Tradisi Nyadran Sidoarjo Diguncang Insiden Karamnya Perahu Sound Horeg, Ratusan Kilo Beban Jadi Biang Kerok
Sidoarjo, Jawa Timur – Tradisi Nyadran di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Sidoarjo, Jawa Timur, yang seharusnya menjadi perayaan penuh suka cita, mendadak diwarnai insiden dramatis. Sebuah perahu yang dimodifikasi khusus untuk mengangkut perangkat sound horeg raksasa dilaporkan karam di bantaran Sungai Balongdowo pada Sabtu (7/2/2026) sore. Peristiwa ini sontak menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial.
Menurut penjelasan Kasat Polairud Polresta Sidoarjo, AKP Imam Yuwono, insiden tersebut terjadi sekitar pukul 16.30 WIB. Perahu yang digunakan merupakan hasil modifikasi dengan menggabungkan dua unit perahu sekaligus. Tujuannya tak lain adalah untuk menopang beban perangkat sound horeg yang berukuran sangat besar, termasuk generator set (genset) sebagai sumber dayanya.
“Perahunya dua digabung, untuk membawa sound, speaker, dan genset. Ternyata salah satunya tidak kuat menahan getaran akhirnya miring,” ungkap Imam.
Beban yang ditanggung oleh perahu tersebut diperkirakan mencapai satu ton, hanya untuk perangkat sound system itu sendiri. Ditambah lagi, perahu tersebut juga dipadati oleh lebih dari sepuluh orang yang sedang asyik berjoget menikmati alunan musik sebelum insiden terjadi. Kelebihan beban inilah yang diduga kuat menjadi penyebab utama perahu kehilangan keseimbangan dan akhirnya tenggelam bersama seluruh perlengkapan lighting dan sound system berukuran jumbo tersebut.
“Kira-kira beratnya sound saja itu satu ton. Terus yang naik mungkin 10-an orang. Begitu miring, alat-alatnya lighting, genset, sound, sempat dievakuasi. Enggak ada apa-apa, karena tidak kuat menahan beban,” papar Imam lebih lanjut.
Kejadian Berulang, Imbauan Keselamatan Ditegaskan
Yang lebih memprihatinkan, insiden karamnya perahu sound horeg ini bukanlah kali pertama terjadi di lokasi yang sama saat pelaksanaan Tradisi Nyadran. Imam Yuwono mengungkapkan bahwa peristiwa serupa telah tercatat sebanyak tiga kali. Dua tahun sebelumnya, insiden serupa juga sempat menggemparkan warga.
“Sudah 3 kali kejadian, 2 tahun kemarin juga sama [perahu sound horeg tenggelam],” ujar Imam dengan nada prihatin.
Namun, ada sedikit perbedaan signifikan dalam proses evakuasi kali ini. Beruntung, lokasi kejadian pada tahun ini berada di dekat permukiman warga. Hal ini memungkinkan proses evakuasi seluruh peralatan dan orang yang berada di atas perahu dapat dilakukan dengan cepat dan relatif mudah. Berbeda dengan kejadian di tahun-tahun sebelumnya yang lokasinya berada di area muara sungai, yang tentu saja menyulitkan upaya penyelamatan.
“Ini masih bisa diselamatkan karena dekat kampung. Kemarin itu dekat muara,” kenangnya.
Kapolsek Candi, Kompol Septiawan Adi Prihartono, turut mengonfirmasi bahwa seluruh alat dan perangkat elektronik yang sempat tercebur ke dalam sungai telah berhasil dievakuasi sepenuhnya. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, sehingga situasi dapat terkendali tanpa menimbulkan kerugian yang lebih besar.
“Untuk sementara sudah dievakuasi dan tidak ada korban jiwa,” tegas Septiawan.
Meskipun insiden tersebut sempat mengagetkan, rangkaian acara Tradisi Nyadran di Desa Balongdowo dilaporkan tetap berlanjut. Pihak kepolisian, melalui aparat yang bertugas, hanya dapat memberikan imbauan tegas kepada para penyelenggara acara. Imbauan tersebut berfokus pada pentingnya memperhatikan kapasitas muatan perahu yang digunakan, terutama untuk mengangkut perangkat berat seperti sound system dan genset, demi menjamin keselamatan bersama.
“Imbauan saja agar penyelenggara pakai perahu yang kuat untuk menopang bebannya,” tutupnya.




