Menemukan Makna dalam Kehendak Ilahi: Refleksi Mendalam untuk Hari Selasa, Juni 2026
Pada hari Selasa, Juni 2026, Gereja Katolik merayakan peringatan fakultatif Santo Marselinus dan Petrus Martir Gereja Katolik, Para Martir dari Lyon, Prancis, Santo Erasmus, Uskup dan Martir, serta Santo Nicephorus dari Konstantinopel, Pengaku Iman. Perayaan ini dilangsungkan dengan warna liturgi hijau, melambangkan pertumbuhan dan harapan. Tema utama yang diangkat dalam renungan hari ini adalah “Fokus pada Kehendak Allah”.
Dalam menghadapi berbagai tantangan dan harapan dunia, khususnya setelah pemilihan Paus Leo XIV pada 8 Mei 2025, umat diajak untuk menengok kembali esensi panggilan hidup Kristiani. Dunia saat ini mendambakan sosok pemimpin yang mampu merajut perdamaian, bukan yang memicu konflik. Di sinilah pentingnya refleksi mendalam mengenai bagaimana kita menempatkan kehendak Allah di atas segalanya.
Bacaan Liturgi Hari Ini: Fondasi Refleksi
Untuk memperkaya pemahaman kita, mari kita simak bacaan-bacaan liturgi yang disajikan pada hari ini:
-
Bacaan Pertama: 2 Petrus 3:12-15a, 17-18
Rasul Petrus dalam suratnya mengingatkan umat akan penantian kedatangan hari Tuhan. Ia menekankan bahwa pada hari itu, langit dan unsur-unsur dunia akan mengalami perubahan besar, namun janji tentang langit dan bumi yang baru, tempat kebenaran bersemayam, akan terwujud. Oleh karena itu, umat diajak untuk senantiasa berusaha agar ditemukan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan Tuhan, serta hidup dalam kedamaian dengan-Nya. Kesabaran Tuhan hendaknya menjadi kesempatan bagi kita untuk memperoleh keselamatan, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasul Paulus. Petrus juga memperingatkan agar umat waspada terhadap kesesatan dan tetap berpegang teguh pada iman, serta bertumbuh dalam kasih karunia dan pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus.
“Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.”
-
Mazmur Tanggapan: Mazmur 90:2, 3-4, 10, 14, 16
Mazmur ini mengungkapkan betapa singkatnya usia manusia jika dibandingkan dengan kekekalan Tuhan. Seribu tahun di hadapan Tuhan sama seperti kemarin yang telah berlalu. Masa hidup manusia yang terbatas, seringkali dipenuhi kesukaran dan penderitaan, namun umat memohon agar Tuhan mengenyangkan mereka di waktu pagi dengan kasih setia-Nya, agar mereka dapat bersukacita sepanjang hari. Doa juga dipanjatkan agar perbuatan Tuhan dan kemuliaan-Nya terlihat oleh hamba-hamba-Nya dan anak-anak mereka.
“Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.”
-
Bait Pengantar Injil: Lukas 20:25
Refrain yang mengiringi bait pengantar Injil adalah seruan sukacita: “Alleluya, alleluya, alleluya.” Ayat yang dibacakan, “Berikanlah kepada kaisar yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah yang menjadi hak Allah,” menjadi landasan penting untuk pemahaman bacaan Injil.
-
Bacaan Injil: Markus 12:13-17
Dalam bacaan Injil, kita menyaksikan kecerdikan Yesus dalam menjawab pertanyaan jebakan dari orang-orang Farisi dan Herodian. Mereka berusaha menjerat Yesus dengan pertanyaan mengenai kebolehan membayar pajak kepada Kaisar. Yesus, yang mengetahui kemunafikan mereka, meminta untuk diperlihatkan mata uang dinar. Setelah melihat gambar dan tulisan Kaisar pada dinar tersebut, Yesus memberikan jawaban yang bijak: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Jawaban ini menegaskan bahwa kita memiliki kewajiban sebagai warga negara, namun kewajiban utama dan tertinggi adalah memberikan diri kita sepenuhnya kepada Allah.
Renungan Mendalam: Menyelaraskan Hidup dengan Kehendak Ilahi
Tema “Fokus pada Kehendak Allah” mengajak kita untuk merenungkan lebih dalam makna jawaban Yesus. Ketika kita memberikan “apa yang wajib kita berikan kepada Kaisar,” itu berarti kita memenuhi tanggung jawab sosial dan kewarganegaraan kita, termasuk membayar pajak, menaati hukum, dan berkontribusi pada kebaikan bersama. Ini adalah bagian dari bagaimana kita hidup di dunia ini sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki relasi dengan sesama.
Namun, yang jauh lebih esensial adalah “apa yang wajib kita berikan kepada Allah.” Yesus menegaskan bahwa yang menjadi milik Allah adalah seluruh diri kita: hidup kita, hati kita, pikiran kita, iman kita, dan segala perbuatan baik kita. Ini berarti kita dipanggil untuk menyerahkan segenap eksistensi kita kepada Tuhan. Hidup kita harus mencerminkan kehendak-Nya, bukan sekadar mengikuti arus dunia atau kepentingan pribadi semata.
Dalam konteks dunia yang seringkali dipenuhi dengan perselisihan politik dan gejolak sosial, mudah bagi kita untuk terseret dan kehilangan fokus. Pertanyaan tentang membayar pajak kepada Kaisar, dalam konteks sejarah, adalah isu sensitif yang berkaitan dengan otoritas Romawi. Yesus tidak menolak otoritas sipil, namun Ia menetapkan prioritas yang jelas: kedaulatan Allah haruslah yang utama.
Oleh karena itu, kita perlu secara aktif memeriksa hati dan pikiran kita. Apakah kita sudah memberikan “apa yang wajib kita berikan kepada Allah”? Apakah hidup kita sungguh-sungguh mencerminkan nilai-nilai Injil? Apakah kita memprioritaskan kehendak Tuhan dalam setiap keputusan dan tindakan kita?
Menantikan kedatangan Tuhan yang dijanjikan oleh Rasul Petrus bukanlah sekadar sikap pasif menunggu. Ini adalah panggilan untuk hidup secara proaktif, mempersiapkan diri dengan berusaha hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Ini berarti kita harus terus bertumbuh dalam kasih, kebenaran, dan keadilan, serta senantiasa waspada agar tidak tergelincir ke dalam kesesatan yang menjauhkan kita dari Tuhan.
Paus Leo XIV, sebagai pemimpin Gereja, diharapkan dapat menjadi teladan dalam menavigasi kompleksitas dunia modern dengan tetap berpegang teguh pada kehendak Allah. Namun, tanggung jawab untuk fokus pada kehendak Ilahi tidak hanya terletak pada pemimpin, melainkan pada setiap individu umat Kristiani.
Sebagai penutup, mari kita panjatkan doa agar Tuhan senantiasa membimbing kita. Semoga kita tidak hanya menantikan kedatangan-Nya secara pasif, tetapi juga secara aktif berupaya untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya dalam segala aspek kehidupan kita. Dengan demikian, kita dapat benar-benar menyerahkan “apa yang wajib kita berikan kepada Allah” dan menjadi saksi kebenaran-Nya di dunia.











