Harga minyak mentah dunia menunjukkan tren kenaikan signifikan menyusul ultimatum yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Ketegangan geopolitik ini semakin memanas dengan ancaman balasan dari Teheran, yang berpotensi mengganggu pasokan energi global dan memicu kekacauan di pasar keuangan.
Lonjakan Harga Minyak Brent dan WTI
Perkembangan terbaru ini secara langsung berdampak pada harga komoditas energi. Pada Senin pagi waktu Singapura, harga minyak Brent untuk kontrak Mei tercatat naik 1,5% menjadi US$113,90 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei mengalami kenaikan yang lebih tajam, yaitu 2,1%, mencapai level US$100,28 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan yang serius.
Ultimatum Trump dan Ancaman Balasan Iran
Ketegangan memuncak setelah Presiden Trump mengeluarkan ultimatum kepada Iran untuk membuka sepenuhnya jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam kurun waktu 48 jam. Trump mengancam akan melakukan tindakan tegas, termasuk kemungkinan meledakkan pembangkit listrik Iran, jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
Respons Iran tidak kalah tegas. Teheran mengancam akan melancarkan serangan balasan yang menargetkan seluruh infrastruktur energi, teknologi, dan desalinasi milik Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut. Ancaman ini secara eksplisit disampaikan jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran menjadi sasaran serangan.
Dampak Konflik Terhadap Pasar Energi Global
Harga patokan minyak global, Brent, telah melonjak lebih dari 50% sejak serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Konflik yang terus berlanjut ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan pasar produk minyak bumi utama mengalami lonjakan yang lebih tajam dibandingkan minyak mentah itu sendiri. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius akan memicu gelombang inflasi global, yang berpotensi membawa kekacauan ke berbagai segmen pasar keuangan, mulai dari komoditas, saham, hingga obligasi.
Selat Hormuz: Titik Sentral Konflik dan Gangguan Pasokan
Setelah berminggu-minggu perang yang melanda wilayah kaya energi ini dan telah memengaruhi lebih dari selusin negara, penutupan hampir total Selat Hormuz menjadi titik konflik utama. Selat ini merupakan jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Para pejabat Iran menunjukkan keengganan yang semakin besar untuk membahas pembukaan kembali jalur tersebut, karena fokus utama mereka saat ini adalah kelangsungan hidup dan pertahanan. Ultimatum dari Presiden Trump sendiri dilontarkan pada Sabtu lalu, menambah urgensi dan ketegangan situasi.
Rory Johnston, seorang peneliti pasar minyak dan pendiri Commodity Context Corp., menyatakan bahwa dengan tenggat waktu 48 jam yang diberikan, Trump telah memojokkan dirinya sendiri. Ia menilai sangat tidak mungkin Teheran akan menyetujui persyaratan Trump dalam jangka waktu yang dipercepat di bawah ancaman serangan. Johnston juga menekankan bahwa Iran jelas memiliki kemampuan dan kesediaan untuk menandingi eskalasi apa pun yang mungkin terjadi.
Dengan terhentinya lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz, kecuali untuk beberapa transit yang telah disetujui oleh Iran, produsen minyak mentah di Teluk Persia terpaksa mengunci jutaan barel pasokan harian. Alternatif lain adalah beralih ke jalur ekspor yang sangat terbatas, yang jelas tidak mampu menggantikan volume yang hilang.
Peringatan dari Badan Energi Internasional (IEA)
Badan Energi Internasional (IEA) telah memberikan peringatan keras mengenai situasi pasar minyak global. IEA menyatakan bahwa pasar minyak global sedang menghadapi guncangan terbesar yang pernah ada, bahkan di tengah upaya pelepasan besar-besaran cadangan darurat minyak dari negara-negara anggotanya.
Ketidakpastian Pesan dari Gedung Putih
Salah satu tantangan terbesar bagi para investor dalam menghadapi situasi ini adalah kurangnya pesan yang koheren dari Presiden Trump terkait konflik yang sedang berlangsung. Ironisnya, tak lama sebelum ultimatum dua harinya dikeluarkan, presiden sempat menyatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mengurangi upaya militer Amerika Serikat terhadap Iran. Ketidakpastian ini menambah kompleksitas pasar dan meningkatkan volatilitas.
Upaya Mengendalikan Harga Bahan Bakar
Dalam upaya terbarunya untuk mengendalikan harga bahan bakar, Amerika Serikat telah mengeluarkan izin untuk penjualan minyak dan produk petrokimia Iran yang sudah dimuat ke kapal tanker. Departemen Keuangan AS mengeluarkan izin umum yang mengizinkan penjualan kargo energi yang berada di kapal mulai Jumat pekan lalu hingga 19 April 2026.
Langkah ini mencerminkan kebijakan serupa yang pernah diambil sebelumnya untuk melonggarkan pembatasan terhadap minyak Rusia yang sudah berada di laut. Namun, di tengah semua ini, Amerika Serikat dan Israel terus melanjutkan target serangan ke berbagai lokasi di Iran pada hari Minggu kemarin, termasuk ibu kota Teheran. Sebagai respons, Iran dilaporkan melancarkan serangan rudal dan drone ke arah Israel dan negara-negara Teluk Arab.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa serangan terhadap Iran bertujuan untuk menghancurkan benteng-benteng pertahanan di sepanjang selat. Ia menambahkan bahwa Presiden Trump akan mengambil langkah apa pun yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut, termasuk menghancurkan angkatan udara dan angkatan laut Iran serta mencegahnya memiliki senjata nuklir. Pernyataan ini menegaskan komitmen AS untuk menjaga stabilitas dan keamanan regional, meskipun dengan risiko eskalasi yang lebih tinggi.



















