Kenaikan Rasio Pajak Indonesia pada Kuartal Pertama 2026
Indonesia mencatat kenaikan rasio pajak pada kuartal pertama tahun 2026. Namun, perubahan tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental dalam penerimaan negara. Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa peningkatan ini lebih merupakan normalisasi setelah tingkat penerimaan yang lemah pada tahun sebelumnya.
Rasio pajak dalam arti sempit pada kuartal I-2026 mencapai 7,48%, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 7,06%. Kenaikan sekitar 0,42 poin persentase secara tahunan menunjukkan adanya perbaikan kemampuan pemerintah dalam mengonversi pertumbuhan ekonomi menjadi penerimaan pajak.
Sementara itu, rasio pajak dalam arti luas, yang turut memasukkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor sumber daya alam (SDA), tercatat sebesar 8,35% pada kuartal I-2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian kuartal I-2025 yang sebesar 7,96%.
Namun demikian, Yusuf mengingatkan bahwa capaian kuartal pertama tidak dapat dibaca secara linear untuk menggambarkan kondisi penerimaan sepanjang tahun. Menurutnya, secara musiman, kuartal pertama selalu rendah karena restitusi pajak menumpuk di awal tahun, sementara setoran PPh Badan baru kuat di kuartal kedua.
Ia memperkirakan rasio pajak Indonesia sepanjang 2026 kemungkinan hanya berada di kisaran 9,5% hingga 10,2%. Angka tersebut masih berada di bawah target pemerintah dan cukup jauh dari sasaran rasio pajak 13% yang ingin dicapai pada akhir periode pemerintahan.
Menurut Yusuf, persoalan utama bukan sekadar fluktuasi tahunan, melainkan tren jangka panjang yang menunjukkan pelemahan basis pajak nasional. Dalam hampir dua dekade terakhir, rasio pajak Indonesia tidak menunjukkan kecenderungan naik, tetapi justru cenderung turun. Dari level sekitar 13% di akhir 2000-an, kita turun dan bertahan di kisaran 10% dalam beberapa tahun terakhir.
Yusuf menilai perbaikan pada awal 2026 lebih tepat dipahami sebagai normalisasi dari basis penerimaan 2025 yang lemah, bukan indikasi adanya akselerasi fundamental dalam penerimaan pajak. Ia menyatakan bahwa target rasio pajak 13% akan sulit dicapai apabila persoalan struktural belum dibenahi.
Tiga Tekanan Utama dalam Penerimaan Pajak
- Pelembahan sektor manufaktur yang menyebabkan basis Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) Badan tidak berkembang optimal.
- Struktur pasar tenaga kerja yang semakin informal. Dengan proporsi pekerja formal yang masih sekitar 40%, basis penerimaan PPh Pasal 21 menjadi relatif terbatas.
- Tax gap yang masih besar. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan hanya soal tarif pajak, tetapi juga kepatuhan dan kapasitas administrasi dalam menangkap potensi pajak yang sudah ada.
Di sisi lain, Yusuf menilai strategi fiskal pemerintah saat ini juga menghadirkan dilema tersendiri. Berbagai insentif pajak untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dinilai berpotensi menekan rasio pajak dalam jangka pendek.
- Insentif seperti PPN Ditanggung Pemerintah untuk properti dan kendaraan listrik, PPh final UMKM yang rendah, hingga berbagai fasilitas lainnya, semuanya menekan penerimaan di sisi numerator.
Karena itu, menurut Yusuf, peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan rasio pajak tidak selalu berjalan searah. Ia menambahkan, pencapaian rasio pajak 13% tetap mungkin dilakukan, tetapi membutuhkan reformasi yang bersifat struktural dan simultan.
Reindustrialisasi dan Formalisasi UMKM
Perbaikan administrasi melalui sistem seperti Coretax memang penting, tetapi tidak cukup kalau tidak diiringi perluasan basis ekonomi formal. Yusuf menilai reindustrialisasi menjadi kunci karena sektor manufaktur merupakan sumber penerimaan pajak yang stabil dan besar. Selain itu, formalisasi UMKM juga perlu dipercepat agar aktivitas ekonomi yang selama ini berada di luar sistem dapat masuk ke dalam basis perpajakan.
Sementara instrumen baru seperti pajak karbon dan pajak ekonomi digital dinilai dapat membantu memperkuat penerimaan, meski sifatnya hanya sebagai pelengkap, bukan solusi utama.


















