Modifikasi Cuaca: BNPB Cari Korban Longsor Cisarua

Diposting pada

BANDUNG — Upaya pencarian korban tanah longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua terus diintensifkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengambil langkah proaktif dengan melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mendukung kelancaran proses pencarian. Operasi ini diharapkan dapat meminimalkan kendala yang disebabkan oleh faktor cuaca, yang menjadi salah satu tantangan utama dalam operasi SAR.

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa operasi modifikasi cuaca ini sangat penting mengingat bencana longsor ini dipicu oleh faktor hidrometeorologi. Dengan cuaca yang mendukung, tim SAR dapat bekerja lebih efektif dan efisien dalam menemukan korban yang masih hilang.

“Mudah-mudahan cuaca bisa membantu. Operasi modifikasi cuaca sudah dilaksanakan oleh BNPB, karena kejadian ini disebabkan oleh dampak hidrometeorologi,” ujar Syafii saat meninjau langsung lokasi kejadian.

Upaya Pencarian Intensif dengan Ratusan Personel

Tim pencarian gabungan yang terdiri dari lebih dari 700 personel dikerahkan untuk melakukan pencarian secara menyeluruh. Tim ini terdiri dari berbagai unsur, termasuk:

  • Personel SAR terlatih: 250 personel dengan keahlian khusus dalam operasi pencarian dan penyelamatan.
  • Unsur TNI dan Polri: Membantu dalam pengamanan area dan koordinasi lapangan.
  • BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah): Memberikan dukungan logistik dan informasi terkait kondisi lapangan.
  • Relawan: Berkontribusi dalam berbagai aspek pencarian dan penyelamatan.
  • Masyarakat setempat: Memberikan informasi penting dan membantu dalam proses evakuasi.

Pencarian Tiga Dimensi dan Teknologi Canggih

Upaya pencarian dilakukan secara komprehensif melalui tiga dimensi:

  • Udara: Penggunaan drone untuk memetakan area terdampak dan mengidentifikasi potensi lokasi korban.
  • Darat: Pencarian manual oleh tim SAR dan penggunaan alat berat dengan hati-hati.
  • Bantuan Hewan Pelacak: Pengerahan anjing pelacak (K9) untuk mengendus keberadaan korban di bawah timbunan lumpur.

Sebanyak 12 unit drone dioperasikan untuk memetakan area terdampak yang diperkirakan mencapai panjang sekitar 3 kilometer. Pemetaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi titik-titik potensial di mana korban mungkin berada, termasuk area mahkota longsor yang menjadi fokus utama pencarian.

Tantangan dan Kendala di Lapangan

Meskipun upaya pencarian dilakukan secara maksimal, tim SAR menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Kondisi struktur longsor yang masih rentan, seperti pasir dan tanah gembur, menimbulkan risiko longsor susulan. Hal ini menyebabkan alat berat belum dapat langsung masuk ke area terdampak.

Fokus pada Pencarian Korban

Prioritas utama saat ini adalah menemukan korban yang masih hilang. Berdasarkan informasi yang diperoleh, masih terdapat lebih dari 80 orang yang belum ditemukan. Proses pencarian terus dilakukan tanpa jeda, dengan harapan dapat segera menemukan dan mengevakuasi seluruh korban.

“Kita juga mengerahkan anjing pelacak K9 untuk membantu mengendus keberadaan korban di bawah timbunan lumpur. Informasi yang kita dapat, korban masih lebih dari 80 orang dan proses pencarian terus kita lakukan tanpa jeda,” tegas Syafii.

Pihak berwenang terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari petugas terkait potensi risiko longsor susulan. Bantuan dan dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses pencarian dan pemulihan pasca-bencana.

Gambar Gravatar
Erwin merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan