Inflasi Sulawesi Utara Capai 3,04 Persen di Awal 2026, Manado Jadi Penyumbang Tertinggi
Manado – Sulawesi Utara (Sulut) mencatatkan angka inflasi sebesar 3,04 persen secara year on year (y-on-y) pada Januari 2026. Angka ini tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang berada di level 109,33. Fenomena inflasi, yang merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan, terus menjadi perhatian ekonomi di berbagai daerah, termasuk Sulut.
Inflasi dapat dipicu oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan mekanisme pasar. Peningkatan konsumsi masyarakat, kelebihan likuiditas di pasar yang mendorong belanja atau spekulasi, serta hambatan dalam distribusi barang, semuanya dapat berkontribusi terhadap kenaikan harga. Selain itu, ketidakstabilan ekonomi secara keseluruhan dan fluktuasi tingkat penjualan juga memegang peranan penting dalam memunculkan fenomena inflasi, yang pada dasarnya merupakan penurunan nilai mata uang secara kontinu.
Di antara wilayah di Sulawesi Utara, Kota Manado menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi, mencapai 4,05 persen dengan IHK sebesar 108,22. Sementara itu, Kabupaten Minahasa Selatan mencatat inflasi terendah, yakni hanya 0,99 persen, dengan IHK di angka 109,67. Perbedaan signifikan ini menunjukkan adanya dinamika harga yang bervariasi antar daerah di Sulut.
Agus Sudibyo, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, menjelaskan bahwa inflasi y-on-y di provinsi ini sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga pada beberapa kelompok pengeluaran.
Kelompok Pengeluaran yang Mendorong Inflasi:
- Makanan, Minuman, dan Tembakau: Kelompok ini mengalami kenaikan sebesar 1,48 persen. Kenaikan ini sangat dipengaruhi oleh beberapa komoditas penting.
- Perumahan, Air, Listrik, Bahan Bakar Rumah Tangga: Kelompok ini mencatat kenaikan yang cukup signifikan sebesar 12,20 persen.
- Kesehatan: Mengalami kenaikan sebesar 0,92 persen.
- Pendidikan: Mencatat kenaikan yang cukup tinggi, yaitu 9,68 persen.
- Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran: Mengalami kenaikan sebesar 0,80 persen.
- Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya: Kelompok ini menunjukkan kenaikan tertinggi, yaitu 13,01 persen.
Sementara itu, beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan indeks, yang secara tidak langsung membantu menahan laju inflasi secara keseluruhan.
Kelompok Pengeluaran yang Mengalami Penurunan Indeks:
- Pakaian dan Alas Kaki: Mengalami penurunan sebesar 3,23 persen.
- Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga: Turun sebesar 1,10 persen.
- Transportasi: Mencatat penurunan sebesar 0,85 persen.
- Informasi, Komunikasi, Jasa Keuangan: Mengalami penurunan tipis sebesar 0,19 persen.
- Rekreasi, Olahraga, dan Budaya: Menunjukkan penurunan sebesar 3,14 persen.
Lebih lanjut, Agus Sudibyo juga merinci tingkat inflasi secara month to month (m-to-m) dan year to date (y-to-d) di Sulawesi Utara pada Januari 2026, yang tercatat sebesar 0,67 persen.
Komoditas Pendorong dan Penahan Inflasi:
Data BPS juga mengidentifikasi komoditas spesifik yang menjadi pendorong utama inflasi di Sulut pada Januari 2026.
- Pendorong Inflasi:
- Tomat: Harga tomat melonjak akibat keterbatasan stok pascapanen dan cuaca hujan yang mempengaruhi kualitas pasokan dari daerah seperti Minahasa dan Minahasa Selatan.
- Ikan Cakalang/Ikan Sisik: Aktivitas melaut nelayan terganggu oleh kondisi cuaca yang buruk, menyebabkan penurunan produksi tangkapan dan pasokan ikan ke pasar.
- Emas Perhiasan: Kenaikan harga emas perhiasan mengikuti pergerakan harga emas global yang terus menanjak hingga mencapai US$ 5.000 per troy ons pada Januari 2026.
- Ikan Malalugis dan Ikan Tude: Kenaikan harga komoditas ikan lainnya juga turut berkontribusi pada inflasi.
Sementara itu, beberapa komoditas berhasil menahan laju inflasi berkat ketersediaan pasokan yang melimpah.
- Penahan Inflasi:
- Cabai Rawit: Stok yang melimpah dari musim panen di sentra produksi seperti Minahasa dan Minahasa Utara, ditambah pasokan dari Gorontalo, menyebabkan harga cabai rawit menurun.
- Bawang Merah: Ketersediaan pasokan yang baik turut menekan harga bawang merah.
- Angkutan Udara: Penurunan tarif tiket pesawat membantu menurunkan indeks pada kelompok transportasi.
- Cabai Merah: Sama seperti cabai rawit, ketersediaan pasokan yang baik membantu menahan kenaikan harga cabai merah.
- Telur Ayam Ras: Produksi telur ayam ras yang stabil menjaga harga tetap terkendali.
Fenomena inflasi di bulan Januari ini menunjukkan kompleksitas faktor-faktor yang memengaruhinya, mulai dari kondisi alam, pola produksi, hingga pergerakan pasar global.
Sekilas tentang Sulawesi Utara
Sulawesi Utara (Sulut) merupakan provinsi yang berlokasi di ujung utara Pulau Sulawesi, Indonesia. Ibu kotanya adalah Kota Manado. Provinsi ini memiliki batas geografis yang strategis: di sebelah timur berbatasan dengan Laut Maluku dan Samudra Pasifik, di sebelah selatan dengan Laut Maluku dan Teluk Tomini, di sebelah barat dengan Laut Sulawesi dan Provinsi Gorontalo, serta di sebelah utara dengan Provinsi Davao Occidental.
Pada akhir tahun 2024, populasi Sulawesi Utara tercatat sebanyak 2.645.291 jiwa, dengan luas wilayah mencapai 13.892,47 kilometer persegi. Provinsi ini memiliki karakteristik geografis yang unik, termasuk gugusan kepulauan yang terdiri dari 287 pulau, di mana 59 di antaranya telah dihuni.
Secara administratif, Sulawesi Utara terbagi menjadi 4 kota dan 11 kabupaten, dengan total 1.664 desa atau kelurahan. Wilayahnya dapat dibagi menjadi dua zona utama: zona selatan yang didominasi oleh dataran rendah dan dataran tinggi, serta zona utara yang mencakup wilayah kepulauan.
Potensi ekonomi Sulawesi Utara juga didukung oleh zona ekonomi eksklusif seluas 190.000 kilometer persegi, garis pantai sepanjang 2.395,99 kilometer, dan luas kawasan hutan sekitar 701.885 hektare. Keberadaan banyak gunung berapi di wilayah ini, akibat lokasinya yang berada di tepian Lempeng Sunda, menambah keragaman geologisnya.


