Batam – BP Batam secara resmi menegaskan bahwa pengembangan kawasan industri baru akan menjadi fokus prioritas di tahun ini. Target utamanya adalah menciptakan model kawasan industri berkelanjutan yang siap mengubah wajah ekonomi di wilayah BBK (Batam, Bintan, Karimun).
Langkah strategis ini bukan sekadar rencana lokal, melainkan bagian dari upaya nasional untuk memperkuat daya saing Kepulauan Riau. Tujuannya jelas: menarik investasi energi baru terbarukan (EBT) dan membuka peluang kerja yang luas bagi masyarakat.
Sinergi BP Batam dan Singapura untuk Kawasan Industri Berkelanjutan (SIZ)
Keseriusan ini terlihat dari pembahasan intensif terkait Kawasan Industri Berkelanjutan (Sustainable Industrial Zone/SIZ) bersama mitra regional.
Dalam kunjungan ke Sands Expo and Convention Centre di Singapura, Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, bersama Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, mengadakan pertemuan penting dengan Gan Siao Huang, Menteri Negara untuk Perdagangan dan Industri Singapura.
“Pertemuan ini untuk mendorong percepatan terhadap apa yang menjadi kebijakan Bapak Presiden. Singapura sangat antusias untuk segera mengonkretkan ide yang telah disepakati kedua negara,” tegas Amsakar usai pertemuan tersebut.
Kesepakatan ini membuktikan komitmen lintas negara untuk menjadikan industri hijau sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru di wilayah BBK. Ekosistem yang dibangun nantinya tidak hanya produktif, tapi juga ramah lingkungan dan inklusif.
Langkah Strategis dan Arah Kebijakan BP Batam 2025-2029
Pengembangan kawasan industri berkelanjutan telah masuk ke dalam Rencana Strategis BP Batam 2025-2029. Hal ini menandai pergeseran fokus pemerintah, dari sekadar membangun fasilitas fisik, beralih ke pembentukan ekosistem industri hijau berdaya saing tinggi.
Beberapa poin fokus pengembangannya meliputi:
- Pembangunan infrastruktur pendukung transisi energi.
- Pengelolaan limbah terpadu yang jauh lebih efisien.
- Menjadikan Batam, Rempang, dan Galang sebagai lokomotif ekonomi regional untuk investasi skema green economy dari Singapura.
Sebagai fondasi, Kementerian ESDM RI telah menandatangani MoU pelaksanaan kerja sama SIZ dengan Singapura. Selain itu, kolaborasi antara PT Rempang Energi Sentosa, PT Mustika Elok Graha (MEG), Keppel Energy, dan PT Karya Mineral Sentosa juga telah disepakati di Osaka untuk mempercepat pengembangan SIZ ini.
Dampak Multiplier: Investasi Energi dan Pertumbuhan Lapangan Kerja
Secara nasional, pengembangan Batam sebagai kawasan logistik dan industri hijau sejalan dengan visi ekonomi pemerintah.
Pengembangan kawasan industri baru Batam diproyeksikan memberikan multiplier effect (efek ganda) yang masif bagi masyarakat dan perekonomian, di antaranya:
- Terbukanya Lapangan Kerja Baru: Hadirnya pabrik manufaktur dan pengelolaan energi hijau akan menyerap banyak tenaga kerja lokal.
- Peningkatan Kapasitas Pelabuhan: Arus logistik akan semakin cepat dengan biaya yang lebih efisien.
- Transfer Teknologi Canggih: Hadirnya teknologi pengelolaan limbah terpadu dan energi terbarukan di Kepri.
Namun, tantangan implementasi tetap ada. Diperlukan koordinasi lintas kementerian, percepatan perizinan, serta infrastruktur pendukung agar proyek ini berjalan lancar.
Menjaga Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan
Pelaksanaan SIZ di BBK menuntut sinergi kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan investor swasta. Selain mengejar target ekonomi, aspek lingkungan hidup dan pelestarian ekosistem pesisir harus dijaga dengan cermat untuk menghindari konflik tata ruang.
Dengan tata kelola yang transparan dan perizinan yang jelas, pengembangan kawasan industri baru Batam diyakini tidak hanya akan mendongkrak ekonomi Kepri, tetapi juga menjadi percontohan ekosistem industri hijau terbaik di Asia Tenggara.

















