Pemerintah Membuka Tender 118 Wilayah Kerja Migas, Hanya 8 yang Terkontrak
Pemerintah Indonesia telah membuka tender untuk 118 Wilayah Kerja (WK) migas baru. Namun, hingga saat ini hanya 8 WK yang berhasil terkontrak. Ini menjadi perhatian khusus karena target produksi minyak nasional yang ingin dicapai pada tahun 2029 mendatang adalah sebesar 1 juta barel per hari.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mendorong peningkatan produksi migas nasional. Menurut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, pihaknya membuka lelang secara umum, tanpa adanya negosiasi di belakang meja. Ia menekankan bahwa siapa pun dapat mengikuti lelang selama memiliki teknologi, dana, dan keseriusan dalam mengelola hasil yang ada.
Komitmen Investasi dan Potensi Sumber Daya
Hingga Mei 2026, Kementerian ESDM telah mengidentifikasi sebanyak 118 WK migas potensial. Dari jumlah tersebut, 43 wilayah masih berada pada tahap studi bersama, sementara 50 wilayah masuk tahap penawaran studi serta akuisisi data baru. Sementara itu, sebanyak 25 wilayah kerja telah menandatangani kontrak. Jumlah tersebut termasuk delapan WK hasil lelang tahun 2025 yang penandatanganan kontraknya disaksikan langsung oleh Menteri ESDM.
Secara kumulatif, delapan WK migas yang telah terkontrak berhasil mengamankan total komitmen pasti sebesar US$ 57,95 juta dan bonus tanda tangan mencapai US$ 3,15 juta. Estimasi sumber daya dari kedelapan WK ini mencapai 255 juta barel minyak dan 13,79 TCF gas.
Daftar Delapan WK Migas yang Telah Terkontrak
Berikut adalah daftar delapan WK migas yang telah terkontrak:
-
WK Gagah: Berada di wilayah onshore Sumatera Selatan dengan potensi sumber daya mencapai 173 juta barel minyak dan 1,1 Trillion Cubic Feet (TCF) gas. Nilai komitmen pasti sebesar US$ 4,25 juta serta bonus tanda tangan US$ 300 ribu.
-
WK Bintuni: Di kawasan onshore dan offshore Papua Barat, memiliki potensi 2,1 TCF gas. Komitmen pasti mencapai US$ 16,55 juta dan bonus tanda tangan US$ 1,25 juta.
-
WK Karunia: Berada di onshore dan offshore Sumatera Utara serta Riau, memiliki potensi 82 juta barel minyak dan 0,13 TCF gas. Nilai komitmen pasti sebesar US$ 9,9 juta serta bonus tanda tangan US$ 300 ribu.
-
WK Drawa: Di offshore Papua Barat dan Papua Barat Daya, memiliki potensi 0,36 TCF gas. Komitmen pasti US$ 6,45 juta dan bonus tanda tangan US$ 200 ribu.
-
WK Jalu: Di offshore Laut Andaman, potensi sumber dayanya diperkirakan mencapai 2,9 TCF gas. Komitmen pasti US$ 6,6 juta dan bonus tanda tangan US$ 300 ribu.
-
WK Southwest Andaman: Di offshore Laut Andaman, diproyeksikan memiliki sumber daya potensial sebesar 3 TCF gas. Komitmen pasti sebesar US$ 8,2 juta serta bonus tanda tangan US$ 300 ribu.
-
WK Barong: Di offshore Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, memiliki potensi 2,9 TCF gas. Komitmen pasti US$ 2,5 juta dan bonus tanda tangan US$ 200 ribu.
-
WK Nawasena: Di wilayah onshore dan offshore Jawa Timur, diperkirakan menyimpan potensi 1,3 TCF gas. Komitmen pasti US$ 3,5 juta dan bonus tanda tangan US$ 300 ribu.
Tantangan dan Pesimisme dari IATMI
Meskipun ada progres, Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) menunjukkan pesimisme terhadap sisa tender WK migas. Menurut Sekretaris Jenderal IATMI, Hadi Ismoyo, investasi yang diraih masih relatif kecil di tengah persaingan pendanaan global yang mulai beralih ke proyek energi hijau.
Ia juga menyatakan bahwa tingkat risiko negara (country risk) Indonesia masih relatif tinggi, sehingga iklim investasi tidak terlalu mendukung. Hal ini membuat daya tarik investasi hulu migas di dalam negeri dinilai kalah bersaing dengan negara lain.
Lebih lanjut, Hadi mengatakan bahwa dampak terhadap industri penunjang domestik seperti jasa fabrikasi, perkapalan, dan logistik lokal belum signifikan. “Akan berpengaruh, namun jangan berharap banyak dengan angka investasi yang hanya sebesar itu,” katanya.
Target Produksi Minyak Nasional
Langkah pemerintah dalam membuka tender WK migas ini diarahkan untuk mendukung target produksi minyak nasional sebesar 900.000 hingga 1 juta barel minyak per hari (bopd) pada tahun 2029 mendatang. Namun, pencapaian target ini akan bergantung pada seberapa besar minat investor terhadap sisa tender WK migas yang tersisa.



















