Konflik Bahasa: Langit vs. Akar Rumput

Diposting pada

Jebakan Kesederhanaan: Ketika Keresahan Intelektual Bertemu Budaya Instan

Fenomena yang mengkhawatirkan tengah melanda cara kita memahami dan menyerap informasi. Sebuah pandangan yang mengemuka dari seorang akademisi terkemuka, yang menyatakan bahwa mentalitas kolonial masih tertanam kuat di masyarakat kita, menjadi titik tolak keresahan ini. Narasi yang berkembang adalah bahwa pribumi cenderung menggunakan istilah dan bahasa yang sederhana, sementara para pejabat kolonial, yang terpengaruh budaya Barat, memiliki pemikiran yang kompleks, empiris, dan berorientasi pada ilmu pengetahuan. Pandangan ini, jika dicermati, justru berpotensi menormalisasi kedangkalan epistemik dalam proses kognisi.

Sering kali, kita berlindung di balik kutipan terkenal Albert Einstein: “Seseorang baru benar-benar memahami sesuatu jika ia mampu menjelaskannya dengan cara yang sederhana.” Atau pepatah Indonesia yang mengakar kuat: “Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk.” Kedua ungkapan ini, pada dasarnya, mengandung kebenaran pragmatis dan diterima sebagaimana mestinya. Namun, di era post-truth ini, makna tersebut telah bergeser dan dipelintir, layaknya parasit yang merusak inangnya.

Sentimen negatif terhadap intelektualitas sering kali muncul di lingkungan sekitar kita. Seseorang yang memiliki dedikasi dan ambisi tinggi terhadap iklim intelektual kerap kali diberi label negatif. Perlu dipahami bahwa sentimen ini bukanlah ditujukan pada orangnya, jabatannya, atau status sosialnya, melainkan pada perangai, tutur kata, dan corak formal yang terkesan arogan, meninggikan martabat, dan elitis.

Tanpa disadari, dialektika keseharian kita telah diracuni oleh kultur komoditas. Dalam budaya ini, pembeli adalah raja, dan raja harus melayani konsumen se-praktis dan semudah mungkin. Bahkan, ketika penulis merasa kesulitan merangkai kata yang tepat, muncul aura intimidatif dari lawan bicara untuk memikirkan kembali penggunaan bahasa: apakah rentetan kata tersebut akan memudahkan lawan memahami, atau justru menciptakan kesan hampa.

Penelitian Daniel Kahneman mengonfirmasi bahwa otak manusia memiliki preferensi alami untuk menghindari beban kerja mental yang berat. Kita lebih mudah menerima informasi yang terasa familiar dan sederhana sebagai kebenaran. Ironisnya, di era post-truth, substansi otentik, orisinal, dan baku harus direkonstruksi, dibingkai ulang, dan dibungkus dengan pemaparan yang sederhana, fleksibel, serta praktis, tanpa mempertimbangkan konsekuensi terhadap distorsi makna.

Ancaman Deligitimasi Rasionalitas dan Fenomena Digital

Fenomena ini sayangnya belum mendapatkan perhatian serius yang memadai, padahal implikasinya bisa fatal: deligitimasi nilai-nilai rasional dan epistemik sebagai fondasi ilmu pengetahuan. Psikolog pendidikan Carol Dweck berpendapat bahwa situasi yang terkesan menantang dapat menjadi ancaman bagi mereka yang kukuh dengan pola pikir mapan, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan kecerdasan jangka panjang.

Situasi ini diperparah oleh ekosistem digital yang mendewakan durasi pendek dan visualisasi menarik. Kedalaman substansi kerap kali dikorbankan demi engagement dan retensi penonton. Platform seperti TikTok atau YouTube Shorts secara struktural mendesain pola komunikasi yang membatasi kemampuan kita untuk berdialektika dengan gagasan abstrak yang membutuhkan penalaran panjang.

Memang, masih banyak konten kreator yang mengemas informasi secara aktual dan narasi yang lengkap. Namun, jumlahnya tidak sebanyak mereka yang menawarkan pemahaman melalui face-to-face dengan aspek pemikat berupa gestur tubuh dan analogi penyederhanaan yang kerap disebut “bahasa bayi”.

Akibatnya, spektrum wacana menjadi keruh. Wacana ilmiah menjadi objek kritisisme yang tidak berbobot karena ego ingin adanya kemudahan dalam dialog. Fenomena ini dimanfaatkan oleh para populis untuk mengontrol narasi demi mengejar angka penonton. Terbentuklah ilusi kompetensi, di mana seseorang merasa memahami geopolitik dunia atau mekanika kuantum hanya dari video berdurasi singkat, tanpa menyentuh literatur primer.

Tentu saja, argumen bahwa penyederhanaan bahasa diperlukan untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan, terutama bagi masyarakat dengan akses pendidikan terbatas, tidak bisa diabaikan. Namun, ada garis demarkasi tegas antara membuat sesuatu menjadi aksesibel dan melakukan oversimplification yang mendistorsi esensi kebenaran materi hingga kehilangan maknanya.

Pergeseran paradigma kritis ini setidaknya terlihat dengan munculnya figur publik yang mempopulerkan literasi kritis. Ferry Irwandi, bersama komunitas Madilog, berhasil menjangkau audiens yang tidak bisa dicapai oleh banyak akademisi. Dengan jutaan pengikut, banyak dari mereka adalah kelompok masyarakat yang menyukai model penyampaian “bahasa bayi” yang selalu ia terapkan.

Kendati demikian, Ferry Irwandi memahami betul batasan tersebut tanpa mempersempit ruang logika yang otentik, ilmiah, dan konkret. Wacana yang dihasilkan menjadi wacana ilmiah populer, di mana seseorang merasa bebas berargumen tanpa ada gatekeeping bahasa yang mengisolasi mereka.

Pseudo-Intelektualisme dan Konsekuensi Penurunan Standar

Namun, perlu disadari bahwa setiap aksi selalu berujung pada konsekuensi. Kita perlu mengenal istilah Pseudo-Intelektualisme, fenomena di mana seseorang berusaha terlihat pintar tanpa landasan intelektual yang kuat. Ini adalah racun yang lebih mematikan karena sudah masuk ke mode abu-abu.

Lev Vygotsky, melalui konsep Zone of Proximal Development, mengajarkan bahwa pembelajaran efektif terjadi ketika individu didorong sedikit di luar zona nyaman dengan bantuan mentor, bukan dengan menurunkan standar materi hingga titik terendah agar siswa merasa nyaman.

Menyamaratakan standar komunikasi publik ke level terendah dengan dalih pemerataan dan inklusivitas justru merupakan bentuk penghinaan terselubung terhadap potensi kecerdasan masyarakat. Mentalitas seperti ini hanya bisa ditumpas dengan kesadaran kolektif yang berhasil melalui garis perjuangan, terutama dalam situasi kritis.

Biang keladi dari kebiasaan mengonsumsi informasi instan adalah ketersediaan dan hilangnya urgensi kesadaran akan hal ini.

Gambar Gravatar
Rizki merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan