Jakarta, Kamis (1/10), menjadi hari yang berat bagi pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir turun 1,02 persen ke posisi 6.009, di tengah sorotan investor terhadap perombakan sejumlah pejabat setingkat menteri di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pelemahan indeks itu terjadi bersamaan dengan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan arah kebijakan ekonomi setelah perubahan susunan kabinet.
Sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat bergerak naik-turun cukup lebar. Pada pembukaan, IHSG berada di 6.062,89, lalu menyentuh titik terendah 5.973,16 sebelum sempat mencapai 6.095,23. Meski ada upaya pemulihan, tekanan jual tetap lebih dominan hingga penutupan. Kondisi ini tercermin dari pergerakan mayoritas saham, dengan 450 saham berakhir di zona merah, 206 saham menguat, dan 134 saham tidak berubah.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa pasar biasanya menilai reshuffle bukan hanya dari pergantian nama pejabat, tetapi dari sosok yang dipilih serta arah kebijakan yang akan dibawa. Menurut dia, efek awal reshuffle cenderung memunculkan gejolak karena investor perlu membaca ulang koordinasi antarkementerian, kelanjutan program fiskal, dan dampaknya terhadap agenda ekonomi. Ia menilai, pada fase awal, pasar lebih sensitif terhadap ketidakpastian dibandingkan terhadap perubahan itu sendiri.
“Dalam jangka pendek, reshuffle dapat meningkatkan volatilitas karena pasar perlu menilai kembali arah kebijakan, koordinasi antarkementerian, serta implikasinya terhadap program fiskal dan ekonomi,” ujar Nafan kepada JawaPos.com, Kamis (1/10). Ia menambahkan, bila perubahan tersebut dipandang mampu memperkuat efektivitas pemerintahan dan menjaga kesinambungan kebijakan, maka efeknya bisa lebih positif dalam jangka menengah. Bagi investor, kata dia, yang paling dibutuhkan saat ini adalah kejelasan arah kebijakan, bukan sekadar pergantian komposisi kabinet.
Dari sisi perdagangan, aktivitas di bursa terbilang besar. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp10,57 triliun dengan volume 32,13 miliar saham. Dari 11 sektor yang diperdagangkan, hanya sektor energi yang masih mampu bertahan di jalur positif dengan kenaikan 0,31 persen.
Kontributor pelemahan terbesar datang dari sektor teknologi yang turun 3,93 persen. Di belakangnya, sektor transportasi terkoreksi 2,02 persen dan sektor barang baku melemah 1,99 persen. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen politik dan ekonomi yang muncul pada hari yang sama langsung memengaruhi selera risiko pelaku pasar, meski dampak jangka panjangnya masih akan bergantung pada arah kebijakan pemerintah setelah reshuffle.
Sumber: jawapos.com




