• Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
Subscribe
  • Login
  • Register
batampena.com
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
batampena.com
No Result
View All Result
Home Opini

Sains Tanpa Ruh

Erwin by Erwin
19 Februari 2026 - 21:39
in Opini
0

Sains dan Ilusi Kemandirian Manusia: Refleksi Kritis atas Warisan Bertrand Russell

Dalam pusaran kemajuan modern, sebuah ironi yang mendalam mulai membayangi peradaban. Sains, yang pernah menjadi mercusuar pembebasan dari belenggu takhayul, kini justru berpotensi melahirkan bentuk-bentuk ketidakpercayaan baru yang lebih halus, sistemik, dan bahkan lebih berbahaya. Takhayul ini berakar pada keyakinan bahwa manusia dapat, dan bahkan berhak, melampaui batasan-batasan kemanusiaan itu sendiri. Di sinilah pemikiran Bertrand Russell, seorang filsuf dan matematikawan terkemuka abad ke-20, menjadi relevan sekaligus mengundang kewaspadaan tingkat tinggi. Russell, dengan kejernihan logikanya yang tajam, menawarkan cerminan jujur dari modernitas, namun justru karena rasionalitasnya itulah, gagasannya perlu dicermati dengan penuh kehati-hatian.

Dari Optimisme Ilmiah Menuju Rekayasa Kehidupan

Pada bukunya yang bertajuk The Scientific Outlook (1931), Russell memproyeksikan pandangan optimis terhadap masa depan, sebuah pandangan yang khas bagi semangat abad ke-20. Ia meyakini bahwa sains akan menjadi solusi mujarab bagi berbagai persoalan fundamental umat manusia, mulai dari kelangkaan pangan, lonjakan populasi, hingga keterbatasan sumber daya alam. Konsep-konsep seperti pupuk sintetis, produksi pangan buatan, dan pertanian industri ia hadirkan sebagai jawaban atas tantangan ledakan penduduk dunia. Sekilas, visi ini terdengar sangat manusiawi dan bahkan mulia, seolah sains hadir untuk mengangkat harkat dan martabat manusia.

Namun, Russell tidak berhenti pada solusi teknis semata. Ia melangkah lebih jauh, merambah pada pertanyaan yang lebih mendalam dan krusial: siapa yang akan mengendalikan sumber daya pangan tersebut, dan untuk tujuan apa? Dalam kerangka pemikiran Russell, hubungan antara manusia dan tanah tidak lagi dipandang sebagai interaksi yang organik, melainkan sebagai bagian dari sebuah sistem teknis yang terukur. Tanah direduksi fungsinya menjadi sekadar medium produksi, pupuk berubah menjadi formula kimia belaka, dan petani ditransformasi menjadi operator dalam sebuah mesin raksasa. Pada titik ini, alam tidak lagi dipandang sebagai anugerah yang perlu dihormati, melainkan sebagai objek yang dapat dimanipulasi.

Baca Juga  Doa Harian Katolik: Permohonan Kesehatan untuk Keluarga Terkasih

Dari perspektif fitrah, inilah awal dari retaknya amanah yang diemban manusia sebagai penjaga bumi. Ketika tanah dipaksa untuk terus berproduksi tanpa memperhatikan batas-batas alaminya, ia memang akan memberikan hasil yang melimpah. Namun, di balik itu, ruh dan keseimbangan alam perlahan terkikis. Manusia, tanpa disadari, kehilangan posisinya sebagai pemelihara, dan bertransformasi menjadi penguras sumber daya.

Manusia sebagai Proyek Ilmiah: Pergeseran Ontologis

Dua dekade kemudian, dalam karyanya The Impact of Science on Society (1952), Russell semakin berani melangkah. Ia tidak lagi hanya berbicara tentang teknologi sebagai alat bantu, melainkan sebagai instrumen fundamental yang mampu membentuk manusia itu sendiri. Russell secara terbuka membahas kemungkinan-kemungkinan yang kini kita kenal sebagai inti dari gagasan transhumanisme. Ia berbicara tentang pengkondisian psikologis massal, pendidikan yang difungsikan sebagai teknik penjinakan sosial, dan manipulasi biologis yang bertujuan untuk menghasilkan tipe manusia yang diinginkan.

Dalam pandangan ini, manusia tidak lagi diterima sebagaimana adanya. Sebaliknya, ia dipandang sebagai bahan mentah yang perlu dioptimalkan melalui intervensi ilmiah. Ini bukan sekadar tentang kemajuan teknologi DNA atau rekayasa genetika. Ini adalah pergeseran ontologis yang mendasar: manusia tidak lagi dilihat sebagai makhluk yang memiliki martabat inheren, melainkan sebagai sistem biologis yang dapat ditingkatkan, diperbaiki, bahkan diganti. Dalam logika ini, cacat fisik bukan lagi sebuah ujian kehidupan, melainkan sebuah kegagalan desain. Keterbatasan bukan lagi hikmah yang mengajarkan kerendahan hati, melainkan sebuah “bug” yang harus diperbaiki. Dan kematian, yang merupakan batas alami eksistensi, dipandang sebagai masalah teknis yang harus diatasi.

Pendidikan: Dari Pencerahan Menjadi Alat Stabilisasi

Salah satu aspek paling jujur sekaligus paling mengganggu dari pemikiran Russell adalah pandangannya mengenai peran pendidikan. Ia membayangkan sebuah masa depan di mana kemajuan ilmu psikologi dan neurologi memungkinkan negara atau segelintir elite ilmiah untuk membentuk opini publik dengan presisi yang luar biasa, hingga potensi perlawanan menjadi nihil. Pendidikan, dalam skenario ini, tidak lagi dimaknai sebagai jalan menuju kebijaksanaan dan pemahaman mendalam, melainkan sebagai alat untuk menstabilkan sistem yang ada. Manusia dididik bukan untuk bertanya “mengapa” sesuatu terjadi, melainkan hanya untuk menerima dan memahami “bagaimana” cara mengoperasikannya.

Baca Juga  Mendidik di Era Modern: Tantangan dan Solusi

Hasilnya adalah terciptanya generasi yang sangat terdidik dan sangat rasional, namun berpotensi miskin hikmah dan kehilangan orientasi fundamental. Mereka mungkin mampu mengelola sistem yang kompleks dengan mahir, tetapi kehilangan kemampuan untuk mempertanyakan ke mana arah sistem tersebut membawa mereka. Inilah cikal bakal lahirnya teknokrat tanpa nurani—bukan karena mereka memiliki niat jahat, melainkan karena mereka tidak pernah diajari untuk berhenti sejenak dan merenungkan makna dari setiap tindakan.

Benang Merah Menuju “The Great Reset”

Ketika dunia hari ini heboh membicarakan konsep “The Great Reset,” banyak yang menganggapnya sebagai gagasan yang benar-benar baru. Padahal, jika ditelaah secara konseptual, gagasan tersebut merupakan kelanjutan logis dari optimisme teknokratis yang telah bergema sejak abad ke-20. Narasi yang sering digaungkan oleh forum-forum global seperti World Economic Forum berakar pada asumsi yang sangat “Russellian”: dunia adalah sebuah sistem yang kompleks, manusia adalah komponen di dalamnya, dan krisis—baik itu pandemi, krisis iklim, maupun krisis pangan—adalah peluang untuk melakukan rekayasa ulang sistem tersebut.

Dalam kerangka ini, semua masalah dibingkai sebagai persoalan teknis yang membutuhkan solusi teknis pula. Yang jarang dipertanyakan adalah siapa perancang solusi tersebut, dan siapa yang pada akhirnya harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. Dalam logika “reset” ini, manusia dituntut untuk berubah lebih cepat daripada sistem yang telah menyebabkannya terluka. Ia diminta untuk menjadi adaptif, fleksibel, dan patuh, sementara struktur kekuasaan yang mendasarinya tetap utuh, hanya berganti bungkus retorika.

Transhumanisme sebagai Syirik Modern

Dari perspektif tauhid, persoalan utama transhumanisme bukanlah terletak pada teknologinya semata, melainkan pada klaim implisitnya: bahwa manusia memiliki hak untuk mendefinisikan ulang esensi kemanusiaan tanpa merujuk pada Sang Maha Pencipta. Ini adalah bentuk syirik modern. Bukan lagi dalam artian menyembah patung berhala, melainkan menjadikan akal dan teknologi sebagai otoritas tertinggi. Bentuk ketidakpercayaan ini sangat halus, karena tidak secara frontal memusuhi agama. Ia hanya menyingkirkannya dengan label “tidak relevan.” Padahal, ajaran Al-Qur’an tidak pernah menolak ilmu. Yang ditolak adalah ilmu yang lupa bersujud—ilmu yang tidak lagi mengenal batas, tidak lagi memiliki kesadaran diri, dan tidak lagi tunduk pada amanah yang diberikan.

Baca Juga  Jika Anda Merasa Bersalah Mengambil Makanan Terakhir, Ini 8 Tanda Menurut Psikologi

Peringatan, Bukan Penolakan

Esai ini bukanlah seruan untuk menolak sains secara keseluruhan. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk menyelamatkan sains dari potensi kesombongannya sendiri. Russell perlu dibaca, bukan untuk diikuti secara membabi buta, melainkan untuk dipahami sebagai sebuah tanda peringatan. Ia menunjukkan kepada kita arah peradaban jika ilmu dilepaskan dari etika, teknologi dilepaskan dari nilai-nilai spiritual, dan kemajuan dilepaskan dari makna hakiki.

Peradaban akan runtuh bukan karena kekurangan kecerdasan, melainkan karena manusia lupa bahwa ia bukanlah Tuhan. Ia runtuh ketika manusia melampaui batas-batasnya dan mengambil posisi yang sejatinya bukan miliknya.

Di hadapan krisis global yang melanda saat ini, pilihan kita bukanlah antara sains versus iman. Pilihan yang sesungguhnya adalah antara sains yang bersujud dalam kerendahan hati, atau sains yang membangun menara kesombongan baru. Perspektif fitrah menawarkan jalan tengah yang tegas: teknologi boleh terus berkembang, produksi pangan boleh semakin efisien, kesehatan boleh terus ditingkatkan, namun manusia tetaplah manusia, tanah tetaplah amanah yang harus dijaga, dan ilmu harus senantiasa mengetahui batasnya.

Karena ketika manusia lupa untuk bersujud, apa yang ia sebut sebagai “kemajuan” sering kali hanyalah sebuah jalan memutar yang membawanya menuju kehancuran yang lebih rapi dan terorganisir.

  • Editor: Riko A Saputra
  • Redaktur Pelaksana: Erwin
Temukan Berita Lainnya

Baca Juga

Tenang Seketika: 6 Jurus Atasi Cemas & Stres
Opini

Tenang Seketika: 6 Jurus Atasi Cemas & Stres

18 Juni 2026 - 06:55
7 Bukti Cinta Franka: Nadiem Selalu Dibela
Opini

7 Bukti Cinta Franka: Nadiem Selalu Dibela

17 Juni 2026 - 21:24
7 Cara Kreatif Umumkan Kehamilan pada Si Kecil
Opini

7 Cara Kreatif Umumkan Kehamilan pada Si Kecil

17 Juni 2026 - 19:14
Orang Tua: Kampus Karier Digital untuk Anak Anda
Opini

Orang Tua: Kampus Karier Digital untuk Anak Anda

17 Juni 2026 - 13:11
Opini

Selasa, Juni 2026: Jalan Kebenaran dan Keadilan

17 Juni 2026 - 08:25
Analisis Kemenkes Luncurkan Program Vaksinasi Gratis Lansia: Pro, Kontra, dan Dampaknya
berita

Analisis Kemenkes Luncurkan Program Vaksinasi Gratis Lansia: Pro, Kontra, dan Dampaknya

17 Juni 2026 - 04:14
Please login to join discussion

Berita Populer

  • Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

    Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cak Nur dan Hardi Selamat Hood Bersama Rombongan Datangi KPU Kota Batam 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aussie Porn Blocks Fuel VPN App Surge

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Italia Setujui Hibah Kapal Induk Garibaldi ke RI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jaksa Tuntut Kompol Satria Nanda Dengan Pidana Mati 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pilihan Redaksi

Top Cop Sacked Amidst Corruption Probe

Top Cop Sacked Amidst Corruption Probe

18 Juni 2026 - 09:04

Ruben Onsu & Betrand Peto: Rindu Adik, Hanya Doa yang Bisa

18 Juni 2026 - 09:04
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi memberikan keterangan pers  di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Rabu, 17 Juni 2026.

Presiden Prabowo Sampaikan Terima Kasih kepada Seluruh Pihak atas Suksesnya Haji 2026

18 Juni 2026 - 09:02
Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal memberikan keterangan pers  di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Rabu, 17 Juni 2026.

DPR Apresiasi Perbaikan Layanan Haji di Era Presiden Prabowo, Antrean Berhasil Ditekan hingga 26 Tahun

18 Juni 2026 - 09:02
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 batampena.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature

Copyright © 2025 batampena.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

*By registering into our website, you agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.
All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.