pengalaman panjang di sektor transportasi dan energi.
Pria kelahiran Singapura, 21 Juni 1963, itu menempuh pendidikan menengah di SMA Katholik St. Louis 1 Surabaya. Ia lalu masuk Program Studi S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga pada 1982 dan lulus pada 1986. Setelah itu, Jonan juga menimba ilmu di Fletcher School, Universitas Tufts, Amerika Serikat. Di luar karier publik, ia menikah dengan Ratnawati dan dikaruniai dua anak, Monica dan Caterine.
Nama Jonan mulai menonjol saat dipercaya menjadi Direktur Utama PT KAI pada 2009 oleh Menteri BUMN kala itu, Sofyan Djalil. Saat itu, ia belum memiliki latar belakang di bisnis transportasi rel, tetapi kinerjanya justru mengubah wajah perusahaan. Dari rugi Rp83,5 miliar pada 2008, KAI berbalik mencetak laba Rp154,8 miliar pada 2009. Pada 2013, laba perusahaan tercatat mencapai Rp560,4 miliar, sementara asetnya naik dari Rp5,7 triliun menjadi Rp15,2 triliun dalam periode yang sama.
Selama memimpin KAI, Jonan juga mendorong perubahan layanan yang dirasakan langsung penumpang. Ia menertibkan calo tiket lewat boarding pass, penjualan daring, dan kerja sama dengan toko ritel. Toilet stasiun digratiskan dan jumlahnya ditambah, kereta mulai dilengkapi pendingin udara, serta larangan merokok diperketat. Peremajaan armada juga dilakukan, termasuk kedatangan 100 lokomotif seri CC206 untuk angkutan barang dan penumpang di Jawa. Ketegasannya bahkan membuat sekitar 200 pegawai KAI dipecat atau pensiun dini pada 2014 karena dianggap tidak disiplin.
Setelah berkarier di BUMN, Jonan masuk kabinet Kabinet Kerja sebagai Menteri Perhubungan pada 27 Oktober 2014. Pada hari pertamanya, ia menolak pengawalan voorrijder dan memberi tugas kepada penerusnya di KAI, Edi Sukmoro, untuk menaikkan kapasitas angkutan kereta dan barang dalam lima tahun. Ia juga berjanji merampungkan konsep tol laut dalam dua pekan serta menerapkan piket akhir pekan di lingkungan kementerian. Jonan kemudian digeser dari posisi itu pada 27 Juli 2016 dan digantikan Budi Karya Sumadi. Tak lama berselang, pada 14 Oktober 2016, Presiden Joko Widodo menempatkannya sebagai Menteri ESDM bersama Arcandra Tahar sebagai wakil menteri. Jabatan itu ia emban hingga 2019 sebelum kemudian menjadi komisaris di sejumlah perusahaan, sampai akhirnya kini masuk Wantimpres.
Sumber: www.idntimes.com




