Penguatan Kemitraan Strategis: Indonesia dan Pakistan Tingkatkan Kolaborasi Pertahanan
Kunjungan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Pakistan, Marsekal Zaheer Ahmad Babar Sidhu, ke Indonesia pada Februari 2026 lalu menjadi penanda penting dalam upaya kedua negara untuk mempererat hubungan bilateral, khususnya di sektor pertahanan. Kunjungan ini diisi dengan serangkaian pertemuan strategis dengan para petinggi Indonesia, yang menegaskan komitmen bersama untuk meningkatkan kerja sama di berbagai bidang.
Marsekal Zaheer Ahmad Babar Sidhu telah melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Dalam pertemuan tersebut, KSAU Pakistan didampingi oleh KSAU Indonesia, Marsekal Mohamad Tonny Harjono, dan Kabaloghan Kementerian Pertahanan, Marsdya Yusuf Jauhari.
Sebelum bertemu dengan Presiden Prabowo, Marsekal Zaheer telah menjalin komunikasi dengan beberapa pejabat kunci di sektor pertahanan Indonesia. Ia telah bertemu dengan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Pada hari yang sama, Marsekal Zaheer juga diterima oleh KSAU Tonny Harjono di Markas Besar Angkatan Udara, Cilangkap.
Modal Historis dan Geopolitik untuk Kemitraan
Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri, yang turut hadir dalam pertemuan di Istana Kepresidenan, menyoroti peran penting hubungan historis antara kedua negara. Menurutnya, kedekatan yang telah terjalin bahkan sebelum kedua negara merdeka menjadi modal berharga untuk memperkuat kemitraan strategis.
“Pakistan dan Indonesia adalah dua negara bersaudara. Secara historis, kita telah menjalin hubungan bilateral yang sangat baik. Dan saya sangat senang mengatakan bahwa hubungan antara kedua bangsa kita ini telah ada bahkan sebelum kemerdekaan kedua negara kita,” ungkap Zahid kepada awak media.
Dalam konteks geopolitik dan kerja sama dunia Islam, Zahid menekankan arti penting kolaborasi antara Indonesia dan Pakistan, yang secara kolektif mewakili lebih dari seperempat populasi Muslim dunia. Hal ini membuka peluang besar untuk kerja sama dalam berbagai isu global dan regional.
Kolaborasi Pertahanan yang Semakin Intensif
Aspek kerja sama pertahanan menjadi salah satu fokus utama dalam pembicaraan antara kedua negara. Zahid Hafeez Chaudhri menegaskan bahwa kolaborasi di sektor ini berjalan sangat baik dan terus diupayakan peningkatannya.
“Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Pakistan dan Indonesia memiliki kerja sama yang sangat baik di semua bidang, termasuk kolaborasi sektor pertahanan. Kami telah melatih Perwira Angkatan Bersenjata Indonesia dan kami akan terus meningkatkan kolaborasi sektor pertahanan bilateral kami,” jelas Zahid.
Peningkatan intensitas kunjungan pejabat tinggi kedua negara menjadi bukti nyata dari penguatan hubungan ini. Selain kunjungan Marsekal Zaheer, Indonesia juga telah menerima kunjungan dari Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Investasi Rosan Perkasa Roeslani, serta kunjungan Menteri Kesehatan Pakistan ke Jakarta beberapa waktu lalu. Zahid juga mengisyaratkan akan adanya pertemuan tingkat tinggi lainnya dalam waktu dekat.
Titik Balik Hubungan Bilateral
Menurut Zahid, momentum penguatan hubungan bilateral antara Pakistan dan Indonesia semakin terasa dalam beberapa bulan terakhir. Ia secara khusus menyebut kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Islamabad pada Januari 2026 sebagai sebuah titik balik yang signifikan dalam hubungan bilateral kedua negara yang sudah terjalin baik.
“Bulan lalu, ketika Presiden Indonesia, Yang Mulia Prabowo Subianto mengunjungi Pakistan, saya dapat mengatakan bahwa itu adalah titik balik yang signifikan dalam hubungan bilateral kita yang sudah sangat baik,” ujar Zahid.

Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (12/2/2026) malam WIB. – (BPMI Setpres)
Dukungan untuk Forum Developing Eight (D8)
Selain kerja sama pertahanan, Pakistan juga menyatakan harapan besarnya terhadap peran Indonesia dalam forum Developing Eight (D8). Pakistan siap mendukung penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D8 yang rencananya akan digelar di Jakarta pada April 2026.
“Dan kami berharap dapat bekerja sama dengan Indonesia untuk kesuksesan KTT mendatang di Indonesia, dan juga untuk kesuksesan D8 sebagai organisasi kerja sama di antara delapan negara berkembang,” kata Zahid.
Potensi Pengadaan Alutsista
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam kunjungannya ke Islamabad pada Januari 2026 juga telah menjajaki potensi kerja sama pertahanan yang lebih konkret. Beliau bertemu dengan tiga tokoh penting Pakistan di bidang pertahanan, yaitu Menteri Produksi Pertahanan Pakistan Muhammad Raza Hayat Harraj, Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Marsekal Lapangan Syed Asim Munir, dan KSAU Pakistan Marsekal Zaheer Ahmad Babar Sidhu.
Pembahasan dalam pertemuan tersebut dilaporkan mencakup potensi kesepakatan pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista), termasuk penjualan jet tempur dan drone kamikaze. Secara spesifik, pembicaraan difokuskan pada potensi penjualan jet tempur JF-17 Thunder Block III, yang merupakan hasil pengembangan bersama antara Pakistan dan China, serta drone Shahpar-ll yang dirancang untuk pengawasan dan serangan.
Menurut informasi dari beberapa pejabat keamanan, pembicaraan tersebut berada pada tahap lanjut dan bahkan melibatkan potensi pengadaan lebih dari 40 unit jet JF-17. Meskipun detail mengenai jadwal pengiriman dan durasi kesepakatan belum diungkapkan, indikasi ini menunjukkan keseriusan kedua negara dalam memperdalam kolaborasi industri pertahanan.




















