Ringkasan Berita: Kisah Gagal Haji Ali Al-Muwaffaq dan Pelajaran Kehidupan
Kisah gagal haji Ali Al-Muwaffaq, atau dikenal juga sebagai Abdullah bin Mubarak, menjadi pelajaran penting tentang keikhlasan dan kepedulian sosial. Dalam kisah ini, ia menunjukkan bahwa pahala besar dapat diraih melalui sedekah dan menolong sesama, bukan hanya melalui ritual ibadah fisik. Cerita ini menjadi bahan khutbah Jumat yang akan disampaikan pada tanggal 8 Mei 2026.
Keistimewaan dari Kisah Gagalnya Berangkat Haji
Kisah ini memiliki keistimewaan luar biasa karena mengajarkan bahwa Allah tidak hanya menilai ritual, tetapi juga hati dan tindakan nyata. Dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi, dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak berangkat ke Makkah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, yakni haji. Namun, ketika sampai di kota Kufah, perjalanannya terhenti karena melihat kondisi seorang perempuan yang memakan bangkai itik bersama anak-anaknya karena kelaparan.
Abdullah bin Mubarak mencoba menegur perempuan tersebut, tetapi nasihatnya tidak berhasil. Ia akhirnya menyedekahkan keledainya beserta barang-barang bawaannya, termasuk makanan dan pakaian, kepada keluarga itu. Akibatnya, ia tidak memiliki bekal untuk melanjutkan perjalanan ke tanah suci. Perjalanannya tertunda hingga musim haji lewat, sehingga ia gagal menunaikan haji tahun itu.
Khutbah Jumat: Pelajaran dari Kisah Abdullah Bin Mubarak
Pada khutbah Jumat yang akan disampaikan, kisah ini menjadi bahan pembelajaran penting. Hadirin diajak untuk memahami bahwa kepedulian sosial lebih utama daripada ibadah individual. Hal ini selaras dengan kaidah fiqih: “Al-mut’addi fafdhal min al-qasir”, artinya: Ibadah sosial lebih utama ketimbang ibadah individual.
Dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 97, Allah berfirman:
وَلِلهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
Selain itu, dalam Surat Ali Imran ayat 92, Allah juga menyebutkan:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan (yang sempurna), sebelum kalian mendermakan sebagian dari hartamu yang kamu cintai.
Pelajaran Penting dalam Kehidupan
Kisah ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan, kita harus prioritaskan pertolongan kepada sesama, meski itu berarti meninggalkan ibadah yang wajib. Tidak semua orang bisa melakukan haji, karena haji hanya diwajibkan bagi yang mampu secara fisik, harta, dan mental. Dalam kasus Abdullah bin Mubarak, ia merasa tidak mampu secara mental untuk melanjutkan perjalanan, karena ia lebih memilih membantu sesama yang kesusahan.
Kesimpulan
Khutbah ini mengajak kita untuk menjadi hamba yang bertakwa, berbuat baik kepada sesama, dan selalu meniru suri teladan dari orang-orang saleh. Semoga kita termasuk orang-orang yang kelak ditakdirkan bisa menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Amin ya rabbal alamin.






