Jembatan Darurat Salah Sirong Hanyut, Peran Politik dan Lobi Membuka Jalan Pembangunan Jembatan Permanen
BIREUEN – Sebuah jembatan darurat yang sebelumnya dibangun di Salah Sirong, Bireuen, dilaporkan hanyut dan rusak parah akibat tingginya debit air sungai. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kerugian fisik, tetapi juga menyoroti pentingnya peran politik dan lobi intensif dalam penanganan infrastruktur vital bagi masyarakat. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh II, H. Ruslan M. Daud, yang akrab disapa HRD, menegaskan bahwa pembangunan jembatan darurat sebelumnya adalah hasil dari upaya politik dan lobi yang dilakukannya kepada Kementerian Pekerjaan Umum (PU), yang merupakan mitra kerja Komisi V DPR RI.
HRD bahkan secara pribadi telah membawa Menteri PU ke lokasi jembatan tersebut beberapa waktu lalu. Langkah ini berhasil mendorong pemerintah pusat untuk turun tangan dalam membangun jembatan darurat melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, khususnya Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh.
Menurut penjelasan HRD, jembatan tersebut sebenarnya merupakan kewenangan dan tanggung jawab pemerintah kabupaten. Namun, karena tidak kunjung dibangun atau diabaikan oleh pemerintah kabupaten, HRD mengambil inisiatif untuk melobi Menteri PU. Tujuannya adalah agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat dialokasikan melalui skema tanggap darurat kebencanaan.
“Seharusnya ini menjadi kewenangan pemerintah kabupaten. Namun, karena tidak dibangun dan tidak mendapatkan respons, saya mengambil inisiatif untuk melobi Menteri PU agar negara hadir melalui APBN. Alhamdulillah, Kementerian PU sangat responsif dan akomodatif terhadap kebutuhan masyarakat,” ujar HRD.
Ia juga menyampaikan apresiasi yang tinggi atas respon cepat Kementerian PU melalui Direktorat Jenderal Bina Marga dan BPJN Aceh yang telah berhasil membangun jembatan darurat di Salah Sirong melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Adhi Karya. Jembatan darurat ini menghubungkan Desa Salah Sirong Jaya, Kecamatan Jeumpa, dengan Desa Krueng Simpo, Kecamatan Juli, tepatnya di Dusun Bivak.
Dampak Kerusakan Lingkungan dan Pentingnya Konstruksi yang Kokoh
Sayangnya, jembatan darurat tersebut tidak mampu bertahan menghadapi tingginya debit air sungai. HRD menilai kondisi ini dipicu oleh kerusakan lingkungan yang terjadi di kawasan hulu sungai, terutama akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit secara masif. Akibatnya, saat hujan deras mengguyur, air sungai meluap dan menghantam jembatan hingga hanyut dan mengalami kerusakan parah pada Selasa, 17 Februari 2026.
“Ini adalah pelajaran penting. Kerusakan lingkungan di hulu berdampak langsung ke hilir. Oleh karena itu, jembatan pengganti harus dibangun jauh lebih kokoh dan disesuaikan dengan karakter debit air di kawasan ini,” tegas HRD.
Lebih lanjut, HRD menekankan bahwa jembatan tersebut memiliki nilai yang sangat sakral bagi masyarakat setempat. Jembatan ini menjadi akses utama dalam aktivitas sehari-hari, termasuk bagi anak-anak sekolah yang harus menyeberang setiap harinya. Tanpa adanya jembatan yang layak, anak-anak terpaksa menyeberangi sungai menggunakan tali sling, sebuah metode yang sangat berisiko bagi keselamatan mereka.
“Ini bukan sekadar jembatan. Ini adalah akses kehidupan masyarakat, termasuk anak-anak sekolah. Jika mereka harus menyeberang menggunakan sling, risikonya sangat tinggi. Oleh karena itu, jembatan ini harus segera dibangun dengan konstruksi yang aman dan layak,” kata HRD.
Solusi Jembatan Tipe Aramco untuk Keamanan dan Keberlanjutan
Menyikapi kondisi tersebut, HRD kembali menjalin komunikasi langsung dengan Menteri PU. Tujuannya adalah agar penanganan dapat dilakukan segera dan jembatan yang dibangun memiliki spesifikasi yang lebih kuat, tahan bencana, serta mampu menyesuaikan dengan debit air sungai yang tinggi.
Menanggapi aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui HRD, Menteri Pekerjaan Umum, Dodi Hanggodo, memastikan bahwa pemerintah pusat akan segera menindaklanjuti. Pembangunan jembatan akan dilakukan dengan menggunakan tipe Aramco, yang dikenal memiliki konstruksi lebih kokoh dan proses pemasangan yang relatif cepat.
“Kami akan segera menindaklanjuti. Dalam dua sampai tiga hari ke depan, material jembatan Aramco akan didatangkan khusus dari Jakarta, dimobilisasi ke lokasi, dan segera dibangun. Saya juga menitipkan salam dari Bapak Presiden Republik Indonesia kepada warga Bireuen dan salam kami kepada masyarakat Salah Sirong yang sudah kita kunjungi beberapa waktu lalu. Insya Allah, di lain kesempatan, saya akan kembali ke sana. Yang jelas, negara selalu hadir dan siap berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi beban masyarakat,” ujar Menteri PU.
HRD menyambut baik pernyataan tersebut dan menyatakan keyakinannya bahwa jembatan Salah Sirong akan segera ditangani dengan konstruksi yang jauh lebih kokoh.
“Saya siap mengawal dan saya yakin jembatan ini akan segera dibangun dengan konstruksi yang lebih kuat. Ini adalah bukti bahwa ketika negara hadir, masyarakat tidak dibiarkan sendiri,” tutup HRD.
Pembangunan jembatan tipe Aramco ini diharapkan dapat menjadi solusi yang lebih aman dan berkelanjutan bagi masyarakat Salah Sirong dan wilayah sekitarnya. Selain itu, inisiatif ini juga menjadi langkah antisipatif dalam menghadapi cuaca ekstrem dan potensi banjir yang mungkin terjadi di masa mendatang, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memberikan perlindungan dan fasilitas dasar bagi warganya.



















