Iran-Israel: Masih Jadi Krisis Utama Dunia?

Diposting pada

Konflik antara Iran dan Israel tidak hanya menjadi isu regional, tetapi juga memengaruhi dinamika geopolitik global. Meski berbagai upaya diplomasi dan gencatan senjata telah dilakukan, krisis ini terus menghiasi pemberitaan internasional. Dari serangan udara hingga perang proxy, konflik ini menunjukkan bahwa ketegangan antara dua negara ini masih menjadi ancaman utama bagi stabilitas dunia.

Perkembangan Terkini dalam Konflik

Pada 21 Juni 2025, Amerika Serikat secara resmi bergabung dengan Israel dalam konflik udara melawan Iran, menandai eskalasi signifikan dalam Perang Iran–Israel. Berdasarkan laporan BBC, Presiden Trump memerintahkan serangan udara langsung terhadap tiga situs nuklir utama Iran: Fordow, Natanz, dan Isfahan menggunakan bom bunker-buster dan rudal Tomahawk, menyatakan bahwa AS kini bertindak “sebagai rekan tempur penuh di pihak Israel”. [47] [48] [49]

Dalam hitungan jam, Iran melancarkan Operasi True Promise III menjawab serangan Israel yang menewaskan komandan senior IRGC, ilmuwan nuklir, dan warga sipil termasuk anak-anak. Selama gelombang awal hingga gelombang ke-10, IRGC menjalankan serangkaian serangan besar: puluhan misil balistik dan rudal hipersonik Fattah-1, serta ratusan drone yang diarahkan ke pangkalan udara, pusat intelijen, dan kota-kota Israel seperti Tel Aviv, Yerusalem, Haifa, bahkan situs-situs strategis di Bat Yam dan Herzliya. [39] Israel menyatakan telah menguasai ruang udara di atas Teheran dan berjanji akan terus melakukan serangan hingga ancaman nuklir Iran dinetralisir. [40]

Kekerasan dan Korban Jiwa

Perang Iran–Israel atau dikenal dengan Perang 12 Hari adalah konflik bersenjata besar yang mulai berlangsung pada 13 Juni 2025, ketika Israel melancarkan serangan udara dan operasi-intelijen luas yang diberi sandi Operasi Rising Lion. Serangan udara ini menargetkan puluhan lokasi di Iran, termasuk fasilitas nuklir (Natanz, Isfahan, Fordow), kompleks rudal, markas militer, dan lapisan bawah tanah, dengan tujuan menghentikan perkembangan program nuklir Iran dan melumpuhkan kapabilitas pertahanan strategisnya. [34] [35] [36] Serangan ini tanpa melibatkan pertempuran darat. Dipersiapkan selama bertahun-tahun oleh Mossad dan militer Israel, Operasi Rising Lion juga dibantu oleh drone berawak ringan dan perangkat AI untuk menentukan target kunci, termasuk ilmuwan nuklir dan komandan IRGC, yang sebagian besar tewas dalam serangan ini. [34] [37]

Sementara itu, korban jiwa dari serangan tersebut sangat besar. Sumber AP News melaporkan bahwa setidaknya 585 orang telah tewas dan lebih dari 1.300 terluka; infrastruktur terganggu, terjadi pemadaman listrik, kekurangan bahan bakar, dan rak-rak toko kosong berkontribusi pada gelombang pengungsian dari Teheran. [41]

Dampak Global dari Konflik

Ketegangan ini mencapai titik kritis pada malam 12–13 Juni. Israel melancarkan operasi rahasia “Operation Rising Lion”, yang dimulai dengan infiltrasi Mossad menggunakan drone kamikaze yang diluncurkan dari pangkalan tersembunyi di dalam Iran, yang menonaktifkan sistem pertahanan udara dan peluncur rudal permukaan ke permukaan. [70] Tepat pada 13 Juni malam, IAF meluncurkan serangkaian serangan udara dan rudal jet tempur terhadap lokasi-lokasi strategis seperti fasilitas Natanz, Fordow, depot misil Shahab dan Isfahan, serta menargetkan sejumlah komandan IRGC. [71]

Di sisi lain, kebijakan Iran terhadap program nuklirnya juga menjadi perhatian internasional. Kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada Juli 2015 menjadi babak baru, menetapkan batas pengayaan (maksimum 3,67 % U-235), pengurangan stok uranium, dan pengawasan intensif oleh IAEA sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi. [57] [58] Namun, keluarnya sepihak AS dari JCPOA pada Mei 2018 kembali memicu peningkatan aktivitas nuklir Iran. Di antaranya pengayaan hingga 60 % dan pembalakan pelaksanaan protokol tambahan. [58] Menurut laporan IAEA dan intelijen AS–Uni Eropa, meski Iran telah menyisihkan batasan teknis tersebut, belum ada bukti yang meyakinkan tentang pengembangan senjata nuklir aktif; Iran tetap dinilai sebagai “threshold state” yang memiliki potensi, bukan kapabilitas langsung. [59]

Hubungan Historis Antara Iran dan Israel

Sebelum 1979, hubungan Iran–Israel relatif hangat dan bersifat strategis, meskipun tidak sepenuhnya terbuka. Iran Pahlavi di bawah pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi menjadi negara Muslim kedua (setelah Turki) yang mengakui Israel sebagai negara berdaulat pada 1950. [50] Kedua negara tersebut terjalin kerja sama penting berupa perdagangan, energi, dan militer. Iran memasok minyak ke Israel, termasuk melalui proyek pipa Eilat – Ashkelon pada periode 1960-an dan 1970-an. Selain itu, Israel membantu Iran dalam pembangunan intelijen SAVAK dan proyek militer rahasia seperti Project Flower hingga 1979 yang mencakup pengembangan misil dengan komponen Israel dan AS. [51]

Namun, situasi berubah drastis setelah Revolusi Islam tahun 1979. Iran mulai memandang Israel sebagai ancaman terbesar, sementara Israel melihat Iran sebagai ancaman nuklir. Sejak saat itu, hubungan antara keduanya semakin tegang dan berujung pada konflik yang berkepanjangan.

Pertanyaan yang Muncul

Meski ada upaya diplomatik dan gencatan senjata, apakah krisis antara Iran dan Israel benar-benar bisa diselesaikan? Apakah partisipasi AS dalam konflik ini akan memperparah situasi? Bagaimana dampak jangka panjang dari serangan udara dan perang nuklir yang terjadi?

Gambar Gravatar
Hidayat merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan