Rangkaian serangan ke fasilitas bandara di Arab Saudi memunculkan tanda tanya besar terhadap kelangsungan Piala Asia 2027, turnamen yang juga akan diikuti Timnas Indonesia. Ajang empat tahunan itu dijadwalkan berlangsung pada 7 Januari sampai 5 Februari tahun depan di Arab Saudi, dengan 24 peserta yang sudah dibagi ke dalam enam grup. Indonesia sendiri berada di Grup F bersama Jepang, Qatar, dan Thailand.
Kekhawatiran atas aspek keamanan makin menguat setelah situasi di Timur Tengah terus memanas. Sejumlah media di Korea Selatan dan Jepang ikut menyoroti kemungkinan dampak konflik tersebut terhadap penyelenggaraan turnamen. Federasi Sepak Bola Arab Saudi (SAFF) disebut perlu menyiapkan langkah perlindungan bagi pemain, pelatih, serta ofisial dari seluruh tim peserta jika kompetisi tetap digelar sesuai rencana.
Reuters melaporkan, serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada 10 Oktober menewaskan 13 orang dan menyebabkan lebih dari 300 orang terluka. Sehari setelahnya, serangan susulan kembali terjadi dan menewaskan satu orang serta melukai 11 lainnya. Hingga kini, otoritas Arab Saudi masih menutup bandara tersebut untuk pemeriksaan keamanan dan belum mengumumkan kapan operasionalnya dibuka lagi.
Riyadh, bersama Jeddah dan Al Khobar, ditetapkan sebagai kota utama tuan rumah Piala Asia 2027. Dengan waktu kurang dari tiga bulan menuju laga pembuka, gangguan pada infrastruktur penerbangan membuat banyak pihak mempertanyakan kesiapan Arab Saudi sebagai penyelenggara. Media Korea Selatan, Kyunghyang Shinmun, bahkan menyebut jika serangan terus berlanjut, opsi penundaan atau pemindahan lokasi bisa saja dibahas.
Dari Korea Selatan, kekhawatiran itu sudah masuk ke level federasi. Seorang perwakilan Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) mengatakan pihaknya sedang berkomunikasi dengan panitia penyelenggara dan menyiapkan berbagai kemungkinan. The Maeil Business Newspaper juga menulis bahwa turnamen bisa saja tak dapat digelar di Arab Saudi bila kondisi keamanan tidak membaik. Situasi ini bahkan disebut memengaruhi persiapan tim nasional Korea Selatan yang tengah menyusun agenda uji coba di Arab Saudi pada FIFA Matchday November.
Di Jepang, isu serupa juga menjadi perhatian. Pelatih Samurai Biru, Hajime Moriyasu, sempat ditanya langsung pada 11 Oktober. Mengutip Gekisaka, ia mengakui ada kekhawatiran terhadap perkembangan situasi, tetapi menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan AFC. Moriyasu menambahkan, Asosiasi Sepak Bola Jepang akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan perjalanan dan operasional tim berjalan aman.
Wacana mencari tuan rumah pengganti sebenarnya bukan hal baru. Sejak April, perdebatan soal lokasi alternatif sudah muncul. Inside World Football melaporkan mantan pemain Australia Craig Foster telah melobi federasi dan pemerintah Australia agar bersedia mengambil alih status tuan rumah jika Arab Saudi tak lagi memungkinkan. Bila keadaan di kawasan terus memburuk, AFC diperkirakan harus membuka pembahasan resmi mengenai kemungkinan perubahan penyelenggaraan Piala Asia 2027.




