Nenek Saniah, 70, Selamat dari Reruntuhan Rumah Lebak

Diposting pada

Tragedi di Lebak: Lansia Terluka Akibat Rumah Roboh, Nasib Warga Tak Layak Huni Mengkhawatirkan

Lebak, Banten – Sebuah peristiwa memilukan terjadi di Kampung Kumpay, Desa Maraya, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten, ketika sebuah rumah yang telah puluhan tahun menjadi tempat tinggal seorang lansia, Saniah (70 tahun), roboh pada Sabtu, 28 Maret 2026, sekitar pukul 12.30 WIB. Akibat kejadian nahas tersebut, Saniah mengalami luka-luka di tubuhnya karena tertimpa reruntuhan bangunan.

Berdasarkan rekaman video yang beredar, rumah yang ditinggali korban kini tampak rata dengan tanah. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Maraya, Nasrudin, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menjelaskan bahwa rumah Saniah memang sudah lama dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan tidak layak huni, serta belum sempat diperbaiki.

“Benar, kejadian sekitar pukul 12.30 WIB. Rumah itu memang sudah tidak layak huni dan belum sempat diperbaiki,” ujar Nasrudin dalam sambungan telepon.

Kendala Administrasi dan Kemiskinan yang Berlapis

Nasrudin menambahkan bahwa Saniah tergolong sebagai warga yang sangat miskin. Sebelumnya, ia mengalami kendala administrasi yang signifikan, seperti tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Situasi ini menjadi penghalang utama dalam proses pengajuan bantuan perbaikan rumah maupun bantuan sosial lainnya.

“Ibu Saniah ini tergolong sangat miskin, dan sempat terkendala administrasi seperti tidak memiliki KTP dan Kartu Keluarga. Dokumen kependudukan Ibu Saniah baru selesai diurus dalam beberapa bulan terakhir,” terangnya.

Kronologi Kejadian dan Kondisi Korban

Saat rumahnya ambruk, Saniah diketahui berada di dalam bangunan tersebut. Reruntuhan bangunan menimpa dirinya, menyebabkan ia pingsan. Warga setempat sempat mengira Saniah tidak selamat karena pingsan selama kurang lebih dua jam.

“Sekarang sudah sadar, tapi mengalami luka terutama di bagian pinggang. Rencananya akan dibawa ke puskesmas untuk perawatan lebih lanjut,” jelas Nasrudin.

Saat ini, Saniah sementara waktu tinggal di rumah kerabatnya. Namun, kondisi rumah kerabatnya pun tidak jauh berbeda, yaitu sudah hampir roboh dan juga tidak layak huni.

Terputusnya Akses Bantuan Sosial

Ironisnya, Saniah belum pernah menerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Hal ini dikarenakan kendala administrasi kependudukan yang baru teratasi belakangan ini. Ditambah lagi, Saniah tidak memiliki keluarga dekat yang bisa menjadi penanggung jawab.

“Beliau ini tidak punya keluarga dekat, dan sebelumnya tidak memiliki identitas. Itu yang membuat bantuan tidak bisa masuk. Sekarang sebenarnya sedang diupayakan, tapi keburu kejadian rumahnya roboh,” ungkap Nasrudin.

Harapan untuk Pembangunan Kembali dan Potret Kemiskinan di Desa Maraya

Nasrudin sangat berharap pemerintah daerah dapat segera memberikan perhatian dan bantuan untuk membangun kembali rumah Saniah. Ia juga menambahkan bahwa warga desa siap untuk bergotong royong membantu proses pembangunan jika ada dukungan anggaran dari pemerintah.

“Harapannya ada bantuan untuk membangun rumahnya kembali. Kalau ada dana, masyarakat siap membantu tenaga. Yang penting ada modal awal,” katanya.

Lebih lanjut, Nasrudin mengungkapkan bahwa Desa Maraya masih menghadapi masalah serius terkait rumah tidak layak huni (RTLH). Diperkirakan sekitar 20 persen dari total 1.100 kepala keluarga di desa tersebut masih membutuhkan bantuan perbaikan rumah.

Tantangan Perumahan Layak Huni di Desa Maraya

Program Bantuan yang Terhambat

Pihak desa secara konsisten terus mengajukan permohonan bantuan untuk perbaikan rumah. Tercatat, sekitar 50 rumah di Desa Maraya telah berhasil direalisasikan pembangunannya melalui program bantuan dalam dua tahap, yaitu pada tahun 2023 dan 2024. Namun, realisasi program untuk tahun ini belum dapat dilaksanakan karena adanya efisiensi anggaran yang diberlakukan oleh pemerintah.

Situasi ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam upaya penyediaan perumahan yang layak bagi seluruh warganya. Kasus yang menimpa Saniah menjadi pengingat yang menyedihkan tentang kondisi sebagian masyarakat yang hidup dalam keterbatasan dan kerentanan.

Faktor-faktor Penyebab Rumah Tidak Layak Huni

Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tingginya jumlah rumah tidak layak huni di Desa Maraya meliputi:

  • Tingkat Kemiskinan: Sebagian besar warga yang tinggal di RTLH memiliki tingkat ekonomi yang sangat rendah, sehingga tidak mampu melakukan perbaikan secara mandiri.
  • Kendala Administrasi: Seperti yang dialami Saniah, kurangnya dokumen kependudukan menjadi hambatan dalam mengakses berbagai program bantuan pemerintah.
  • Usia Bangunan: Banyak rumah yang sudah tua dan lapuk, sehingga membutuhkan perbaikan struktural yang signifikan.
  • Bencana Alam: Beberapa rumah mungkin terdampak oleh bencana alam ringan yang mempercepat kerusakan.

Kebutuhan Mendesak

Peristiwa robohnya rumah Saniah menjadi cerminan dari kebutuhan mendesak akan adanya intervensi yang lebih kuat dari pemerintah daerah maupun pusat. Upaya untuk mempercepat proses administrasi, mempermudah akses bantuan, serta meningkatkan alokasi anggaran untuk program perumahan layak huni sangatlah krusial.

Selain itu, kesadaran masyarakat dan partisipasi aktif dalam program-program desa juga memegang peranan penting dalam mengatasi masalah ini. Gotong royong dan kepedulian sosial antarwarga dapat menjadi kekuatan tambahan dalam mewujudkan lingkungan yang lebih baik dan aman bagi semua.

Gambar Gravatar
Hidayat merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan