Penyerang Timnas Indonesia, Mitchell Baker, menegaskan bahwa kerja samanya dengan Ole Romeny belum sepenuhnya matang meski keduanya sudah sama-sama terlibat dalam laga melawan Bangladesh. Pemain berusia 19 tahun itu menyebut proses saling memahami di lini depan masih berjalan, tetapi ia melihat perkembangan yang positif dari pertandingan ke pertandingan.
Dalam duel tersebut, Baker tampil tajam dengan torehan lima gol, sementara Romeny mencatat empat assist. Meski statistiknya mencolok, Baker menolak menganggap dirinya sebagai tokoh utama di balik produktivitas Timnas Indonesia. Ia justru menilai kontribusi Romeny dan Ragnar Oratmangoen sangat besar dalam terciptanya peluang-peluang berbahaya.
Menurut Baker, keberhasilan mencetak gol tidak lepas dari kerja kolektif para pemain di sekelilingnya. Ia menilai Romeny menjalankan peran penting dalam alur serangan, sedangkan Ragnar dan pemain lain ikut membantu membuka ruang. “Menurut saya, Ole Romeny dan Ragnar Oratmangoen, serta semua pemain di sekitar kami, benar-benar luar biasa,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dirinya hanya menyelesaikan peluang yang sudah dibangun rekan-rekannya. “Saya pikir mereka pantas mendapatkan semua pujian karena saya hanya mencetak gol tap-in.”
Baker juga mengingatkan bahwa kebersamaannya dengan Romeny di lapangan masih sangat singkat. Pertandingan melawan Bangladesh menjadi kali ketiga ia bermain bareng penyerang tersebut. Sebelumnya, keduanya sudah tampil bersama saat menghadapi Singapura dan Malaysia. Karena itu, Baker menilai wajar jika koneksi antarkeduanya belum terbentuk sempurna. “Saya juga pikir penting untuk diingat bahwa ini baru ketiga kalinya saya bermain bersama Ole,” katanya. “Saya belum pernah bermain dengannya sebelum pemusatan latihan ini, jadi kami masih membangun chemistry.”
Proses itu, menurut Baker, penting bukan hanya untuk dirinya dan Romeny, tetapi juga bagi Timnas Indonesia secara keseluruhan. Semakin sering para pemain tampil bersama, semakin mudah pula mereka membangun koneksi dalam menyerang maupun bertahan. Baker berharap hubungan bermain itu akan terus meningkat seiring lebih banyak kesempatan yang didapat tim.
Di luar urusan gol dan assist, Baker juga mengaku merasakan emosi yang kuat ketika laga memasuki menit-menit akhir. Saat pertandingan mendekati usai, pikirannya tertuju pada keluarga yang hadir memberi dukungan, termasuk kakeknya di stadion, ibunya, dan kerabat yang berada di Indonesia. Baginya, membela Timnas Indonesia bukan sekadar soal statistik, melainkan juga tanggung jawab untuk memberi yang terbaik bagi publik sepak bola Tanah Air. “Itulah yang ada di kepala kami. Kami hanya berpikir untuk mencetak gol,” tuturnya.
Sumber: www.bolasport.com




