Presiden LaLiga, Javier Tebas, mendesak Premier League menjatuhkan hukuman paling berat kepada Manchester City setelah panel disiplin independen disebut menyatakan klub itu bersalah atas sebagian besar tuduhan pelanggaran regulasi. Seruan itu muncul di tengah proses hukum panjang yang menjadi sorotan besar sepak bola Inggris, menyusul lebih dari 130 dakwaan yang sebelumnya dilayangkan kepada klub asal Manchester tersebut.
Tebas menilai bobot pelanggaran tidak bisa dipandang ringan karena berkaitan dengan rentang waktu yang panjang. Mayoritas dugaan itu disebut terjadi pada periode 2009 hingga 2018, termasuk tuduhan bahwa dana dari pemilik klub asal Abu Dhabi disamarkan seolah-olah sebagai pemasukan sponsor. Skema semacam ini diduga terkait upaya memenuhi ketentuan Financial Fair Play yang berlaku di Premier League dan UEFA.
Dalam pandangannya, lamanya pelanggaran membuat kasus ini jauh lebih serius. Ia menegaskan bahwa sanksi yang dijatuhkan tidak semestinya sekadar menjadi peringatan bagi klub lain, melainkan harus benar-benar mencerminkan pelanggaran yang terbukti. Tebas bahkan menyebut aturan yang tersedia di Premier League harus digunakan secara maksimal bila dugaan itu benar adanya.
"Saya percaya hukuman yang diberikan harus merupakan hukuman paling tegas yang tersedia dalam regulasi Premier League untuk kasus seperti ini, Jika sebuah klub melanggar aturan selama lebih dari 10 tahun, meskipun pelanggarannya terlihat kecil, secara keseluruhan tindakan tersebut menjadi sangat serius," kata Tebas, seperti dikutip The Sun.
Manchester City sendiri masih menolak seluruh tuduhan itu dan menyatakan yakin bisa membuktikan posisinya dalam proses hukum yang sedang berjalan. Di luar perkara di Premier League, Tebas juga mengaitkan kasus ini dengan riwayat sengketa City bersama UEFA. Pada 2020, UEFA sempat menjatuhkan larangan tampil di Liga Champions selama dua musim karena dugaan pelanggaran finansial pada 2012 hingga 2016, sebelum hukuman tersebut dibatalkan oleh Court of Arbitration for Sport (CAS).
Dalam banding di CAS, sebagian tuduhan dinilai tidak terbukti atau sudah kedaluwarsa untuk ditindak. Namun, menurut Tebas, perkembangan terbaru dalam kasus Premier League membuat putusan itu layak ditinjau ulang. "Dalam pandangan saya, keputusan CAS yang membatalkan sanksi awal UEFA seharusnya ditinjau kembali," ujarnya. Ia menambahkan bahwa rangkaian temuan terbaru justru memperkuat alasan UEFA ketika dulu menjatuhkan sanksi kepada City.
Tebas mengatakan dirinya sudah lama menyuarakan kekhawatiran soal Manchester City dan mulai berbicara terbuka mengenai isu tersebut sejak 2017. Sementara itu, hasil akhir dari proses di Premier League masih dinanti karena berpotensi menimbulkan konsekuensi besar, mulai dari denda, pengurangan poin, hingga kemungkinan hukuman lain sesuai kewenangan panel disiplin. Apapun keputusan akhirnya, perkara ini diperkirakan akan terus memicu perdebatan soal integritas kompetisi dan penerapan aturan finansial di sepak bola Eropa.
Sumber: www.jawapos.com




