Fluktuasi Rupiah Terhadap Dolar AS Jelang Imlek: Analisis dan Kurs Perbankan
Nilai tukar rupiah menunjukkan tren pelemahan yang signifikan terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Februari 2026. Fenomena ini terjadi menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, sebuah periode yang kerap diwarnai oleh pergerakan pasar keuangan yang dinamis.
Berdasarkan data pasar keuangan, rupiah tercatat melemah sebesar 0,05% pada Jumat sore, ditutup pada angka Rp16.836 per dolar AS. Di sisi lain, indeks yang melacak kinerja dolar AS justru mengalami penguatan tipis sebesar 0,14%, mencapai posisi 97,05.
Mata Uang Regional Terpengaruh Pelemahan
Pelemahan rupiah tidak terjadi secara terisolasi. Sejumlah mata uang utama di kawasan Asia juga merasakan tekanan serupa terhadap dolar AS. Yen Jepang mengalami koreksi yang cukup dalam sebesar 0,49%. Dolar Singapura melemah 0,09%, sementara dolar Taiwan terkoreksi 0,10%. Won Korea Selatan juga mencatat pelemahan 0,39%, dan rupee India melemah 0,15%. Yuan China dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,12% dan 0,04%. Baht Thailand turut mengalami pelemahan sebesar 0,12%.
Namun, tidak semua mata uang regional mengalami nasib yang sama. Dolar Hong Kong berhasil mencatatkan penguatan tipis, sementara peso Filipina menunjukkan performa yang lebih baik dengan penguatan sebesar 0,14% terhadap dolar AS.
Proyeksi Ahli: Rupiah Berpotensi Fluktuatif
Menyikapi kondisi ini, pengamat pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin, 16 Februari 2026. Ia memperkirakan, meskipun berpotensi mengalami fluktuasi, rupiah kemungkinan akan ditutup melemah pada kisaran Rp16.830 hingga Rp16.860 per dolar AS.
Rincian Kurs Dolar AS di Bank-bank Besar (Senin, 16 Februari 2026)
Memasuki awal pekan perdagangan, masyarakat dapat memantau pergerakan kurs dolar AS terhadap rupiah di beberapa bank besar di Indonesia. Berikut adalah rincian kurs jual dan beli dolar AS di Bank Central Asia (BCA), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, dan Bank Negara Indonesia (BNI) pada Senin, 16 Februari 2026:
Kurs Dolar AS di BCA
Pada pukul 09.48 WIB, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menetapkan harga beli dolar AS sebesar Rp16.767 dan harga jual sebesar Rp16.857 untuk kurs e-rate.
Untuk transaksi melalui TT counter dan bank notes, BCA belum melakukan perubahan sejak penutupan perdagangan Jumat, 13 Februari 2026. Berdasarkan TT counter, kurs beli dolar AS berada di Rp16.665 dan kurs jual di Rp16.965. Sementara itu, untuk transaksi tunai (bank notes), harga beli ditetapkan pada Rp16.700 dan harga jual pada Rp17.000.
Kurs Dolar AS di BRI
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) pada pukul 09.41 WIB mematok kurs beli dolar AS sebesar Rp16.748 dan kurs jual sebesar Rp16.900 untuk kurs e-rate.
Untuk transaksi TT counter, bank BUMN ini menetapkan kurs beli di Rp16.690 per dolar AS dan kurs jual di Rp16.990 per dolar AS.
Kurs Dolar AS di Bank Mandiri
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) terpantau belum melakukan perubahan pada kurs spesial rate, TT counter, maupun bank notes sejak Jumat, 13 Februari 2026.
Untuk kurs spesial rate, Bank Mandiri menetapkan harga beli sebesar Rp16.800 dan harga jual sebesar Rp16.830 per dolar AS.
Selanjutnya, untuk transaksi TT counter, harga beli dolar AS berada di Rp16.630 dan harga jual di Rp16.930. Sementara itu, untuk transaksi tunai (bank notes), harga beli dan jual dolar AS masing-masing adalah Rp16.630 dan Rp16.930 per dolar AS.
Kurs Dolar AS di BNI
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) pada pukul 09.50 WIB menetapkan kurs beli dolar AS sebesar Rp16.760 dan kurs jual sebesar Rp16.860 untuk kurs spesial rate.
Untuk transaksi TT counter, BNI mematok kurs beli dolar AS di Rp16.690 dan kurs jual di Rp16.990. Kurs untuk transaksi tunai (bank notes) juga serupa, yaitu harga beli Rp16.690 per dolar AS dan harga jual Rp16.990 per dolar AS.
Pergerakan nilai tukar rupiah yang fluktuatif ini penting untuk dicermati oleh para pelaku pasar, investor, dan masyarakat umum, terutama dalam kaitannya dengan aktivitas ekonomi menjelang perayaan hari besar. Pemantauan kurs secara berkala di berbagai lembaga keuangan dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih tepat.


