PIKIRAN RAKYAT – Anak berhadapan dengan hukum di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) sering mengalami masalah psikososial. Sebut saja regulasi emosi, ekspresi, komunikasi, dan kepercayaan diri yang kurang optimal. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan intervensi art therapy, khususnya puisi dan seni rupa.
Terapi seni terbukti efektif sebagai media katarsis emosional, mengurangi stres, dan meningkatkan regulasi emosi. Misalnya, puisi meningkatkan self-esteem dan keterampilan sosial, sedangkan seni lukis dan menulis memfasilitasi refleksi diri serta mengurangi kecemasan.
Berangkat dari hal itu, para murid SMA Kuntum Cemerlang menginisiasi proyek Akrab atau Aksi Kreatif Remaja untuk Asa Baru. Mereka membantu anak berhadapan dengan hukum di LPKA Bandung melalui terapi seni berbasis puisi dan galeri seni. Tujuannya, mendukung pemulihan psikososial, menyalurkan emosi, dan mempersiapkan mereka kembali ke masyarakat.

Karya mereka dipamerkan pada pameran “Akrab”, di Orbital Dago, Jalan Rancakendal Luhur, Bandung, 24 Desember 2025-10 Januari 2026. Deretan karya yang disajikan merupakan hasil dari proses pendampingan panjang yang berlangsung di LPKA Bandung pada 4 Oktober-6 Desember 2025.
Pembina seni rupa sekaligus pemilik Orbital Dago Rifky Effendy menjelaskan, “Akrab” hadir sebagai ruang tumbuh bagi anak berhadapan dengan hukum. Melalui karya, mereka menuturkan banyak kisah yang kerap tertahan. Ada suka duka yang tak terucap, luapan emosi berlapis, ingatan yang timbul tenggelam, serta pandangan hidup yang perlahan dirumuskan kembali.
“Karya menjadi jalan setapak menuju ruang yang lebih lapang. Tempat seni dirayakan sebagai proses berbagi, pelepasan, dan pencarian diri, tanpa tuntutan tema, batasan cara ungkap, dan tanpa keharusan menjelaskan segalanya,” tutur Rifky.
Menurut dia, dalam “Akrab” seni diposisikan sebagai bahasa, sebuah parole yang memberi ruang bagi keberadaan, kerentanan, dan kemungkinan untuk berubah. Lewat puisi dan karya visual, para peserta diajak mendengarkan diri sendiri, mengenali emosi, dan membangun kepercayaan atas pengalaman hidupnya.
Kebebasan
Karya-karya itu lahir dari kebebasan penuh berkarya. Membiarkan setiap goresan, warna, dan kata tumbuh secara organik sesuai ritme batin masing-masing.
“Tidak ada tema yang ditetapkan. Soalnya, yang dirayakan adalah kejujuran proses. Bagaimana sesuatu dirasakan sebelum diberi nama, dan bagaimana seni menjadi medium untuk menampungnya,” kata Rifky.
Dia menyebutkan, setiap karya menjadi fragmen percakapan batin. Sebagian lirih, sebagian meledak, dan sebagian lain hadir dalam diam. Hal itu memperlihatkan upaya memahami diri, menata ulang ingatan, serta merespons dunia di sekitarnya.

Pilihan medium, teknik, dan bentuk visual yang beragam tidak dimaknai sebagai perbedaan gaya semata. Akan tetapi, sebagai cara personal memandang persoalan, memperkarakannya, dan berdamai dengannya.
Rifky menegaskan, karya-karya tersebut tidak berdiri sebagai pengakuan masa lalu. Akan tetapi, sebagai penanda proses, bahwa perubahan berlangsung secara bertahap dan rapuh.
Rifky menyebutkan, pameran ini mengajak untuk memandang karya-karya dari anak berhadapan dengan hukum bukan dari latar belakang hukumnya. Namun, dari kemanusiaannya, sebagai individu yang sedang belajar, bertumbuh, dan menyiapkan diri untuk kembali menapaki kehidupan sosial.
“Dalam setiap karya yang dipajang, tersirat harapan sederhana tetapi mendasar. Bahwa, setiap anak layak mendapatkan ruang aman, kesempatan kedua, dan asa baru untuk melanjutkan hidup,” ujar Rifky.***




