Nama Atta Halilintar kini identik dengan kesuksesan. Ia dikenal luas sebagai salah satu YouTuber, pengusaha, dan figur publik paling berpengaruh di Indonesia. Suami dari Aurel Hermansyah ini seringkali dikaitkan dengan gaya hidup mewah dan kesuksesan finansial yang gemilang. Namun, di balik citra tersebut, Atta menyimpan jejak perjuangan yang panjang dan penuh pengorbanan, terutama dalam perannya sebagai anak sulung yang harus turut serta menghidupi keluarga besar Gen Halilintar.
Perjuangan Sejak Dini: Mengorbankan Pendidikan Demi Keluarga
Kisah masa kecil Atta Halilintar ternyata jauh dari kata berkelimpahan. Sebagai anak sulung dari sebelas bersaudara, ia dihadapkan pada pilihan sulit yang memaksanya mengorbankan pendidikan formalnya. Atta terpaksa berhenti sekolah saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Keputusan berat ini diambil bukan karena ketidakmauan belajar, melainkan demi membantu orang tuanya dalam menghadapi masa-masa sulit ekonomi keluarga.
Ia baru dapat mengejar ketertinggalan pendidikannya di kemudian hari. Baru pada usia 28 tahun, Atta Halilintar berhasil mendapatkan ijazah setara Sekolah Menengah Atas (SMA) melalui program Kejar Paket C. Pengakuan ini ia sampaikan sendiri dalam sebuah wawancara di kanal YouTube C8 Podcast.
“Aku lulusan SD. SMP-SMA-nya aku akhirnya ambil paket. Aku tuh pas ujian SMA tuh baru umur 28 kemarin,” ungkap Atta, menunjukkan betapa panjang rentang waktu yang ia tempuh untuk menyelesaikan pendidikan setingkat SMA.
Insting Bisnis Sejak Remaja: Dari Jualan Kebab hingga Omzet Miliaran
Sejak usia belia, Atta Halilintar sudah menunjukkan bakat dan insting bisnis yang tajam. Saat usianya masih belasan tahun, sekitar 13-14 tahun, ia sudah mampu meraup omzet penjualan telepon genggam hingga mencapai angka Rp1 miliar. Kemampuannya dalam berdagang tidak berhenti di situ. Ia juga tidak gengsi untuk melakukan pekerjaan yang mungkin dianggap sederhana, seperti berjualan kebab secara door-to-door.
Fakta tentang masa lalu Atta yang pernah berjualan kebab ini bahkan sempat mengejutkan sang istri, Aurel Hermansyah. Aurel menceritakan pengalamannya yang tidak sengaja mendengar cerita dari seorang makeup artist yang ternyata memiliki hubungan keluarga dengannya.
“Aku dulu pernah kaget, lagi makeup tiba-tiba makeup artist-nya cerita, ‘Rel kamu tahu nggak Mas Atta tuh pernah jualan kebab sama keluarganya di acara nikahan keluargaku’. Aku kaget! Hah? Kebab? Karena Atta belum cerita,” tutur Aurel, menggambarkan keterkejutannya saat mengetahui sisi lain dari suaminya.
Atta membenarkan cerita tersebut. Ia mengakui bahwa setelah berhenti sekolah, ia memanfaatkan masa remajanya untuk mendatangi berbagai acara, seperti pesta ulang tahun dan pernikahan, demi menawarkan dagangannya.
“Pokoknya habis berhenti sekolah tuh aku jualin semuanya. Nanti ada acara dia pesen 100 porsi, 200 porsi, aku siapin tuh sama Thariq dan adik-adik ke sana,” jelas Atta, mengisahkan bagaimana ia bersama adik-adiknya, termasuk Thariq Halilintar, turut serta dalam upaya mencari nafkah keluarga.
Pengorbanan Paling Dalam: Mengalah Demi Adik-Adik
Perjuangan Atta Halilintar tidak hanya sebatas lelah bekerja keras. Sebagai anak sulung, ia juga seringkali harus menahan rasa lapar demi memastikan adik-adiknya mendapatkan jatah makan yang cukup. Ada kalanya, saat makanan yang tersedia sangat terbatas, seperti sepotong telur dadar yang harus dibagi untuk belasan orang, Atta selalu memilih untuk mengambil bagian terkecil atau bahkan rela tidak makan sama sekali. Keputusannya ini didasari oleh rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap keluarga.
“Kalau bapakku punya anak 11 kan lelah ya dia. Tapi duitnya (jualan) kan bukan buat aku, buat orang tua ngidupin kita semua. Aku ngerasa cukup bertanggung jawab di kehidupan pada saat itu,” tegas Atta, menggambarkan beban dan tanggung jawab yang ia pikul di usia muda.
Kesadaran akan peran dan tanggung jawabnya sebagai kakak tertua dalam keluarga besar Gen Halilintar menjadi motivasi utama Atta untuk terus berjuang. Ia memahami bahwa setiap hasil jerih payahnya saat itu ditujukan untuk kelangsungan hidup seluruh anggota keluarga.
Buah Manis Perjuangan: Dari Kesulitan Menjadi Miliarder
Perjuangan pahit yang telah dilalui Atta Halilintar semasa kecilnya kini berbuah manis. Pengalaman hidup yang keras dan penuh pengorbanan tersebut terbukti berhasil menempa karakternya. Ketekunan, kerja keras, dan insting bisnis yang diasah sejak dini membawanya pada kesuksesan yang luar biasa. Kini, Atta Halilintar tidak hanya dikenal sebagai figur publik ternama, tetapi juga sebagai seorang miliarder muda yang inspiratif, membuktikan bahwa latar belakang sulit bukanlah penghalang untuk meraih impian. Kisahnya menjadi bukti nyata bahwa ketekunan dan pengorbanan dapat membuka jalan menuju kesuksesan yang gemilang.




