Warga Israel memasuki masa kampanye dengan peta politik yang terbelah menjelang pemilu Knesset pada 27 Oktober 2026. Pemungutan suara itu berpotensi mengakhiri dominasi panjang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, namun hasil akhirnya masih jauh dari pasti karena tidak ada blok yang tampak mampu meraih mayoritas sendiri.
Survei Channel 13 yang dikutip The Guardian pada Jumat, 2 Oktober, menempatkan kubu oposisi sedikit unggul dengan proyeksi 52 kursi. Di sisi lain, blok pendukung Netanyahu diperkirakan mengantongi 51 kursi. Angka itu masih belum cukup untuk melewati batas 61 kursi dari total 120 kursi Knesset yang dibutuhkan agar sebuah koalisi dapat memerintah tanpa dukungan tambahan.
Di antara partai-partai yang disorot dalam jajak pendapat itu, Gadi Eisenkot lewat Partai Yashar muncul sebagai kekuatan paling menonjol dengan proyeksi 22 kursi. Likud, partai yang dipimpin Netanyahu, berada di bawahnya dengan perkiraan 18 kursi. Komposisi ini memperlihatkan bahwa persaingan tidak hanya terjadi antara dua kubu besar, tetapi juga di dalam blok yang lebih luas yang bisa menentukan arah koalisi berikutnya.
Perpecahan di kalangan pemilih Israel terlihat semakin jelas. Sebagian masih memberikan dukungan kepada Netanyahu dan spektrum kanan yang selama ini menjadi basis politiknya. Namun, kelompok lain menilai sudah saatnya terjadi pergantian kepemimpinan, terutama setelah perang yang memengaruhi kehidupan sehari-hari dan memunculkan tekanan baru pada bidang ekonomi serta urusan sosial.
Selain soal kepemimpinan, sejumlah pemilih juga menyoroti perlunya perubahan kebijakan pemerintah dalam beberapa isu utama. Di antaranya adalah keamanan, kondisi ekonomi, kewajiban militer, dan hubungan dengan warga Palestina. Perdebatan atas empat isu itu ikut membentuk suasana pemilu yang semakin tajam dan membuat dukungan terhadap partai-partai besar tidak lagi solid seperti sebelumnya.
Situasi tersebut membuat pembentukan pemerintahan baru diperkirakan berlangsung rumit. Kunci berikutnya juga bisa datang dari partai-partai yang mewakili warga Palestina di Israel. Sebelumnya, mereka diproyeksikan dapat memegang kursi yang cukup penting dalam kalkulasi koalisi, meski kini posisinya belum sepenuhnya jelas.
Komite Pemilihan Pusat Israel pada September sempat memutuskan mendiskualifikasi Ra’am dan Joint List dari kontestasi. Namun, keputusan itu belum final karena masih ditinjau Mahkamah Agung setelah kedua kelompok mengajukan banding. Dengan kondisi politik yang terpecah dan hasil survei yang sangat ketat, pemilu mendatang dipandang sebagai ujian besar bagi Netanyahu maupun oposisi untuk menentukan siapa yang akan memimpin Israel berikutnya.
Sumber: jawapos.com




