Analisis Dewan Ekonomi Nasional: Iran Sulit Tutup Selat Hormuz Jangka Panjang
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memandang bahwa Pemerintah Iran tidak akan mampu mempertahankan penutupan akses di Selat Hormuz dalam periode waktu yang lama. Ketergantungan ekonomi Iran yang sangat besar pada ekspor minyak dinilai akan menjadi faktor penentu yang memaksa Teheran untuk tetap membuka jalur vital perdagangan migas global tersebut di masa mendatang.
Ketua DEN, Luhut Binsar Pandjaitan, menjelaskan bahwa Iran memiliki infrastruktur produksi yang memadai untuk mengolah minyak mentah menjadi produk akhir. Proses pengolahan ini sangat krusial bagi perekonomian negara tersebut, di mana pendapatan masyarakat sangat bergantung pada penjualan produk olahan minyak mentah ke pasar internasional.
“Iran memiliki kepentingan fundamental untuk bertahan hidup, sehingga penutupan Selat Hormuz tidak akan berlangsung selamanya,” ujar Luhut saat memberikan keterangan di Istana Kepresidenan Jakarta pada hari Jumat, 13 Maret.
Luhut juga mengemukakan alasan lain yang memperkuat argumennya, yaitu minimnya kehadiran Angkatan Laut Iran di sekitar wilayah Selat Hormuz. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh tindakan militer Amerika Serikat (AS) yang telah berhasil menenggelamkan sejumlah kapal perang milik Iran dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Departemen Pertahanan AS (Pentagon), serangan udara yang dilancarkan oleh militer AS menggunakan tiga jenis pesawat pengebom dilaporkan terjadi pada pekan lalu, tepatnya pada hari Senin, 2 Maret. Keesokan harinya, pada Selasa, 3 Maret, Pentagon mengumumkan bahwa mereka tidak mendeteksi adanya kapal perang milik Iran yang beroperasi di Teluk Persia, Selat Hormuz, maupun Teluk Oman.
Upaya penenggelaman kapal perang milik Iran ini dilaporkan terus berlanjut hingga pekan ini. Kepala Staf Gabungan Militer AS, Jenderal Angkatan Udara Dan Caine, mencatat bahwa sebanyak 50 kapal perang milik Iran telah berhasil ditenggelamkan pada pekan ini, dimulai sejak hari Senin, 9 Maret.
Jenderal Caine mengklaim bahwa penenggelaman kapal-kapal militer Iran tersebut dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan udara AS. Selain itu, Washington juga melaporkan telah berhasil menenggelamkan kapal-kapal Iran yang membawa persenjataan berupa misil dan drone yang dapat diluncurkan dari tengah laut.
“Pusat Komando AS hari ini terus melakukan operasi perburuan dan penghancuran terhadap kapal-kapal pemasang ranjau laut serta fasilitas penyimpanan ranjau. Tindakan ini akan terus kami laksanakan,” tegas Caine dalam sebuah pernyataan resmi yang dikutip pada hari Jumat, 13 Maret.
Upaya AS Mengamankan Jalur Pelayaran Internasional
Kepala Pusat Komando AS, Laksamana Brad Cooper, menyatakan bahwa mayoritas kapal selam milik Iran telah berhasil dihancurkan pada pekan lalu, tepatnya hari Selasa, 3 Maret. Menurutnya, tindakan ini sangat penting mengingat rezim Iran kerap melakukan intimidasi terhadap kapal-kapal internasional yang melintasi Selat Hormuz.
“Saat ini, tidak ada satu pun kapal milik Iran yang terlihat melewati Teluk Arab (Teluk Persia), Selat Hormuz, dan Teluk Oman. Kami tidak akan menghentikan upaya kami,” klaim Cooper, seperti yang dilaporkan oleh BBC dan dikutip pada hari Jumat, 13 Maret.
Pentingnya Selat Hormuz dalam Perdagangan Global
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur air tersibuk dan paling strategis di dunia. Lokasinya yang berada di antara Teluk Persia dan Teluk Oman menjadikannya titik krusial untuk ekspor minyak mentah dari negara-negara Teluk, termasuk Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
- Volume Perdagangan: Sebagian besar pasokan minyak mentah dunia melewati selat ini setiap harinya. Gangguan pada jalur ini dapat berdampak signifikan pada harga minyak global dan stabilitas ekonomi internasional.
- Ancaman Geopolitik: Potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran sering kali menjadi alat tawar-menawar dalam negosiasi geopolitik, mengingat dampaknya yang luas terhadap perekonomian global.
- Keamanan Maritim: Kehadiran militer di sekitar selat ini menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan jalur pelayaran dan mencegah potensi konflik. Upaya AS yang dilaporkan dalam artikel ini menunjukkan komitmen untuk memastikan kelancaran arus perdagangan melalui jalur tersebut.
Analisis DEN ini menyoroti kompleksitas situasi geopolitik di Timur Tengah dan bagaimana kepentingan ekonomi serta kekuatan militer saling terkait dalam menentukan nasib jalur perdagangan vital seperti Selat Hormuz.



















