No Result
View All Result
Subscribe
  • Login
  • Register
batampena.com
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
batampena.com
No Result
View All Result
Home Opini

Sarjana Tak Sebanding Pengorbanan Ibu

Rizki by Rizki
14 Februari 2026 - 21:56
in Opini
0

Sekolah Kehidupan: Pelajaran Berharga dari Ibu yang Tak Pernah Lulus SD

Setiap orang memulai perjalanan hidupnya dari titik yang berbeda. Ada yang terlahir dalam limpahan kemewahan, namun ada pula yang sejak dini harus bergulat dengan kerasnya realitas. Penulis tumbuh dari kondisi yang serba terbatas, namun ia dianugerahi kemewahan terbesar: kesempatan untuk terus bertahan. Sumber kekuatan dan inspirasi terbesarnya adalah sang ibu, seorang perempuan yang pendidikannya terputus bahkan sebelum ia sempat memahami dunia lebih luas. Namun, justru dari ibunya, penulis belajar arti perjuangan sejati, sebuah pelajaran yang takkan pernah ditemukan dalam buku teks mana pun.

Sang ibu, yang pendidikannya terhenti di bangku Sekolah Dasar, berhasil mengantarkan keempat anaknya meraih gelar sarjana. Sebuah ironi yang menyentuh sekaligus indah. Penulis sering merenungkan nilai selembar ijazah yang tersimpan rapi, membandingkannya dengan pelajaran hidup berharga yang telah diajarkan ibunya selama bertahun-tahun.

Sejak kecil, penulis kerap mendengar bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk memperbaiki nasib. Keyakinan ini menjadi kompas hidup, pendorong untuk terus melangkah maju meskipun berkali-kali tersandung rintangan tak terduga. Namun, seiring bertambahnya usia, kenyataan pahit sekaligus indah pun terkuak: ibunya telah membayar mahal pendidikannya, tanpa pernah merasakan bangku sekolah yang layak.

Di era modern yang penuh fasilitas ini, penulis terkadang masih merasa malas, mengeluh lelah meski pekerjaannya tak seberat yang dilakukan ibunya setiap hari. Ia masih bisa kalah mental saat memikirkan masa depan yang belum pasti. Sementara itu, ibunya, yang hidup dalam keterbatasan dan tekanan zaman yang jauh lebih keras, justru mampu bertahan dan menjadi penguat saat penulis terpuruk oleh pikirannya sendiri.

Penulis sempat berpikir bahwa pendidikan tinggi seharusnya membuatnya kuat, berani, dan siap menghadapi dunia. Namun, kenyataannya, justru ibunyalah, yang tidak pernah merasakan bangku pendidikan lengkap, yang mengajarkan keberanian sejati. Ibunya adalah sekolah kehidupan yang menjelma menjadi sosok ibu yang membesarkan keempat anaknya. Pelajaran yang diberikan tidak terikat kurikulum atau metode evaluasi, namun memberikan dampak yang lebih mendalam daripada seluruh mata kuliah yang pernah dijalani.

Dari tangan ibunya yang kasar akibat kerja keras, penulis justru belajar lebih banyak tentang kehidupan daripada dari lembaran buku kuliah dan ruang ber-AC. Semakin ia memandang gelar sarjananya, semakin ia sadar bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada institusi formal. Pengalaman hidup, nyatanya, adalah guru terbesar yang menuntun arah kehidupan.

Pendidikan yang Terhenti dan Masa Kecil yang Terpaksa Menjadi Dewasa

Sang ibu kerap bercerita tentang masa kecilnya, bukan untuk mencari simpati, melainkan karena masa lalu adalah bagian tak terpisahkan dari identitasnya. Ia berhenti sekolah saat duduk di kelas 2 SD. Usianya masih sangat muda, bahkan mungkin belum sepenuhnya memahami arti pendidikan. Pada masa itu, sekolah bukanlah prioritas utama seperti sekarang.

Bukan karena ketidakpedulian orang tua atau kendala ekonomi semata, melainkan karena pandangan masyarakat saat itu berbeda. Banyak orang tua di daerahnya menganggap sekolah tidak sepenting bekerja. Belajar dianggap tidak memberikan manfaat langsung. Sebaliknya, bekerja, membantu rumah tangga, atau mencari uang, meski sedikit, dinilai lebih berguna dan memberikan hasil yang nyata.

Ketika ibu kecil diminta membantu keluarga, hal itu tidak dianggap sebagai pengorbanan, melainkan “tugas alami” seorang anak perempuan pada zamannya. Tidak ada yang menanyakan cita-citanya, tidak ada yang memikirkan apakah ia masih ingin bersekolah. Cara pandang masyarakat saat itu membuat sekolah terlihat sebagai sesuatu yang tidak perlu dikejar. Dengan sendirinya, mimpi pendidikan sang ibu terhenti sebelum benar-benar terwujud.

Bukan berarti ibunya tidak ingin bersekolah. Justru sebaliknya. Ia pernah mengungkapkan keinginan untuk melanjutkan sekolah, merasakan kembali duduk di kelas dan belajar seperti anak-anak lain. Ada rasa ingin tahu dalam dirinya, ada kerinduan untuk membuka kembali buku pelajaran yang pernah memberinya kebahagiaan kecil. Namun, keinginannya berbenturan dengan kenyataan hidup yang jauh lebih keras.

Ibunya merasa harus membantu neneknya (ibunya), terutama setelah kakeknya (ayahnya) meninggal. Beban keluarga bertambah berat. Nenek harus membesarkan anak-anaknya seorang diri, dan tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan dari anak-anaknya yang masih kecil. Ibu, dengan tubuh mungil dan usia yang belum matang, memutuskan untuk turut memikul beban yang jauh lebih besar dari dirinya. Ia berhenti sekolah karena merasa harus membantu ibunya untuk bertahan hidup.

Setelah kepergian kakek, hidup keluarga ibu berubah drastis. Untuk itulah, ia ikut bekerja bersama saudara-saudaranya, pergi ke luar kota mencari pekerjaan apa pun yang bisa dilakukan. Di awal, ibu bekerja tanpa bayaran, menganggapnya sebagai permainan. Namun, hari demi hari, meski tenaganya kecil dan tubuhnya belum kuat, ia mulai memahami arti bekerja karena merasa itulah yang harus ia lakukan. Seiring waktu, ketika ia mampu bekerja lebih banyak, barulah ia menerima bayaran meski jumlahnya kecil.

Baca Juga  3 Doa Awal Ramadan Rasulullah: Amalan Sunnah Penuh Berkah

Masa kecil ibunya berubah menjadi masa di mana ia harus dewasa lebih cepat. Ia belajar bagaimana membantu keluarga, mengurus rumah tangga, dan bertanggung jawab atas hal-hal yang jauh melampaui usia anak seusianya. Ketika anak-anak lain masih memegang pensil dan buku, ibunya memegang alat kerjanya.

Yang lebih mengharukan adalah bagaimana ibunya menerima semua itu tanpa menyalahkan siapa pun. Ia tidak pernah berkata bahwa dunia tidak adil kepadanya, tidak pernah mengeluh mimpinya terkubur. Ia hanya berkata, “Dulu di zaman saat itu. Tidak ada yang berpikir sekolah itu penting. Yang penting bisa membantu orang tua.”

Ibunya tidak menyimpan penyesalan berkepanjangan karena ia tumbuh dari keadaan tersebut. Ia ditempa oleh kehidupan, yang membuatnya dewasa sebelum waktunya. Sementara penulis, yang hidup di zaman modern dengan segala kemudahan dan fasilitas, masih bisa mengeluh saat lelah belajar, bermalas-malasan, atau kalah mental memikirkan masa depan yang belum jelas. Namun, ibu kecil dulu tidak punya waktu untuk memikirkan ketakutan seperti itu; ia hanya tahu bahwa ia harus terus berjalan.

Belajar Hidup Tanpa Bangku Pendidikan

Ketika pendidikan formal terhenti, kehidupan mengambil alih sebagai guru utama ibunya. Ia belajar dari pekerjaan, dari majikannya, dan dari segala realitas kehidupan yang ia jalani. Ia belajar bahwa hidup tidak pernah memberi jeda, dan jika ingin bertahan, ia harus terus bergerak meski dalam keadaan lelah.

Ibunya mampu melakukan banyak hal tanpa pernah belajar di kelas. Ia bisa menghitung uang dengan cekatan, memprediksi kebutuhan rumah tangga lebih teliti daripada lulusan manajemen, memahami karakter manusia, tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam, serta cara menghadapi orang dengan berbagai sifat. Ilmu-ilmu ini tidak ia dapatkan dari guru atau buku, melainkan dari jam-jam kehidupannya dalam menghadapi realitas.

Tidak seperti ujian sekolah yang memberi waktu belajar sebelum tes, kehidupan ibunya mengujinya terlebih dahulu, baru kemudian mengajarkan pelajaran di belakangnya. Itulah mengapa, penulis menganggapnya belajar langsung dari realitas. Dari pekerjaan yang menuntut tenaga, dari lingkungan yang tidak memberi ruang untuk bermanja, dan dari keadaan yang tidak bisa dipilih.

Yang paling membekas bagi penulis adalah bagaimana kehidupan membentuk kepribadian ibunya. Ibunya menjadi perempuan yang kuat bukan karena ia ingin terlihat tangguh, tetapi karena hidup memaksanya begitu. Ia menjadi mandiri bukan karena bangga, tetapi karena tidak ada yang bisa ia andalkan selain dirinya sendiri.

Saat penulis masih kuliah dan mulai mengeluh tentang tugas, jadwal padat, atau rasa lelah belajar, ibunya hanya tersenyum. Senyum yang sarat makna, karena ia paham bahwa apa yang dihadapi penulis tidak seberapa dibandingkan perjuangan ibunya dulu. Ia memberi pesan, “Semangat, kalau kamu hidup di zaman ibu, tantangannya akan jauh berkali-kali lipat dari ini.”

Penulis sering bertanya-tanya, bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah belajar psikologi bisa dengan mudah membaca tekanan emosinya? Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah belajar ilmu motivasi bisa menenangkannya saat ia kalah mental memikirkan masa depan? Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah diberi kesempatan bermimpi bisa mengajarkan anaknya untuk mengejar mimpi setinggi mungkin?

Perempuan yang tidak lulus SD itu mampu menenangkan seorang sarjana yang sedang kalah mental. Sebuah ironi yang nyata. Dari sana, penulis kembali belajar bahwa ketenangan tidak selalu datang dari pendidikan tinggi, melainkan dari kebijaksanaan hati yang ditempa oleh waktu. Di balik tangan yang kasar karena pekerjaan, ada hati lembut yang selalu mendoakan keberhasilannya. Di balik tubuh yang sering lelah, ada tekad kuat agar penulis bisa meraih apa yang tidak pernah ia miliki.

Empat Anak Sarjana, Mimpi yang Dibayarkan Dengan Keringatnya

Penulis sering merenungkan bagaimana mungkin seorang perempuan yang tidak tamat SD bisa membesarkan empat anak yang semuanya akhirnya menempuh pendidikan tinggi. Semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa kecil. Gelar sarjananya terasa sangat ringan jika dibandingkan dengan beban yang pernah ditanggung ibunya seorang diri.

Baca Juga  Spiritualitas: Bahan Bakar Inovasi Daerah di Garis Finish

Sehari-hari, ibunya bekerja tanpa mengenal pagi, petang, bahkan malam. Usaha laundry keluarga mereka menjadi saksi betapa ia menukar tenaga, waktu, dan istirahat demi pendidikan anak-anaknya. Dari memisahkan pakaian, mencuci, mengeringkan, menyetrika, hingga melipat, ia lakukan semuanya dengan sepenuh hati.

Ketika pekerjaan di rumah tidak cukup, ibunya mengambil pekerjaan tambahan sebagai buruh setrika di laundry tetangga. Setelah sholat Isya, ketika banyak orang sudah bersiap tidur, ibunya justru memulai pekerjaan keduanya. Panas setrika seolah tidak lagi menakutkan baginya. Lelah bukan lagi alasan untuk berhenti. Ia hanya punya satu tujuan: memastikan anak-anaknya meraih apa yang tidak pernah bisa ia capai.

Namun, perjuangannya tidak selalu ditemani. Sejak ayah penulis meninggal pada tahun 2013, semua beban seolah jatuh pada satu pasang bahu, yaitu bahu seorang ibu yang sebelumnya terbiasa berbagi peran. Ayah selalu berpesan bahwa sekalipun keluarga mereka hidup sederhana, bahkan lebih banyak kekurangan, pendidikan harus berada di tempat tertinggi. Ia pernah berkata, “Sekurang-kurangnya keluarga kita, sekolah sampai jenjang pendidikan tinggi. Itu satu-satunya warisan yang bisa kita tinggalkan untuk masa depan.”

Kata-kata itu bukanlah beban, melainkan pegangan teguh ibunya, bahkan setelah orang yang mengucapkannya tiada. Amanah itu seolah menyalakan api baru dalam dirinya, membuatnya semakin keras bekerja, semakin besar ketulusannya, semakin kuat niatnya untuk melihat anak-anaknya berdiri di tempat yang lebih tinggi dari dirinya. Dan perlahan, amanah itu akhirnya terwujud.

Anak pertamanya berhasil menjadi sarjana pendidikan. Kini ia berdiri di depan kelas, menjadi guru yang menuntun murid-muridnya seperti dulu ibu menuntunnya. Setiap kali melihatnya memakai seragam mengajar, penulis selalu berpikir bahwa sebagian dari mimpi yang dikubur ibunya di masa kecil kini hidup dalam diri anaknya.

Anak keduanya menempuh pendidikan teknik informatika. Setelah lulus, ia bekerja membantu bisnis paman penulis. Ia mungkin jarang bercerita tentang pekerjaannya karena jauh di luar kota, tetapi penulis tahu ia bangga bisa menunjukkan kepada ibunya bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia.

Anak ketiganya juga menjadi sarjana pendidikan. Sama seperti kakak pertamanya, ia memilih menjadi guru. Dua guru lahir dari rahim seorang ibu yang tidak pernah merasakan bangku sekolah lebih dari dua tahun. Dan anehnya, keduanya tumbuh menjadi pendidik yang sabar dan disiplin, sifat yang jelas mereka warisi dari ibu.

Dan anak keempat adalah penulis sendiri. Ia menempuh pendidikan sosial dan menjadi sarjana sosial. Setelah lulus, penulis memilih menjadi wirausaha, bukan karena tidak bisa bekerja di luar rumah, tetapi karena ibunya memilihnya untuk tetap berada di dekatnya. Kakak-kakaknya semua bekerja jauh dari rumah, dengan kehidupan dan tanggung jawab masing-masing. Dua kakak yang menjadi guru memang masih bekerja di kota yang sama, namun pulang sore hari. Maka tinggallah penulis yang berada di samping ibunya setiap waktu, bekerja bersamanya, dan mengelola usaha kecil keluarga (pet shop dan laundry) di lingkungan rumah.

Kadang ada keluarga atau tetangga yang bertanya dengan nada heran, “Sarjana kok kerja di rumah? Nggak pingin nyoba-nyoba kerja kemana gitu?”. Seolah-olah gelar harus selalu dibarengi pekerjaan di kantor besar atau gaji tinggi. Mereka tidak pernah tahu alasan di balik pilihan penulis. Mereka tidak tahu bahwa penulis adalah anak yang ditunjuk ibu untuk tetap berada di sisinya, menjaga usaha yang telah dibangun dengan keringatnya, sekaligus menggenggam amanah yang tidak pernah diucapkan keras-keras tetapi sangat jelas terasa.

Pernah suatu hari penulis bercerita kepada ibunya tentang komentar-komentar itu, tentang bagaimana ia sempat merasa kecil hati. Namun, seperti biasa, ibunya hanya menatapnya sambil memberi wejangan. Ia berkata, “Tidak apa-apa, Nak. Yang penting kamu ikhlas. Orang tidak hidup di rumah kita, jadi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Kata-katanya menenangkan hati penulis lebih dari penjelasan apa pun yang bisa ia berikan kepada orang lain.

Penulis, bukan hanya anak bungsu. Ia adalah saksi paling dekat dari tiap tetes keringat ibunya yang mengalir bertahun-tahun. Ia melihat bagaimana ibunya bekerja tanpa henti, bagaimana ia memaksakan tubuhnya bergerak meski jelas rasa lelah menempel di wajahnya. Justru karena itulah, sangat wajar bagi penulis untuk tinggal di sisinya, menjadi tangan tambahan yang dibutuhkan, menjadi penerus kerja keras yang dulu ia dan ayah bangun bersama.

Mungkin kalimat ini terdengar seperti pembelaan diri, tetapi kenyataannya memang seperti itu. Ibunya beberapa kali memperingatkannya dengan lembut bahwa ia harus ada di rumah, apalagi ketika satu anaknya bekerja di luar kota dan dua anaknya bekerja hingga sore hari menjelang petang. Jika meninggalkannya, penulis takut membuat hati ibunya terluka.

Baca Juga  Renungan Harian Katolik 22 Maret 2026: Teks Ibadah Sabda Minggu

Kini, keempat anaknya telah menjadi sarjana. Bukan dari keluarga kaya, bukan dari keluarga berpendidikan tinggi, bukan pula dari keluarga yang hidup dalam kemudahan. Mereka adalah anak-anak dari seorang ibu yang pendidikannya terhenti di kelas dua SD, dan seorang ayah lulusan STM yang membawa amanah pendidikan hingga akhir hayatnya. Dari dua sosok itu, mereka belajar bahwa masa depan hanya bisa dibangun dengan kerja keras, keikhlasan, dan cinta yang tidak pernah menuntut balasan.

Empat ijazah sarjana tersimpan rapi di lemari rumah mereka. Namun, tidak ada satu pun dari ijazah itu yang lebih berat daripada perjalanan hidup ibu dan amanah terakhir ayah.

Menyadari Ijazah Tidak Ada Apa-Apanya Dibanding Pengorbanannya

Penulis belajar banyak hal di kampus, mulai dari teori, metode, analisis, hingga konsep besar tentang hidup dan bermasyarakat. Namun, tidak ada satu pun yang mengajarkan ketabahan seperti ibunya. Tidak ada dosen yang mengajarkan cara bertahan dalam kesulitan dengan hati seluas lautan. Tidak ada mata kuliah yang mengajarkan bagaimana tetap tersenyum meski kelelahan, atau bagaimana menenangkan diri ketika sedang rapuh.

Di tengah kehidupan modern yang penuh fasilitas ini, penulis sering mengeluh dan bercerita tentang pekerjaan, masa depan, serta rasa takut gagal. Ia pernah kalah mental, pernah merasa tidak sanggup melanjutkan langkah, pernah terperangkap dalam pikiran sendiri yang gelap dan menyesakkan. Namun, ketika ia terpuruk, ibunya justru menjadi orang pertama yang menenangkannya.

Pendidikan tingginya tidak pernah bisa menyamai keteguhan ibunya yang hidup tanpa pendidikan formal. Teori manajemen waktu penulis tidak ada artinya dibandingkan cara ibunya membagi tenaga dan jam kerja dalam sehari. Ilmunya tentang strategi bisnis tidak sebanding dengan cara insting ibunya membuat usaha laundry dan pet shop keluarga tetap berjalan di tengah kondisi sulit.

Pengetahuannya tentang psikologi tidak mampu menyamai cara ibunya menenangkan anak-anaknya saat mereka merasa hidup ini kejam. Cara ibunya menilai kehidupan jauh lebih tulus dan bijak daripada banyak orang berpendidikan tinggi yang pernah ditemui penulis.

Gelar S1 yang dibanggakan terasa sangat kecil ketika penulis membandingkannya dengan hati ibunya. Keteguhan dan kebijaksanaan ibunya jauh lebih tinggi daripada angka IPK mana pun. Ia memiliki penilaian hidup yang tidak pernah ada di kelas mana pun. Dan pada titik itu, penulis sadar bahwa pendidikan terbesar dalam hidupnya tidak berasal dari kampus, melainkan dari rumah kecil yang penuh dengan ketulusan seorang ibu.

Ijazah penulis memang membuktikan bahwa ia pernah belajar di bangku perguruan tinggi. Tetapi ibunya membuktikan jauh lebih besar, bahwa ia mampu membangun kehidupan dari nol. Dan nilai itulah yang tidak bisa dikalahkan oleh selembar kertas bergelar S1. Ibunya dan almarhum ayahnya memulai semua dari nol, bisa membeli rumah, memulai usaha, dan menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Sementara penulis, hanya bisa bertanya pada diri sendiri.

Ketika penulis menulis semua ini, ia sadar bahwa ia tidak hanya sedang menceritakan perjuangan ibunya, tetapi juga sedang mengingatkan dirinya sendiri bahwa pendidikan sejati tidak hanya tentang gelar. Pendidikan sejati adalah tentang hati, tekad, ketulusan, dan keberanian untuk bertahan ketika hidup menuntut lebih banyak dari diri kita.

Ibunya adalah pendidik paling penting dalam hidupnya. Tanpa gelar, tanpa ijazah, dan tanpa kelas formal. Namun, nilai-nilai yang ditanamkan jauh lebih kuat daripada teori mana pun yang pernah dipelajari di perkuliahan.

Ia mungkin tidak lulus SD, tetapi ia lulus dari ujian kehidupan yang tidak pernah penulis jalani. Dan dari kelulusannya itulah penulis belajar tentang arti syukur, arti kerja keras, arti ketulusan, dan arti cinta yang tidak pernah menuntut sebuah balasan.

Hari ini, ketika penulis melihat ke belakang, ia sadar bahwa perjalanan hidupnya hanyalah lanjutan dari perjalanan panjang yang telah ibunya mulai sejak kecil. Ia berdiri di atas fondasi yang dibangun oleh ibu dan ayahnya dengan keringat, dengan doa yang tidak pernah diucapkan keras-keras, dan dengan cinta yang tidak pernah ia minta imbalannya.

Penulis mungkin seorang sarjana, tetapi ibunyalah gelar tertingginya.

Dan untuk almarhum ayahnya, ia tidak akan pernah melupakannya.

  • Editor: Riko A Saputra
  • Redaktur Pelaksana: Erwin
Temukan Berita Lainnya

Baca Juga

Ramalan Zodiak Aries dan Taurus 26 April 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan
Opini

Ramalan Zodiak Aries dan Taurus 26 April 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan

28 April 2026 - 20:53
Orang Cantik Semakin Tua, Ini 7 Kebiasaan Harian yang Mereka Lakukan
Opini

Orang Cantik Semakin Tua, Ini 7 Kebiasaan Harian yang Mereka Lakukan

28 April 2026 - 20:26
Ramalan Zodiak Cancer 26 April 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan
Opini

Ramalan Zodiak Cancer 26 April 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan

28 April 2026 - 19:59
Orang dengan Aura Kuat Tapi Tak Berbicara, Ini 8 Hal yang Dilakukannya Menurut Psikologi
Opini

Orang dengan Aura Kuat Tapi Tak Berbicara, Ini 8 Hal yang Dilakukannya Menurut Psikologi

28 April 2026 - 19:06
Ramalan Zodiak Gemini dan Cancer 26 April 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan
Opini

Ramalan Zodiak Gemini dan Cancer 26 April 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan

28 April 2026 - 18:39
Ramalan Zodiak Aries 26 April 2026: Waspadai Tekanan, Tunda Keputusan, Kendalikan Emosi
Opini

Ramalan Zodiak Aries 26 April 2026: Waspadai Tekanan, Tunda Keputusan, Kendalikan Emosi

28 April 2026 - 18:13
Please login to join discussion
  • Trending
  • Comments
  • Latest
BLT Kesra 2026: Jadwal Cair Bansos Rp 900 Ribu

BLT Kesra 2026: Jadwal Cair Bansos Rp 900 Ribu

17 Februari 2026 - 04:19
35 Soal Tes Excel: Dasar, Rumus, Fungsi & Jawaban

35 Soal Tes Excel: Dasar, Rumus, Fungsi & Jawaban

20 Desember 2025 - 16:45
Woolies Fissler Pan Promo: Worth the Points? My Honest Review

Woolies Fissler Pan Promo: Worth the Points? My Honest Review

20 Maret 2026 - 14:00
Gaji ke-13 PNS, PPPK, dan Pensiunan Cair Juni 2026: Besaran dan Komponen

Gaji ke-13 PNS, PPPK, dan Pensiunan Cair Juni 2026: Besaran dan Komponen

26 April 2026 - 03:19
Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 133: Tonton Drama Menarik

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 133: Tonton Drama Menarik

10 Desember 2025 - 23:01
Remaja Hilang Saat Belajar Selancar di Pantai Parangtritis

Remaja Hilang Saat Belajar Selancar di Pantai Parangtritis

29 April 2026 - 01:12
Jusuf Kalla: Jokowi Jadi Presiden karena Jasa, Sekjen Projo: Jejak dan Keinginan Rakyat

Jusuf Kalla: Jokowi Jadi Presiden karena Jasa, Sekjen Projo: Jejak dan Keinginan Rakyat

29 April 2026 - 00:52
Kemensos RI Kolaborasi dengan UIN Datokarama Kembangkan Mitra Deradikalisasi Sulteng

Kemensos RI Kolaborasi dengan UIN Datokarama Kembangkan Mitra Deradikalisasi Sulteng

29 April 2026 - 00:33
Mengapa Beberapa Anjing Punya Lidah Biru?

Mengapa Beberapa Anjing Punya Lidah Biru?

29 April 2026 - 00:14
Jenderal Ber-Makeup: Kontroversi Drama China dan Maskulinitas Prajurit

Jenderal Ber-Makeup: Kontroversi Drama China dan Maskulinitas Prajurit

28 April 2026 - 23:59

Pilihan Redaksi

Remaja Hilang Saat Belajar Selancar di Pantai Parangtritis

Remaja Hilang Saat Belajar Selancar di Pantai Parangtritis

29 April 2026 - 01:12
Jusuf Kalla: Jokowi Jadi Presiden karena Jasa, Sekjen Projo: Jejak dan Keinginan Rakyat

Jusuf Kalla: Jokowi Jadi Presiden karena Jasa, Sekjen Projo: Jejak dan Keinginan Rakyat

29 April 2026 - 00:52
Kemensos RI Kolaborasi dengan UIN Datokarama Kembangkan Mitra Deradikalisasi Sulteng

Kemensos RI Kolaborasi dengan UIN Datokarama Kembangkan Mitra Deradikalisasi Sulteng

29 April 2026 - 00:33
Mengapa Beberapa Anjing Punya Lidah Biru?

Mengapa Beberapa Anjing Punya Lidah Biru?

29 April 2026 - 00:14
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 batampena.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature

Copyright © 2025 batampena.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

*By registering into our website, you agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.
All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.