Insiden Drone Rusia di Galati, Rumania Mengguncang NATO
Pada malam hari Kamis (28/5/2026), sebuah drone milik pasukan militer Rusia dikabarkan menyasar bangunan apartemen di Galati, sebuah kota yang berada di bagian timur Rumania. Kejadian ini langsung mendapat respon keras dari NATO, yang mengecam tindakan Rusia dan berjanji untuk meningkatkan keamanan dan pertahanan di negara-negara anggotanya.
“Kami mengutuk kecerobohan Rusia, dan NATO akan terus memperkuat pertahanan kami terhadap semua ancaman, termasuk pesawat nirawak,” ujar seorang Juru Bicara NATO dalam pernyataannya. Meski tidak menyebutkan nama, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa NATO sangat prihatin dengan insiden ini.
Penghuni Apartemen Berhasil Dievakuasi
Insiden tersebut terjadi pada pukul 19.00 waktu setempat. Setelah dihantam drone, apartemen mengalami kebakaran yang cukup parah hingga menyebabkan dua orang terluka. Namun, beruntungnya, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Semua penghuni apartemen berhasil dievakuasi ke tempat yang lebih aman.
Menurut laporan lokal, kebakaran yang terjadi akibat serangan drone Rusia menyebabkan kerusakan besar pada struktur bangunan. Pihak berwenang sedang melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab pasti dari kejadian ini.

Drone Rusia Awalnya Ditargetkan Menyasar Ukraina
Menurut informasi dari otoritas setempat, drone yang menyerang apartemen di Galati merupakan bagian dari serangan besar-besaran Rusia terhadap Ukraina pada malam itu. Drone tersebut awalnya ditujukan untuk menyasar target militer di wilayah Ukraina. Namun, pesawat nirawak tersebut gagal menjalankan misinya dan justru melenceng ke Rumania.
Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama empat tahun sejak Februari 2022. Selama masa perang ini, Rusia terus meningkatkan serangan mereka, baik melalui rudal maupun drone. Hal ini membuat situasi di kawasan Eropa Timur semakin memanas.

Serangan Kali Lalu ke Ibu Kota Ukraina
Sebelumnya, Rusia juga sempat menghujani Ibu Kota Ukraina, Kyiv, dengan rudal dan drone. Serangan tersebut terjadi pada Sabtu (23/5/2026) malam hingga Minggu (24/5/2026) pagi. Dalam serangan tersebut, setidaknya empat orang tewas dan lebih dari 50 lainnya terluka. Selain itu, beberapa bangunan tempat tinggal juga rusak akibat serangan ini.
Untuk mencari solusi damai, Rusia dan Ukraina telah beberapa kali menggelar negosiasi bersama Amerika Serikat sebagai mediator. Negosiasi pertama dan kedua dihelat di Abu Dhabi, UEA, pada 23–24 Januari dan 4–5 Februari 2026. Namun, kedua upaya ini gagal mencapai kesepakatan perdamaian.
Negosiasi damai tahap ketiga juga diadakan di Jenewa, Swiss, pada 17 dan 18 Februari 2026. Sayangnya, negosiasi ini juga tidak berhasil menciptakan perdamaian antara kedua negara. Hal ini menunjukkan bahwa proses perdamaian antara Rusia dan Ukraina masih sangat rumit dan membutuhkan pendekatan yang lebih efektif.




