Kesehatan Mental Remaja Indonesia: Tantangan Fungsi Eksekutif dan Jalan Keluar
Fenomena peningkatan akses remaja Indonesia terhadap layanan kesehatan jiwa belakangan ini bukanlah tanpa sebab. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mencatat adanya korelasi kuat antara peningkatan ini dengan melonjaknya tingkat kecemasan, depresi, dan disregulasi emosi di kalangan generasi muda.
“Kami mengamati adanya gangguan yang signifikan pada fungsi kognitif remaja,” ujar dr. Zulvia Oktanida Syairf, Sp.KJ, Bidang Humas Pengurus Pusat PDSKJI. Ia menambahkan, penelitian terhadap daya pikir, memori, konsentrasi, kemampuan pengambilan keputusan, dan pengendalian impuls pada remaja menunjukkan hasil yang memprihatinkan, yaitu tingkat yang cenderung rendah.
Tahap Perkembangan Otak Remaja yang Belum Sempurna
Fase remaja merupakan periode krusial dalam perkembangan otak. Pada tahap ini, otak belum sepenuhnya matang, terutama area yang bertanggung jawab untuk fungsi eksekutif. Penurunan fungsi kognitif ini disinyalir menjadi akar dari berbagai permasalahan yang muncul, seperti meningkatnya angka agresivitas, kasus perundungan (bullying), tingkat impulsivitas yang tinggi, serta kesulitan dalam meregulasi emosi.
“Akibatnya, berbagai masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi menjadi semakin rentan dialami oleh remaja saat ini,” jelas dr. Vivi. Kondisi ini secara paradoks justru mendorong remaja untuk lebih terbuka dalam mencari bantuan dan mengakses layanan kesehatan mental yang tersedia.
Riset Mendalam tentang Penurunan Fungsi Kognitif pada Remaja
Kondisi kesehatan mental pada anak dan remaja memang menjadi perhatian serius. Mantan Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D, pernah mengungkapkan bahwa dari data pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang menjangkau sekitar 20 juta jiwa, terdapat lebih dari dua juta anak yang mengalami gangguan kesehatan mental.
Menanggapi temuan tersebut dan sejalan dengan visi pemerintah untuk menciptakan Generasi Emas Indonesia pada tahun 2045, PDSKJI menekankan pentingnya solusi jangka panjang yang berakar pada penguatan fungsi eksekutif pada anak dan remaja.
“Fungsi eksekutif adalah pusat kendali otak yang krusial untuk kemampuan mengatur diri, berpikir fleksibel, dan mengambil keputusan yang bijak,” terang Dr. dr. Suzy Yusna Dewi, Sp.KJ(K), MARS, Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan, dan Penelitian PP PDSKJI. Beliau menegaskan bahwa gangguan pada fungsi ini bukanlah sekadar masalah perilaku, melainkan sebuah persoalan biologis otak yang memerlukan penanganan ilmiah.
Gangguan fungsi eksekutif ini memiliki dampak langsung pada berbagai aspek kehidupan remaja, termasuk kemampuan belajar, kontrol diri, pengambilan keputusan, dan relasi sosial, yang pada akhirnya berkontribusi pada kondisi seperti kecemasan, depresi, dan kesulitan dalam mengatur emosi.
Faktor-faktor Penyebab Gangguan Fungsi Kognitif pada Remaja
Era digital, meskipun mempercepat proses belajar, juga berpotensi mempercepat disfungsi otak jika penggunaannya tidak terkendali. Paparan gawai (gadget) yang berlebihan, ditambah dengan perundungan daring (cyberbullying) dan tekanan sosial yang tinggi, secara signifikan menghambat perkembangan area otak depan atau prefrontal cortex, yang merupakan pusat fungsi eksekutif.
“Anak dan remaja yang fungsi eksekutifnya belum matang lebih rentan mengalami stres, kemarahan, kesulitan fokus, dan kehilangan arah tujuan hidup. Ini bukan sekadar masalah karakter, melainkan kondisi biologis yang membutuhkan intervensi dini,” ujar dr. Suzy.
Hasil Riset PDSKJI: Gambaran Fungsi Eksekutif Remaja Indonesia
Menyadari urgensi masalah ini, PDSKJI melakukan riset nasional yang melibatkan 624 remaja berusia 13-24 tahun dari berbagai wilayah di Indonesia. Penelitian ini menggunakan Alat Ukur Fungsi Eksekutif Indonesia (AUFEI), yang dikembangkan dan diadaptasi sesuai konteks budaya Indonesia. AUFEI mencakup lima domain utama: Working Memory, Inhibitory Control, Cognitive Flexibility, Planning and Organization, dan Spiritual Function.
Hasil riset menunjukkan temuan yang mengkhawatirkan:
- 507 remaja (mayoritas) belum berkembang secara optimal pada fungsi eksekutif.
- Hanya 117 remaja yang menunjukkan perkembangan baik pada fungsi eksekutif.
Lebih rinci, hasil riset menunjukkan:
- Working Memory: Sebanyak 39,8 persen remaja memiliki working memory yang belum berkembang. Hal ini berdampak pada mudahnya terpecah fokus dan kesulitan menimbang konsekuensi dari tindakan yang diambil.
- Inhibitory Control: Sekitar 32,7 persen remaja masih kesulitan menahan impuls, yang menjelaskan mengapa banyak remaja cenderung mudah tersulut emosi dan bertindak tanpa pertimbangan matang.
- Cognitive Flexibility: Sebanyak 38 persen remaja berkembang dengan baik dalam domain ini, menunjukkan kemampuan beradaptasi yang baik. Namun, kemampuan ini belum diimbangi dengan kematangan dalam aspek lain.
- Planning and Organization: Sebanyak 65,5 persen remaja masih berada pada tahap awal perkembangan. Mereka mungkin menyadari kesalahan, namun belum mampu merancang langkah-langkah konkret untuk memperbaikinya.
- Spiritual Functioning: 55,4 persen remaja menunjukkan spiritual functioning yang belum matang. Ini berarti nilai, makna hidup, dan batasan moral belum terbentuk kuat sebagai ‘rem’ saat menghadapi tekanan sosial atau krisis eksistensial.
Temuan krusial dari riset ini adalah adanya korelasi kuat antara gangguan fungsi eksekutif dengan peningkatan depresi, perilaku impulsif, penurunan motivasi belajar, serta kecenderungan terhadap perundungan dan adiksi digital.
Langkah Konkret yang Dapat Diambil
Menghadapi tantangan ini, intervensi yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak menjadi kunci. Menurut dr. Suzy, langkah-langkah yang dapat diambil meliputi:
- Keterlibatan Sekolah, Keluarga, Tenaga Kesehatan, dan Pembuat Kebijakan: Kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan kesehatan mental remaja.
- Skrining Rutin: Melakukan skrining fungsi eksekutif dan kesehatan mental secara rutin di lingkungan sekolah dapat membantu mendeteksi dini masalah yang ada.
- Edukasi bagi Guru dan Orang Tua: Memberikan pemahaman kepada guru dan orang tua mengenai tanda-tanda awal kesulitan regulasi emosi dan perilaku pada remaja sangat krusial.
- Akses Mudah ke Layanan Kesehatan Jiwa: Memastikan remaja memiliki akses yang mudah dan terjangkau ke layanan kesehatan jiwa profesional, seperti konsultasi dengan psikiater dan psikolog klinis, adalah prioritas utama.
Dengan upaya bersama, diharapkan generasi muda Indonesia dapat tumbuh dengan fungsi eksekutif yang optimal dan kesehatan mental yang prima, siap menghadapi masa depan.
















