Kehangatan cireng yang baru digoreng, berpadu dengan pedas, manis, dan asamnya bumbu rujak, menciptakan sensasi yang menggugah selera. Cireng buatan tetangga, Mbak Anna, memang istimewa. Tidak terlalu berminyak, kenyal, dan bumbu cocolannya selalu membuat ketagihan.
Di luar, langit tampak kelabu, seperti seprai usang. Mendung menggelayut, namun hujan belum juga turun. Tiba-tiba, notifikasi ponsel berbunyi. Pesan dari Mbak Anna: “Mbak, pesanan cireng untuk besok sudah siap. Mau diantar sekarang atau besok saja?”
Pesan singkat itu entah mengapa membuatku tersentak. Kata-kata “cireng ready” mengingatkanku pada kumpulan esai berjudul ‘Menua dengan Gembira’ yang baru saja kutaruh di rak buku. Sebuah ingatan yang masih segar. Aku segera menelan cireng di mulutku, seolah takut ledakan rasa yang tiba-tiba itu.
Komedi Kehidupan di Sela-sela Kesibukan
Beberapa waktu lalu, viral video di media sosial tentang seseorang yang enggan menikah muda karena khawatir status WhatsApp-nya hanya berisi “cireng ready ya bund”. Sebuah potret kehidupan yang menggelitik.
Tiga hari sebelumnya, buku ‘Menua dengan Gembira’ masih berada di pangkuanku. Aku membacanya sambil menunggu anakku bermain di rumah balon saat berkunjung ke sebuah kota. Saat itu sekitar pukul sepuluh pagi. Aku baru saja membuka segel plastiknya, dan langsung terseret ke dalam humor getir yang ditawarkan buku esai tersebut.
Mulai dari obrolan tentang cireng di grup WhatsApp ibu-ibu kompleks – yang langsung membuatku teringat Mbak Anna dan cirengnya – hingga persoalan hidup sehari-hari yang jarang kupikirkan.
Di bawah rindangnya pepohonan di sebuah taman, aku merenung sambil bergumam, “Iya juga sih. Tapi mau bagaimana lagi?” Kadang, aku menanggapi hal-hal yang terlalu dekat dengan lingkungan sosialku.
Beberapa saat kemudian, seorang tetangga menimpali, “Barusan Dokter Amin mengirim pesan: yang bersangkutan tidak terkena corona, melainkan dirawat karena kelelahan saja….”
Lalu, bagaimana dengan rumah sakit yang diisolasi?
“Itu foto klinik di daerah lain,” jelas Dokter Amin. “Disegel karena menjadi tempat aborsi. Kasus lama, sudah bertahun-tahun lalu. Warna kliniknya memang mirip dengan rumah sakit kami.”
“Ya, begitulah ibu-ibu kompleks. Seringkali menyebarkan informasi yang belum tentu benar,” kataku sambil menggelengkan kepala. Waktu itu belum tengah hari, namun aku sudah membaca separuh buku. Ketika anakku datang menghampiriku dan meminta minum, aku meneguk air dengan cepat. Sungguh lucu suara yang terdengar. Mungkin aku juga tidak menyadari tawa kecil yang keluar dari sela-sela komedi dalam buku itu.
Kebahagiaan di Tengah Kompromi dan Negosiasi
Kupikir setelah minum, anakku akan mengajakku pulang. Namun, tampaknya dia masih betah bermain di rumah balon. “Baiklah, lima belas menit lagi ya. Setelah itu kita pulang,” izinku padanya.
Anak-anak memang mudah bergaul dengan siapa saja, bahkan dengan teman yang baru mereka kenal. Aku kembali membuka buku yang sempat tertunda. Sesekali aku mengangguk-angguk.
Bagaimana tidak? Aku jadi teringat pada perilakuku sendiri di era pandemi, ketika aku kecanduan berselancar di internet hingga merasa stres karena terlalu banyak membaca berita buruk tentang COVID-19. Aku panik dan kembali berpikir berlebihan. Sebagai pelarian, aku mencari buku-buku self-help yang tidak bisa diberikan oleh media sosial dengan algoritmanya tentang produktivitas. Bisa dibilang, buku-buku self-help saat itu menjadi antitesis dari media sosial: anti-produktivitas dan anti-pamer.
Tingginya penggunaan media sosial tampaknya juga berkontribusi pada larisnya buku-buku self-help anti-produktivitas ini.
Aku mengipasi wajahku. Bukan karena isi buku yang membuatku gerah, melainkan karena cuaca di kota itu memang panas. Kurasa mendung belum sampai di sini. Sambil mengipasi diri dengan buku, aku memperhatikan anakku yang sedang bermain. Kepalaku sedikit miring saat melihat rumah balon yang bergerak-gerak. Gerakannya tidak beraturan, tapi membuatku bertanya-tanya, apakah rumah balon itu senang karena anak-anak bermain di atasnya?
Cukup lama pikiran tentang gerakan rumah balon itu menggantung di benakku. Cukup aneh, apa sebenarnya yang mengganjal saat itu. Pertanyaan itu bahkan kubawa pulang ke rumah.
Setelah tiga hari, tepat ketika membaca kata-kata “cireng ready”, barulah aku menyadari bahwa gerakan rumah balon itu merepresentasikan kebahagiaan yang datang ketika kita bisa bercerita dan berusaha menikmati segala kompromi dalam hidup. Ya, mirip dengan rumah balon yang tetap bergerak meski ada beban di atasnya.
Mungkin aset terbesar negara ini adalah orang-orang yang cukup bahagia dengan jajan di pasar malam, mengobrol santai sambil minum kopi instan, dan mengajak anak mereka naik odong-odong seharga lima ribu rupiah, sementara di atas sana semuanya berjalan seperti biasa.
Jari-jariku menari di atas layar ponsel. Aku membalas pesan Mbak Anna: “Nanti setelah menjemput anakku, saya ambil ya, Mbak. Terima kasih.” Aku menambahkan emoji tangan menangkup sebagai tanda terima kasih.
Setelah itu, satu cireng terakhir kucelupkan ke dalam bumbu rujak sambil melanjutkan renungan tentang “menua dengan gembira”.




