Korea Utara kembali menolak desakan denuklirisasi dan menegaskan bahwa statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir tidak dapat diganggu gugat. Wakil Menteri Luar Negeri Kim Son Gyong menyampaikan sikap itu pada Senin, 28 September, dalam pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.
Di forum tahunan tersebut, Kim menyebut kepemilikan nuklir negaranya sebagai sesuatu yang sudah bersifat permanen dan tak mungkin berubah. Pernyataan itu sekaligus memperlihatkan bahwa Pyongyang tetap berada di jalur penolakan terhadap berbagai seruan internasional agar menghentikan program nuklirnya.
Dalam pidatonya, Kim juga melontarkan kritik keras kepada Amerika Serikat serta dua sekutunya di Asia, Jepang dan Korea Selatan. Ia menuduh ketiganya mendorong ketegangan di Semenanjung Korea karena apa yang ia sebut sebagai sikap bermusuhan yang terus berlanjut terhadap Pyongyang. Menurut dia, keadaan itu telah memicu ketidakstabilan yang makin parah di kawasan.
Jepang turut menjadi sasaran kecaman. Kim menilai negara itu menimbulkan ancaman serius bagi perdamaian dunia karena mengembangkan persenjataan jarak jauh yang, menurutnya, dapat dipakai untuk menyerang negara-negara tetangga dengan alasan kemampuan serangan balik. Ia memakai argumen tersebut untuk menyorot meningkatnya kekhawatiran Pyongyang terhadap penguatan militer Tokyo.
Kim juga membela kemampuan nuklir Korea Utara dengan mengatakan bahwa daya tangkal negaranya cukup kuat untuk mencegah serangan agresi. Ia mengklaim Pyongyang telah sepenuhnya menahan dan mengendalikan upaya pihak-pihak yang bermusuhan untuk menggunakan kekerasan. Dengan kata lain, menurut pandangan Korea Utara, senjata nuklir diposisikan sebagai alat pencegah, bukan pemicu konflik.
Pidato pada Senin itu menjadi penampilan kedua Kim Son Gyong secara beruntun di Majelis Umum PBB. Kehadirannya tahun lalu tercatat sebagai momen penting karena menandai pertama kalinya dalam tujuh tahun seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Korea Utara, selain duta besar mereka untuk PBB, hadir dalam debat tahunan tersebut. Langkah itu menunjukkan bahwa Pyongyang kembali memanfaatkan panggung PBB untuk menyuarakan posisi resminya di tengah sorotan dunia terhadap program senjatanya.
Sumber: www.jawapos.com




