Dinkes Mimika Gelar Program Massal Pemberian Obat Cacing untuk Anak Usia 1-12 Tahun
Mimika, Papua Tengah – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, akan kembali menggelar program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Kecacingan pada Februari 2026. Program rutin ini dilaksanakan dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari dan Agustus, sebagai langkah strategis dalam mencegah penyakit kecacingan yang dapat mengancam tumbuh kembang anak.
Kamaludin, Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Mimika, menjelaskan bahwa program POPM Kecacingan akan menjangkau seluruh anak usia 1 hingga 12 tahun yang berada di seluruh wilayah Kabupaten Mimika. Ia menekankan pentingnya partisipasi aktif dari masyarakat, khususnya para orang tua.
“Selama satu bulan penuh nanti, anak-anak usia 1 sampai 12 tahun akan mendapatkan obat cacing. Kami sangat berharap masyarakat bisa menerima dan memastikan obat tersebut benar-benar diminum untuk memutus rantai penularan cacing,” ujar Kamaludin di Mimika, Sabtu, (31/1/2026).
Pemberian obat cacing ini akan disalurkan melalui berbagai fasilitas kesehatan dan pendidikan yang tersebar di Kabupaten Mimika. Di antaranya adalah melalui sekolah-sekolah, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), serta Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Selain itu, Dinkes Mimika juga akan mengerahkan petugas kesehatan untuk melakukan upaya sweeping atau penjangkauan kepada anak-anak yang belum menerima obat cacing.
Meskipun hingga saat ini belum tercatat adanya kasus kecacingan yang ekstrem di Kabupaten Mimika, Kamaludin menegaskan bahwa upaya pencegahan harus tetap dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Hal ini dikarenakan kecacingan, jika tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan dampak serius dan jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak.
Dampak Serius Kecacingan pada Tumbuh Kembang Anak
Penyakit kecacingan bukan sekadar gangguan kesehatan biasa. Jika tidak segera diintervensi, infeksi cacing dapat memicu serangkaian masalah kesehatan yang signifikan pada anak-anak.
- Anemia: Cacing, terutama cacing tambang, dapat menyerap nutrisi penting dari tubuh inangnya, termasuk zat besi. Hal ini dapat menyebabkan kekurangan zat besi yang berujung pada anemia. Anemia pada anak-anak dapat bermanifestasi sebagai kelelahan, pucat, dan penurunan konsentrasi.
- Gangguan Gizi: Keberadaan cacing di dalam saluran pencernaan dapat mengganggu proses penyerapan nutrisi dari makanan. Akibatnya, anak yang terinfeksi cacing seringkali mengalami kekurangan gizi meskipun asupan makanannya cukup. Gangguan gizi ini dapat menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan organ tubuh.
- Penurunan Kecerdasan: Dampak kecacingan terhadap kecerdasan anak merupakan salah satu kekhawatiran terbesar. Anemia dan malnutrisi yang disebabkan oleh infeksi cacing dapat mempengaruhi perkembangan otak, terutama pada usia sekolah. Hal ini berpotensi menurunkan kemampuan belajar, daya ingat, dan fungsi kognitif anak secara keseluruhan.
Faktor Pemicu dan Imbauan untuk Orang Tua
Penyakit kecacingan umumnya sangat erat kaitannya dengan kebersihan diri dan lingkungan. Beberapa faktor yang seringkali menjadi pemicu penularan cacing meliputi:
- Kebiasaan Bermain di Tanah Tanpa Alas Kaki: Telapak kaki yang tidak terlindungi merupakan jalur masuk yang mudah bagi telur cacing yang hidup di tanah untuk masuk ke dalam tubuh.
- Kebiasaan Tidak Mencuci Tangan: Tidak mencuci tangan sebelum makan, setelah buang air besar, atau setelah beraktivitas di luar rumah merupakan cara penularan yang paling umum. Tangan yang terkontaminasi dapat mentransfer telur cacing ke makanan atau langsung ke mulut.
- Sanitasi Lingkungan yang Buruk: Kurangnya akses terhadap fasilitas sanitasi yang memadai, seperti jamban sehat, serta pengelolaan sampah yang tidak baik, dapat menciptakan lingkungan yang subur bagi perkembangbiakan cacing.
Menyadari berbagai risiko tersebut, Dinkes Mimika melalui Kamaludin kembali mengimbau seluruh orang tua di Kabupaten Mimika untuk memberikan dukungan penuh terhadap program POPM Kecacingan. Peran aktif orang tua sangat krusial dalam memastikan keberhasilan program ini.
“Kami harap obat yang dibagikan benar-benar diminum, jangan hanya disimpan di rumah,” tegas Kamaludin, menekankan pentingnya pengawasan orang tua agar obat cacing dikonsumsi oleh anak-anak sesuai anjuran.
Kabupaten Mimika sendiri merupakan salah satu wilayah di Provinsi Papua Tengah yang memiliki karakteristik unik. Terdiri dari 18 distrik, Mimika dikenal sebagai “Kota Dolar” karena tingginya perputaran ekonomi di wilayah tersebut, menjadikannya salah satu yang tertinggi di enam provinsi se-Tanah Papua.
Julukan tersebut sebagian besar disebabkan oleh keberadaan PT Freeport Indonesia (PTFI), perusahaan tambang emas berskala internasional yang beroperasi di sana. Keberadaan PTFI juga menarik banyak tenaga kerja dari luar Indonesia, yang semakin memperkuat geliat ekonomi lokal. Upah Minimum Kabupaten (UMK) Mimika untuk periode 2025-2026 tercatat sebesar Rp5.005.678 per bulan, jauh melampaui UMK Kota Jayapura yang merupakan ibu kota Provinsi Papua.
Dengan kesadaran akan pentingnya kesehatan anak sebagai aset masa depan, program POPM Kecacingan ini diharapkan dapat berjalan lancar dan memberikan dampak positif yang signifikan bagi generasi muda di Kabupaten Mimika.


















