Pelita Air Jatuh di Nunukan: Kronologi Maut Pilot

Diposting pada

Tragedi di Langit Nunukan: Pesawat Pelita Air Jatuh di Perbukitan

Wilayah perbatasan Kalimantan Utara kembali diguncang kabar duka akibat kecelakaan pesawat. Sebuah pesawat milik Pelita Air Service dilaporkan mengalami insiden tragis, jatuh di kawasan perbukitan Desa Pa Betung, Kecamatan Kerayan Timur, Kabupaten Nunukan. Peristiwa ini terjadi saat pesawat tengah dalam misi pengangkutan Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamina menuju Tarakan, sebuah rute vital yang sering dilalui untuk distribusi energi.

Sebelum pesawat sepenuhnya hilang dari pantauan radar, petugas sempat menerima sinyal darurat yang mengindikasikan adanya masalah serius. Kondisi cuaca di lokasi kejadian dilaporkan tidak ideal, ditandai dengan keberadaan awan rendah dan hujan ringan, faktor yang kerap menjadi tantangan dalam dunia penerbangan, terutama di medan yang berbukit.

Rangkaian Peristiwa Menuju Tragedi

Insiden yang merenggut nyawa ini terjadi pada Rabu, 17 Februari 2026. Pesawat dengan tipe AT-802 dan nomor registrasi PK-PAA, membawa nomor penerbangan PAS 7107, lepas landas dari Bandar Udara Long Bawan pada pukul 12.10 Waktu Indonesia Bagian Timur (WITA). Misi penerbangan ini berfokus pada pengangkutan BBM Pertamina, dan uniknya, pesawat hanya membawa satu kru, yakni pilot Kapten Hendrick Lodewyck Adam. Tidak ada awak kabin maupun penumpang lain dalam penerbangan naas tersebut, menegaskan fokus misi pada logistik.

Jadwal kedatangan pesawat di Tarakan adalah sekitar pukul 13.15 WITA. Namun, sebelum tragedi itu terjadi, pilot sempat melakukan komunikasi dengan Air Traffic Controller (ATC) Tarakan, melaporkan perkiraan waktu pesawat memasuki wilayah udara Malinau pada pukul 12.24 WITA.

Titik krusial dalam rangkaian peristiwa ini terjadi pada pukul 12.20 WITA. Hanya berselang sekitar sepuluh menit setelah lepas landas, pesawat mengirimkan sinyal emergency locator transmitter (ELT). Sinyal ini diterima oleh petugas ATC Tarakan, memberikan peringatan dini tentang situasi darurat yang tengah dihadapi pesawat.

Beberapa menit kemudian, tepatnya sekitar pukul 12.25 WITA, saksi mata yang berada di apron Bandara Long Bawan memberikan kesaksian yang mengerikan. Mereka melihat pesawat tersebut turun dalam posisi miring, mengarah ke arah belakang bukit di ujung landasan pacu 22. Pernyataan ini dikonfirmasi oleh Danlanud Anang Busra Tarakan, Marsma TNI Andreas Ardianto Dhewo, dalam sebuah konferensi pers.

Kesaksian dari warga sekitar semakin memperkuat dugaan jatuhnya pesawat. Mereka memperkirakan pesawat jatuh sekitar pukul 12.33 WITA. Laporan menyebutkan bahwa setelah menghantam medan perbukitan, pesawat mengalami kebakaran hebat, mengeluarkan kepulan asap hitam pekat yang dapat terlihat dari kejauhan, menjadi saksi bisu tragedi yang baru saja terjadi.

Informasi mengenai jatuhnya pesawat Pelita Air semakin terkonfirmasi ketika Unit Airnav Long Bawan menerima laporan dari pilot pesawat Susi Air. Pesawat Susi Air tersebut hendak memasuki wilayah Krayan namun terpaksa memilih kembali ke Malinau karena kondisi cuaca yang memburuk.

Dalam perjalanan kembalinya, pilot Susi Air melaporkan penerimaan sinyal EALT (Emergency Locator Transmission) dengan radius sekitar 5 kilometer dari arah final runway 22. Pada saat itu, wilayah Krayan dilaporkan sedang diguyur hujan ringan dengan jarak pandang yang terbatas, hanya sekitar 6 kilometer. Kondisi ini diperparah dengan ketinggian awan yang berada pada posisi broken 1.400 feet, dan bahkan sempat turun hingga sekitar 1.000 feet. Kombinasi faktor cuaca ini dinilai sangat berisiko tinggi bagi keselamatan penerbangan.

Upaya Pencarian dan Evakuasi Tim Gabungan

Menyusul laporan kepulan asap dari perbukitan di ujung landasan, tim gabungan yang terdiri dari Komandan Pos TNI Angkatan Udara, Danramil, serta masyarakat setempat segera bergerak menuju lokasi yang diduga sebagai titik jatuhnya pesawat. Perjalanan menuju lokasi terbukti sangat menantang, mengingat medan yang dilalui berupa perbukitan dengan akses yang sulit.

Pada pukul 14.33 WITA, tim gabungan berhasil mencapai lokasi dan menemukan pesawat dalam kondisi hancur lebur. Tragisnya, pilot Kapten Hendrick Lodewyck Adam, yang merupakan satu-satunya awak di pesawat, dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Proses evakuasi jenazah berlangsung secara manual karena kondisi medan yang ekstrem. Sekitar pukul 15.20 WITA, jenazah korban berhasil dievakuasi dan dibawa menuju Rumah Sakit Pratama Long Bawan untuk penanganan lebih lanjut.

Selain melakukan evakuasi korban, personel TNI juga segera mengamankan puing-puing pesawat. Langkah ini sangat penting untuk mendukung proses investigasi yang akan dilakukan oleh pihak berwenang. Pengamanan puing diharapkan dapat membantu mengungkap penyebab pasti dari kecelakaan ini secara akurat dan komprehensif.

Akibat dari insiden ini, penerbangan menuju Krayan terpaksa dihentikan sementara. Pihak Lanud menyatakan bahwa mereka telah berkoordinasi secara intensif dengan seluruh pemangku kepentingan terkait untuk penanganan insiden ini, termasuk langkah-langkah mitigasi dan pemulihan.

Perjalanan Terakhir Sang Pilot

Jenazah Kapten Hendrick Lodewyck Adam dijadwalkan untuk diterbangkan ke Jakarta pada hari Jumat, 20 Februari 2026. Rencananya, Komandan Lanud bersama Kepala Basarnas Tarakan dan perwakilan dari pihak maskapai akan berangkat menuju Krayan menggunakan pesawat jenis MEV.

Dari Krayan, jenazah akan diserahkan kepada pihak Pelita Air untuk diterbangkan menuju Balikpapan. Perjalanan terakhir sang pilot akan berlanjut dari Balikpapan menuju Jakarta menggunakan pesawat jenis Airbus milik Pelita Air, mengakhiri rangkaian perjalanan yang diwarnai tragedi. Insiden ini menjadi pengingat akan risiko yang dihadapi para penerbang dalam menjalankan tugasnya, terutama di wilayah dengan kondisi geografis dan cuaca yang menantang.

Gambar Gravatar
Rizki merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan