Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan belum lepas dari tekanan pada perdagangan Jumat, 2 Oktober. Sejumlah analis menilai pergerakannya masih rawan melemah, meski ruang untuk pemantulan teknikal tetap terbuka. Proyeksi yang muncul hari ini menempatkan IHSG di kisaran 5.851-5.647, setelah pada penutupan Kamis, 1 Oktober, indeks turun 61,64 poin atau 1,02 persen ke level 6.009,50.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menyebut indikator teknikal masih memberi sinyal negatif. Namun, ia menyoroti adanya kenaikan volume transaksi yang membuat peluang rebound belum sepenuhnya tertutup. Menurut dia, kondisi pasar untuk hari ini cenderung mixed-to-bearish.
Dari pasar global, sentimen dinilai masih relatif mendukung aset berisiko. Salah satu pemicunya adalah penurunan imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun sebesar 1,22 persen menjadi 5,246 persen. Pelemahan yield tersebut kerap dibaca sebagai ruang yang lebih nyaman bagi ekuitas untuk bangkit kembali, setidaknya secara teknikal.
Di sisi domestik, pasar juga masih mencerna dampak reshuffle kabinet yang dilakukan pada Kamis, 1 Oktober. Perubahan itu disebut menambah ketidakpastian jangka pendek karena investor perlu menilai arah lanjutan kebijakan fiskal, investasi, hilirisasi, daya beli, serta koordinasi antara kementerian dan Bank Indonesia.
Nafan juga mengingatkan faktor nilai tukar rupiah. Pada perdagangan Kamis, mata uang rupiah ditutup melemah sekitar 0,40 persen ke posisi Rp17.966 per dolar AS. Pergerakan rupiah ini menjadi salah satu variabel yang ikut memengaruhi sentimen pasar saham pada sesi berikutnya.
Untuk perdagangan Jumat, Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan saham BRIS, BULL, dan TINS. Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak melemah dalam rentang 5.850-5.911. Dalam analisisnya, MNC menilai posisi indeks masih berada pada bagian wave c dari wave (y), sehingga area koreksi tersebut perlu dicermati investor.
Adapun saham yang masuk daftar pantauan MNC Sekuritas pada hari ini adalah ASII, ARCI, BMRI, dan BULL. Meski arah indeks masih dibayangi tekanan, analis menilai pergerakan pasar tetap bisa berubah jika sentimen global dan domestik bergerak lebih stabil.
Sumber: kumparan.com




