Kebutuhan Telur di Berau Meningkat Akibat Program MBG
Kebutuhan telur di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, mengalami peningkatan yang signifikan seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini berdampak langsung pada permintaan telur ayam yang semakin tinggi, terutama dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi bagian dari penerapan program tersebut.
Setiap SPPG membutuhkan sekitar 97–100 piring telur per hari. Jika setiap piring berisi sekitar 30 butir telur, maka kebutuhan telur per hari untuk satu SPPG sangat besar. Hal ini membuat permintaan telur terus meningkat dan menuntut peningkatan produksi dari peternak lokal.
Namun, saat ini produksi telur dari peternak lokal masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar. Diperkirakan hanya sekitar 50–60 persen kebutuhan masyarakat yang dapat dipenuhi oleh produksi dalam daerah. Sisanya harus diimpor dari luar daerah untuk menjaga ketersediaan stok di pasaran.
Analis Pasar Hasil Pertanian Muda Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau, Widodo, menjelaskan bahwa peningkatan kebutuhan telur tidak terlepas dari adanya program MBG. Ia menyatakan bahwa kebutuhan cenderung naik karena program ini sedang berjalan di wilayah tersebut.
“Kebutuhan cenderung naik karena kebetulan ada program MBG ini. Sementara produksi kita baru sekitar 50 sampai 60 persen, selebihnya datang dari luar daerah,” ujarnya.
Produksi Telur Masih Stagnan
Di tengah lonjakan permintaan, produksi telur dari peternak lokal masih cenderung stagnan. Kondisi ini memicu pemerintah daerah untuk mendorong para peternak ayam petelur agar meningkatkan kapasitas produksi guna mengimbangi pertumbuhan kebutuhan pasar.
Widodo mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi dengan sejumlah peternak di Berau. Berdasarkan hasil diskusi tersebut, para peternak pada dasarnya siap meningkatkan produksi selama kondisi pasar dan harga jual masih mendukung.
“Kami sudah ngobrol dengan peternak telur ayam. Mereka berusaha meningkatkan produksi, tergantung harga jual juga. Kalau pasar tinggi, biasanya peternak mengikuti kebutuhan,” tuturnya.
Pengaruh Harga Pakan Terhadap Harga Telur
Harga telur di Berau sangat dipengaruhi oleh biaya pakan ternak yang menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan ayam petelur. Widodo menjelaskan bahwa sekitar 70 persen biaya produksi peternak berasal dari kebutuhan pakan.
Karena itu, setiap kenaikan harga pakan akan berpengaruh langsung terhadap harga telur di tingkat konsumen. Saat ini harga telur produksi lokal berada pada kisaran Rp65 ribu hingga Rp70 ribu per piring. Sementara telur yang didatangkan dari luar daerah dijual dengan harga sedikit lebih rendah, yakni sekitar Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per piring.
“Perbedaannya sekitar Rp 5 ribu. Kalau dari luar daerah itu memang sedikit lebih rendah dan saat ini telur masih harga normal,” jelasnya.
Dukungan Pemerintah untuk Peternak
Untuk membantu peternak meningkatkan produksi, pemerintah juga menyiapkan dukungan dari sisi penyediaan pakan melalui program cadangan jagung pemerintah. Langkah tersebut diharapkan dapat menekan biaya produksi sehingga peternak memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan kapasitas usaha.
“Nanti ada dukungan melalui cadangan jagung pemerintah. Kami juga sudah ikut zoom meeting dari pusat terkait hal itu,” katanya.
Saat ini harga jagung pakan di tingkat produsen berkisar Rp7 ribu per kilogram. Namun melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog, peternak dapat memperoleh harga yang lebih terjangkau.
“Kalau melalui Bulog itu sekitar Rp 5 ribu kalau ambil langsung di Bulog dan Rp 5.600 jika diantar. Kalau beli di produsen biasanya sekitar Rp 7 ribuan,” pungkasnya.











