Dukungan Politik dan Aspirasi Lokal: Mengapa Prancis Jadi Pilihan di Piala Dunia 2026
Menjelang perhelatan akbar Piala Dunia 2026, peta dukungan politik dan aspirasi masyarakat mulai terpetakan. Di Sulawesi Tengah, seorang legislator dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) telah menyatakan dukungannya secara tegas kepada tim nasional Prancis untuk meraih gelar juara. Keputusan ini bukan sekadar pilihan pribadi dalam dunia sepak bola, melainkan juga mencerminkan adanya arahan strategis dari tingkat kepemimpinan nasional yang kemudian diterjemahkan ke dalam semangat lokal.
Muhammad Safri, yang menjabat sebagai Sekretaris DPW PKB Sulawesi Tengah, mengungkapkan optimismenya terhadap Les Bleus. Pilihan Prancis ini memiliki dua landasan utama. Pertama, absennya Italia, negara yang juga dijagokan Safri, dari ajang Piala Dunia kali ini menjadi salah satu faktor penentu. Namun, yang lebih signifikan adalah adanya instruksi langsung dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang mengarahkan seluruh elemen masyarakat untuk memberikan dukungan dan perhatian kepada Prancis.
“Sesuai dengan arahan Presiden Prabowo, bahwa kita semua harus belajar bahasa Prancis,” ujar Safri dengan senyum lebar saat ditemui pada Selasa, Juni 2026. Pernyataan ini mengindikasikan adanya korelasi antara dukungan terhadap tim nasional Prancis dalam kompetisi sepak bola akbar dengan upaya penguatan hubungan bilateral dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia Indonesia di kancah internasional.
Lebih jauh, Safri tidak hanya sekadar menyatakan dukungannya secara verbal. Ia berencana untuk menggelar acara nonton bareng (nobar) pertandingan perdana timnas Prancis. Acara ini rencananya akan diselenggarakan di Kabupaten Morowali Utara, sebuah wilayah yang memiliki potensi dan dinamika tersendiri di Sulawesi Tengah. Pertandingan perdana yang dinanti-nantikan adalah duel antara Prancis melawan Senegal, yang dijadwalkan pada tanggal 17 Juni 2026, pukul 03.00 WIB. Kegiatan nobar ini diharapkan dapat menjadi ajang silaturahmi antarwarga dan memupuk semangat kebersamaan dalam mendukung tim pilihan.
Instruksi Presiden dan Strategi Penguatan SDM
Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk menginstruksikan pengajaran bahasa Prancis di seluruh jenjang pendidikan di Indonesia memang menjadi sebuah gebrakan yang menarik perhatian. Instruksi ini disampaikan secara resmi saat pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang berlangsung di Paris pada akhir Mei 2026.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan diplomatik antara kedua negara. Lebih dari sekadar seremoni, instruksi pengajaran bahasa Prancis ini dipandang sebagai langkah strategis jangka panjang yang memiliki tujuan mulia untuk penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia di tingkat global.
Beberapa alasan mendasar di balik kebijakan ini dapat diidentifikasi:
- Penguatan Hubungan Diplomatik: Dengan meningkatnya kemahiran berbahasa Prancis di kalangan masyarakat Indonesia, diharapkan akan terjalin komunikasi yang lebih lancar dan mendalam dengan Prancis serta negara-negara berbahasa Prancis lainnya. Hal ini membuka peluang kerjasama yang lebih luas di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan.
- Akses Pendidikan dan Beasiswa: Kemampuan berbahasa Prancis merupakan salah satu syarat penting bagi pelajar dan akademisi Indonesia yang ingin melanjutkan studi di universitas-universitas terkemuka di Prancis. Instruksi ini secara tidak langsung membuka pintu lebih lebar bagi generasi muda Indonesia untuk mendapatkan akses pendidikan berkualitas dan beasiswa prestisius di Eropa.
- Peluang Ekonomi dan Bisnis: Prancis merupakan salah satu kekuatan ekonomi utama di Eropa dan dunia. Memahami bahasa Prancis dapat membuka peluang karir yang lebih luas di perusahaan-perusahaan multinasional Prancis yang beroperasi di Indonesia maupun di luar negeri. Selain itu, hal ini juga memfasilitasi kolaborasi bisnis dan investasi antara kedua negara.
- Pengayaan Budaya: Bahasa adalah jendela budaya. Dengan mempelajari bahasa Prancis, masyarakat Indonesia dapat lebih memahami kekayaan seni, sastra, filosofi, dan sejarah peradaban Prancis, yang pada gilirannya akan memperkaya perspektif budaya bangsa.
Oleh karena itu, dukungan legislator PKB Sulteng terhadap timnas Prancis dalam Piala Dunia 2026 dapat dilihat sebagai bentuk antusiasme terhadap kebijakan pemerintah yang memiliki visi jauh ke depan. Ini adalah manifestasi dari semangat kebangsaan yang tidak hanya berfokus pada prestasi olahraga sesaat, tetapi juga pada investasi jangka panjang untuk kemajuan bangsa melalui penguatan SDM dan diplomasi budaya. Kegiatan nonton bareng yang direncanakan di Morowali Utara pun menjadi simbol bagaimana kebijakan nasional dapat bergema dan diterima di tingkat akar rumput, menciptakan sinergi antara aspirasi lokal dan agenda pembangunan bangsa.












