Petani Gula Kristal Banyumas Sambut Teknologi Baru untuk Dongkrak Produksi
Di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Banyumas, terdapat para petani dan pengrajin gula kristal yang telah lama mengandalkan intuisi dan pengalaman bertahun-tahun dalam mengolah nira menjadi gula semut. Dakir, salah satu pengrajin gula kristal yang telah menekuni profesi sebagai penderes dan pengrajin gula semut selama puluhan tahun, mengakui bahwa selama ini keberhasilan produksinya lebih banyak ditentukan oleh “feeling” yang terasah dari pengalaman sehari-hari dibandingkan alat ukur atau teknologi modern. Namun, pendekatan tradisional ini kini mulai berpadu dengan ilmu pengetahuan berkat program pengabdian masyarakat yang digagas oleh Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM).
Program yang dipimpin oleh Dr. Sri Rahayoe, S.T.P, M.P. dari Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem UGM, bersama tim dosen lintas bidang dan mitra akademik internasional dari Universiti Putra Malaysia, memperkenalkan teknologi tepat guna berupa evaporator dan kristalisator kepada para pengrajin gula semut di Cilongok. Teknologi ini diharapkan dapat menjadi alternatif bagi petani untuk meningkatkan kualitas produksi gula semut.
Dakir, yang menjadi salah satu peserta pelatihan, menyambut baik inovasi ini. Ia menyatakan bahwa meskipun cara-cara ilmiah dan teknologi baru sangat baik, petani selama ini lebih banyak mengandalkan intuisi yang terbangun dari pengalaman. “Tanggapannya bagus. Memang bagus karena ini cara-cara keilmuan, cara sekolah. Tapi kalau petani kan selama ini ilmunya lebih banyak feeling,” ujar Dakir. Ia juga menekankan bahwa keberhasilan penerapan teknologi pada akhirnya sangat bergantung pada kemampuan pengguna dalam mengoperasikan alat tersebut. “Pada akhirnya semuanya tergantung pemakaiannya. Teknologinya bagus, tetapi petani juga punya pengalaman yang selama ini menjadi pegangan dalam bekerja,” tambahnya.
Mengolah Nira: Perpaduan Pengalaman dan Sains
Bagi para petani gula semut di Cilongok, mengolah nira menjadi gula kristal bukanlah perkara mudah. Namun, Dakir menjelaskan bahwa kesulitan tersebut sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian yang menjadi sumber penghasilan mereka. “Kalau dibilang sulit ya sulit, tapi kalau dibilang tidak sulit juga tidak. Karena ini sudah menjadi pekerjaan sehari-hari dan sumber penghasilan kami. Mau bagaimana pun tetap harus dijalani,” tuturnya.
Tradisi mengolah nira di Cilongok lebih banyak mengandalkan pengalaman daripada alat ukur. Intuisi petani digunakan dalam berbagai tahapan proses produksi, mulai dari pemasakan nira hingga menentukan apakah nira tersebut berpotensi menjadi gula kristal atau lebih baik diubah menjadi gula cetak. “Kalau feeling sudah mengatakan tidak jadi kristal, biasanya langsung dicetak. Jadi lebih banyak berdasarkan pengalaman, bukan mengukur dengan alat,” jelas Dakir.
Salah satu tantangan terbesar dalam produksi gula semut adalah fluktuasi kualitas nira yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca. “Kalau cuaca hujan atau berubah-ubah, kualitas niranya juga berbeda. Ada yang bagus, ada yang kurang bagus,” kata Dakir. Untuk mengatasi hal ini, para pengrajin gula semut biasanya mencampur nira dari berbagai hasil sadapan. Tujuannya adalah untuk meratakan kualitas bahan baku, sehingga peluang menghasilkan gula kristal menjadi lebih besar. “Kalau dipisah-pisah, ada yang tidak jadi. Karena itu biasanya dicampur jadi satu supaya hasilnya lebih bagus,” terangnya.
Rutinitas Penderes dan Hasil Produksi
Sebagai seorang penderes aktif, Dakir menjalani rutinitas yang cukup berat. Setiap hari, ia harus memanjat sekitar 20 hingga 21 pohon kelapa untuk menyadap nira. Dari aktivitas ini, ia mampu mengumpulkan sekitar 40 hingga 50 liter nira setiap harinya. Nira sebanyak itu kemudian diolah menjadi kurang lebih delapan kilogram gula semut atau gula kristal.
Hasil produksi ini kemudian dijual kepada pengepul dengan harga yang mengikuti dinamika pasar. Saat ini, harga gula semut yang diterima oleh petani berkisar di angka Rp 21.500 per kilogram. “Saya jual ke pengepul. Harganya sekarang sekitar Rp 21.500 per kilogram. Petani biasanya mengikuti harga dari pembeli,” ungkap Dakir.
Harapan untuk Masa Depan: Sinergi Teknologi dan Tradisi
Meskipun menyambut baik kehadiran teknologi yang diperkenalkan oleh UGM, Dakir menyadari bahwa proses adaptasi memerlukan waktu. Ia menjelaskan bahwa selama ini, pekerjaan membuat gula semut dapat dilakukan oleh hampir seluruh anggota keluarga karena mengandalkan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun. Sebaliknya, penggunaan mesin dan peralatan baru membutuhkan pemahaman teknis yang spesifik.
“Kalau teknologi dan mesin tentu harus belajar lagi. Tapi semuanya bagus. Setiap orang punya pendapat masing-masing,” ujarnya. Dakir memiliki harapan besar agar inovasi yang diperkenalkan UGM dapat memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas gula semut Banyumas. Yang terpenting baginya adalah pengetahuan tradisional yang telah menjadi modal utama para petani tidak hilang.
Ia percaya bahwa pengalaman lapangan dan teknologi tidak harus saling menggantikan, melainkan dapat berjalan berdampingan untuk menghasilkan produk yang lebih baik. “Kalau cuacanya bagus, biasanya gula kristal juga jadi bagus. Yang penting petani tetap bisa bekerja dan hasilnya meningkat,” pungkasnya, optimis menyambut masa depan produksi gula kristal di daerahnya.



















