Penguatan Integrasi Ekosistem Omnichannel Mendorong Pertumbuhan Pendapatan Blibli
Jakarta — Penguatan integrasi ekosistem omnichannel telah memberikan dampak signifikan terhadap kinerja keuangan PT Global Digital Niaga Tbk. (Blibli). Hal ini terbukti dari pertumbuhan pendapatan yang mencatatkan angka yang mengesankan sepanjang tahun lalu, sekaligus meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Dalam laporan keuangannya, emiten Grup Djarum dengan kode saham BELI tersebut mencatatkan pendapatan neto konsolidasi senilai Rp22,36 triliun pada 2025, tumbuh sebesar 34% secara year-on-year (YoY) dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan omzet ini sangat didorong oleh tingginya volume penjualan smartphone melalui saluran omnichannel.
Blibli juga mencatatkan take rate sebesar 8,5%, yang lebih tinggi dibandingkan capaian pada 2024 yang mencapai 6,9%. Pada kuartal IV/2025, capaian take rate bahkan mencapai 8,7% karena didukung oleh peningkatan di segmen Ritel 1P dan Toko Fisik. Hal ini menjadi hasil dari pertumbuhan laba bruto sebelum diskon yang naik sebesar 32% sepanjang tahun.
Di sisi lain, Blibli menunjukkan struktur biaya yang lebih baik. Persentase beban operasional konsolidasi terhadap TPV turun dari 7,4% pada 2024 menjadi 7,1% pada 2025. Capaian ini turut meningkatkan persentase EBITDA konsolidasi terhadap TPV sebesar 60 bps secara YoY.
Strategi Kepemimpinan dan Fokus pada Ekosistem Omnichannel
Kusumo Martanto, CEO & Co-Founder Blibli, menyatakan bahwa 2025 menjadi langkah maju yang tegas bagi perusahaan. Progres positif ini dicapai meskipun Indonesia menghadapi tren moderasi konsumsi rumah tangga, tekanan daya beli konsumen, serta persaingan ketat di sektor e-commerce.
“Kami tetap fokus pada hal yang paling penting yakni membangun ekosistem omnichannel yang terintegrasi dan mampu bertahan untuk menciptakan nilai bagi pelanggan, mitra pemegang merek, serta pemegang saham,” ujarnya.
Selama tahun lalu, integrasi ekosistem Blibli berkembang secara signifikan. Implementasi penuh Keanggotaan Terpadu dan Program Loyalitas Terpadu di semua platform seperti Blibli, tiket.com, Ranch Market, dan Dekoruma menjadi salah satu faktor utama dalam pertumbuhan ini.
Perluasan Jaringan Toko Fisik dan Pengembangan Ekosistem
Blibli memperluas kehadiran di segmen toko fisik dengan menambah 34 toko baru pada kuartal keempat tahun lalu. Hingga akhir 2025, perseroan telah mengoperasikan 265 toko elektronik konsumen, empat toko elektronik rumah tangga, dan satu toko fesyen dan olahraga. Selain itu, Blibli juga mengelola 57 gerai supermarket premium dan 39 home and living experience centers.
“Kami meningkatkan pendapatan secara signifikan sekaligus meningkatkan kinerja profitabilitas kami. Ini kombinasi yang mencerminkan kualitas eksekusi kami, bukan sekadar pertumbuhan skala itu sendiri,” kata Kusumo.
Perusahaan terus melakukan pergeseran ke berbagai kategori dengan margin lebih tinggi dan memiliki diferensiasi kompetitif. Hal ini membuahkan hasil melalui perluasan pangsa pasar, sementara peningkatan skala strategi omnichannel telah meningkatkan laba bruto sebelum diskon secara absolut serta throughput ekosistem secara keseluruhan.
Kemajuan Integrasi Ekosistem Blibli Tiket
Integrasi ekosistem Blibli Tiket mengalami kemajuan yang signifikan. Peluncuran penuh Keanggotaan Terpadu dan Blibli Tiket Rewards yang kini menghubungkan Blibli, tiket.com, Ranch Market, dan Dekoruma dalam satu kerangka keterlibatan telah memperdalam hubungan dengan pelanggan di berbagai platform dan titik kontak.
Dekoruma, pada tahun penuh pertamanya dalam ekosistem, memberikan kontribusi yang signifikan pada kategori home & living serta memperluas jangkauan omnichannel. Kusumo menjelaskan bahwa hal ini bukanlah inisiatif yang terisolasi, melainkan saling terkait yang akan semakin berkembang seiring pertumbuhan ekosistem.
Penguatan Jaringan Ritel Fisik dan Penerapan Teknologi
Untuk kehadiran ritel secara fisik, perseroan telah memperluas jaringan toko elektronik konsumen dan toko elektronik rumah tangga, baik dalam format merek-tunggal maupun multi-merek. Ekspansi ini memperdalam penetrasi perseroan ke kota-kota tingkat 2 dan 3, memperkuat jangkauan distribusi hingga ke pelosok, serta berkontribusi pada peningkatan pangsa pasar yang signifikan di seluruh kemitraan merek utama.
Jaringan fisik tetap menjadi pusat proposisi nilai secara keseluruhan yang memposisikan perseroan sebagai mitra omnichannel komprehensif bagi mitra pemegang merek. Blibli terus memperdalam penerapan analitik data, otomatisasi, dan kecerdasan buatan di seluruh organisasi. Beberapa contoh yang menonjol adalah seleksi produk, peramalan permintaan, dan operasi layanan pelanggan.
“Ini adalah peningkatan struktural dalam cara kami beroperasi, di mana hal ini menurunkan biaya per pesanan, mempertajam pengambilan keputusan, dan meningkatkan skala volume usaha. Dikombinasikan dengan disiplin biaya yang berkelanjutan di seluruh organisasi, hal ini mendukung peningkatan efisiensi operasional kami yang berkelanjutan,” jelasnya.
Tantangan di Tahun 2026 dan Target Pertumbuhan
Kusumo meyakini bahwa 2026 akan tetap penuh dengan tantangan. Pertumbuhan konsumsi Indonesia telah melambat, konsumen tetap selektif, dan intensitas persaingan di sektor e-commerce tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
“Kami tidak kebal terhadap tekanan ini. Namun, kami percaya bahwa model omnichannel terintegrasi kami yang menjangkau konsumen secara daring, di toko, dan melalui perjalanan hybrid sangat cocok untuk menavigasi lanskap ini serta menangkap nilai seiring berkembangnya pasar.”
Sementara itu, Chief Financial Officer Blibli Ronald Winardi mengungkapkan kontribusi yang positif di seluruh segmen, khususnya di kategori elektronik konsumen serta perluasan berkelanjutan ekosistem omnichannel.
“Kami menargetkan pertumbuhan pendapatan neto sebesar 15%–20% pada 2026.”




