Lamine Yamal mengungkap kembali momen emosional saat dirinya menghampiri Lionel Messi setelah final Piala Dunia 2026 berakhir. Dalam laga yang menutup turnamen itu, Spanyol keluar sebagai juara usai menundukkan Argentina lewat gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu. Di tengah sorak kemenangan kubu La Roja dan kekecewaan mendalam tim Argentina, pemain muda berusia 19 tahun itu memilih mendatangi Messi untuk menyampaikan rasa hormat secara langsung.
Yamal mengatakan pertemuan singkat di lapangan tersebut bukan sekadar adegan haru setelah pertandingan, melainkan ungkapan terima kasih kepada sosok yang sejak lama ia kagumi. Ia menilai Messi telah memberi pengaruh besar bagi sepak bola dunia, termasuk dalam perjalanan awal kariernya sendiri. Bagi Yamal, momen itu menjadi cara sederhana untuk mengapresiasi warisan seorang legenda yang baru saja menutup karier internasionalnya.
Dalam wawancara eksklusif, pemain jebolan La Masia itu menegaskan bahwa ucapannya kepada Messi lahir tanpa motif lain. Ia menirukan kalimat yang disampaikan saat berhadapan langsung dengan sang megabintang Argentina: “Saya mengucapkan terima kasih atas semua yang telah Anda berikan kepada sepak bola,” kata Yamal. Ia menambahkan bahwa pelukan dan sapaan itu murni berasal dari hatinya, bukan untuk pencitraan di depan kamera.
Yamal juga menepis anggapan bahwa gestur tersebut dilakukan agar terlihat baik di mata publik. Ia menegaskan dirinya tidak ingin momen itu dipahami sebagai akting atau upaya mencari sorotan. “Saya tidak melakukan berbagai hal hanya agar terlihat bagus di depan kamera foto, hal itu benar-benar datang dari dalam diri saya sendiri,” ujarnya. Penjelasan itu ia sampaikan agar sikap hormatnya kepada Messi tidak disalahartikan.
Pembicaraan kemudian bergeser pada foto masa kecil Yamal yang sempat ramai dibahas di media sosial, yakni gambar dirinya sebagai bayi saat dimandikan Messi untuk kalender amal. Yamal mengaku tidak nyaman ketika foto tersebut mulai tersebar luas. Menurutnya, ayahnya sempat mengunggah foto itu ke Facebook sebelum ia meminta agar unggahan tersebut dihapus.
Keberatannya saat itu berangkat dari kekhawatiran bahwa publik akan terlalu cepat membandingkan dirinya dengan Messi. Ia merasa perbandingan semacam itu bisa memberi beban besar pada awal kariernya. “Karena saya melarangnya. Dia pernah mengunggah foto itu di Facebook dan saya memintanya untuk menghapusnya. Perbandingan akan menjadi terlalu mudah dilakukan dan orang-orang hanya akan membicarakan hal tersebut. Saya ingin menjadi Lamine, saya tidak ingin menjadi Messi,” kata Yamal mengenang keputusannya.
Seiring waktu, sikap Yamal terhadap cerita itu berubah lebih tenang. Setelah membawa Spanyol ke puncak dunia dan menambah reputasinya lewat penampilan bersama Barcelona, ia tampak lebih percaya diri berdiri sebagai dirinya sendiri. Alih-alih hidup di bawah bayang-bayang sang ikon Argentina, Yamal kini mulai dipandang sebagai bintang dengan identitas dan jalannya sendiri.
Sumber: kumparan.com




