IHSG Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Didorong Arus Dana Asing dan Transaksi Besar
Pasar modal Indonesia mencatatkan kinerja gemilang pada periode 12 hingga 15 Januari 2025, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH). Fenomena ini tidak lepas dari derasnya aliran dana investor asing yang kembali membanjiri pasar modal domestik, serta tingginya nilai transaksi yang terjadi.
Pada penutupan perdagangan Kamis, 16 Januari 2025, IHSG tercatat menguat 0,47 persen atau bertambah 42,83 poin, membawanya bertengger di level 9.075,41. Jika dilihat secara akumulatif, IHSG telah mencatatkan penguatan sebesar 1,68 persen dalam sepekan terakhir. Angka ini mencerminkan optimisme dan sentimen positif para investor terhadap prospek pasar saham nasional.
Aliran Dana Asing Signifikan Menopang Penguatan IHSG
Sejalan dengan penguatan IHSG, investor asing menunjukkan partisipasi aktif dengan membukukan pembelian bersih (net buy) yang signifikan. Pada perdagangan Kamis saja, nilai net buy asing mencapai Rp 958,22 miliar. Jika diakumulasikan sepanjang periode 12 hingga 15 Januari 2025, total net buy asing bahkan menembus angka fantastis sebesar Rp 4,46 triliun.
Aksi beli investor asing ini tampaknya terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) yang memiliki likuiditas tinggi. Berikut adalah daftar 10 saham yang paling banyak diborong oleh investor asing selama periode 12–15 Januari 2025, berdasarkan nilai net buy terbesar:
- PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) – Rp 686,54 miliar
- PT Astra International Tbk (ASII) – Rp 673,47 miliar
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO) – Rp 627,55 miliar
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) – Rp 477,10 miliar
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) – Rp 428,97 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) – Rp 341,29 miliar
- PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) – Rp 333,46 miliar
- PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) – Rp 289,33 miliar
- PT Petrosea Tbk (PTRO) – Rp 288,70 miliar
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) – Rp 246,69 miliar
Deretan saham-saham di atas dinilai menjadi motor penggerak utama penguatan IHSG, terutama yang berasal dari sektor perbankan, komoditas, dan infrastruktur.
Transaksi Besar Menjadi Kunci Rekor IHSG
Pencapaian rekor tertinggi sepanjang masa oleh IHSG pada sesi pertama perdagangan Kamis (16/1/2025) juga didorong oleh tingginya nilai transaksi di pasar reguler. Saham-saham berkapitalisasi besar kembali menjadi primadona dan incaran utama para investor.
Menurut catatan dari Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Ahmad Faris Mu’trashim, nilai transaksi terbesar pada Kamis, 15 Januari 2025, pukul 15.20 WIB, didominasi oleh emiten unggulan. “Saham yang paling banyak ditransaksikan investor per 15 Januari 2025 pukul 15.20 WIB antara lain BUMI dengan nilai transaksi Rp 1,55 triliun, disusul BBRI sebesar Rp 1,28 triliun, serta BMRI senilai Rp 1,1 triliun,” ungkap Ahmad Faris.
Pada penutupan perdagangan Kamis, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berada di level 410, mengalami penurunan 12 poin atau 2,84 persen. Sementara itu, saham BBRI menunjukkan performa positif dengan ditutup di level 3.820, menguat 2,69 persen. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga turut berkontribusi pada penguatan IHSG, dengan kenaikan 3,10 persen ke level 4.990.
Proyeksi Pergerakan IHSG Pekan Depan
Menyambut perdagangan pekan berikutnya, pergerakan IHSG diperkirakan akan memasuki fase konsolidasi. Meskipun demikian, tren jangka menengah pasar saham Indonesia diprediksi masih akan cenderung positif.
Ahmad Faris memberikan proyeksi, “Rentang pergerakan IHSG pekan depan diperkirakan bergerak konsolidasi dengan tren jangka menengah cenderung menguat, dengan support di level 8.920 dan resistance di 9.200, selama mampu bertahan di atas area 9.068.”
Dalam kondisi pasar yang diprediksi akan bergerak konsolidatif namun tetap berpotensi menguat, para investor disarankan untuk mencermati saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Sektor ini mulai menunjukkan apresiasi harga yang signifikan, seiring dengan potensi perbaikan kinerja fundamental, penurunan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL), serta peluang pelebaran margin keuntungan. Investor yang jeli dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengoptimalkan portofolio investasi mereka.
















