Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, telah memaparkan pandangannya yang blak-blakan mengenai profil pemain sepak bola Indonesia. Pria yang sukses membawa PSM Makassar bangkit dari keterpurukan kini menyoroti sebuah realitas yang sulit dihindari: postur tubuh pemain Indonesia yang relatif lebih kecil dibandingkan pemain dari negara lain. Namun, di balik keterbatasan fisik ini, Tavares justru menemukan kekuatan mental bertarung dan komitmen yang luar biasa, yang membuatnya sangat terkesan.
Tavares melihat sepak bola Indonesia sedang berada dalam fase perubahan signifikan. Transformasi ini tak lepas dari masuknya pemain naturalisasi dan keturunan, khususnya mereka yang memiliki rekam jejak di liga Belanda. Faktor sejarah kolonial menjadi salah satu pintu masuk bagi pemain-pemain tersebut. Ia mengamati bahwa dengan adanya investasi besar di tim nasional, terutama di bawah kepemimpinan tokoh seperti Erick Thohir yang memiliki koneksi dengan sepak bola internasional, Indonesia berpeluang menarik banyak pemain dari divisi satu atau dua Belanda yang memiliki paspor Indonesia.
Kehadiran pemain-pemain berpaspor Belanda ini, menurut Tavares, secara perlahan mulai menggeser posisi pemain lokal. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemain Indonesia tetap memiliki ciri khas yang menonjol, yaitu kecepatan. “Jika kita analisis profil pemain Indonesia, mereka sangat cepat. Biasanya paling efektif saat transisi menyerang maupun bertahan. Kecepatan adalah kekuatan utama mereka,” jelasnya.
Namun, Tavares tidak menutup mata terhadap masalah mendasar yang dihadapi pemain Indonesia. Ia memberikan peringatan keras jika para pemain terus bergantung semata-mata pada fisik dan kecepatan. “Masalah terbesar ada pada pengambilan keputusan. Mereka belum terlalu kuat di area itu,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyinggung soal postur tubuh. Bagi Tavares, tinggi badan masih menjadi isu krusial, terutama dalam duel fisik dan penerapan taktik modern. “Di Indonesia, tinggi 175 sentimeter sudah dianggap tinggi. Padahal, kita tahu tinggi badan sangat penting dalam sepak bola, baik secara ofensif maupun defensif,” bebernya dalam sebuah wawancara. Keterbatasan postur ini, menurutnya, menjadi celah besar dalam pertahanan tim nasional Indonesia, terutama saat menghadapi tim-tim Asia lain yang unggul secara fisik. “Mereka sering kalah dalam duel dan gaya bermain seperti itu,” sambungnya.
Meskipun demikian, kritik tersebut tidak mengurangi apresiasi Tavares. Ia mengakui bahwa beberapa pemain Indonesia memiliki kualitas yang mumpuni untuk bermain di liga profesional Portugal. Ia mencontohkan pengalamannya saat mengambil alih PSM Makassar pada tahun 2022. Saat itu, PSM berada di peringkat ke-14 dan ditinggalkan oleh para pemain terbaiknya. “Saya memaksimalkan pemain yang tersisa dan mendatangkan pemain dari divisi tiga serta tim junior. Beberapa dari mereka bahkan masuk tim nasional pada tahun berikutnya,” ungkap pelatih asal Portugal ini.
Pemain Lokal Berpotensi Bersaing di Eropa
Nama Yance Sayuri dan Yacob Sayuri menjadi contoh paling nyata dari potensi pemain Indonesia. Tavares bahkan menyebut keduanya layak bersaing di klub sekelas SC Braga. “Saat itu saya melihat Braga. Pemain sayap bertahan mereka tidak lebih unggul dari saudara Sayuri. Mereka sangat cepat, mentalnya kuat, reaksinya cepat saat kehilangan bola. Satu menembak dengan kaki kiri, satu dengan kaki kanan,” paparnya.
Kekaguman Tavares memuncak saat membandingkan mental pemain Indonesia dengan karakter khas sepak bola Eropa. “Gaya bertarung mereka mengingatkan saya pada pemain Jerman, kolektif, pekerja keras, dan punya sikap bertanding yang kuat,” tutupnya.
Pandangan Bernardo Tavares mengenai pemain Indonesia yang unggul dalam kecepatan namun terbatas secara postur menemukan relevansinya dalam skuad Persebaya Surabaya. Tim berjuluk “Green Force” ini memiliki sejumlah pemain lokal dengan karakter serupa: bertubuh relatif kecil, lincah, dan mengandalkan akselerasi dalam permainan.
Pemain Persebaya Surabaya yang Mencerminkan Profil Tavares
- Alfan Suaib: Pemain muda ini dikenal aktif bergerak di ruang sempit, cepat saat membawa bola, dan agresif dalam transisi. Meski tidak menonjol secara postur, mobilitasnya membuat Alfan efektif dalam tempo permainan tinggi.
- Malik Risaldi: Di sektor sayap, Malik Risaldi merepresentasikan profil pemain yang mengandalkan kecepatan dan keberanian duel satu lawan satu. Pergerakan tanpa bola dan kemampuan menusuk dari sisi lapangan menjadi kekuatan utamanya, terutama saat Persebaya membutuhkan serangan langsung dan cepat. Pemain yang pernah dipanggil Timnas Indonesia ini bisa menjadi solusi penting untuk keran gol Persebaya yang belum juga mengalir deras.
- Mikael Tata: Di posisi bek kiri, Mikael Tata menawarkan kombinasi kecepatan dan stamina. Tata bukan tipe full-back dengan keunggulan duel udara, tetapi dikenal aktif naik-turun sisi lapangan dan kuat dalam menjaga intensitas permainan sepanjang laga.
- Ichsas Baihaqi: Nama lain yang mencerminkan karakter tersebut adalah Ichsas Baihaqi. Sebagai gelandang muda, Ichsas lebih mengandalkan kelincahan, pergerakan cepat, dan distribusi bola sederhana. Posturnya tidak besar, namun aktivitasnya di lini tengah membuat sirkulasi permainan Persebaya tetap hidup.
Keempat pemain ini menunjukkan bahwa Persebaya memiliki stok pemain yang sesuai dengan gambaran umum Tavares tentang sepak bola Indonesia: cepat, dinamis, dan agresif, meski tidak unggul secara fisik. Tantangannya terletak pada bagaimana karakter tersebut dipoles agar tetap efektif dalam duel, organisasi bertahan, dan pengambilan keputusan. Dengan materi seperti ini, Persebaya menjadi cerminan nyata dari isu yang disinggung Tavares sebelumnya, sekaligus peluang untuk membuktikan bahwa pemain bertubuh kecil tetap bisa kompetitif jika dikelola dengan pendekatan taktik dan fisik yang tepat.
Bernardo Tavares: Titik Balik Persebaya Surabaya
Kehadiran Bernardo Tavares diharapkan menjadi titik balik penting bagi Persebaya Surabaya. Ia dijadwalkan memimpin latihan perdana pada awal Januari 2026 sebagai langkah awal membangun fondasi tim. Ekspektasi tinggi mengiringi kedatangan Tavares ke Kota Pahlawan. Pengalaman membawa PSM Makassar menjuarai Liga 1 musim 2022/2023 menjadi alasan utama kepercayaan besar publik Surabaya.
Tak hanya soal gelar, gaya kepelatihan Tavares juga menjadi sorotan. Ia dikenal sebagai pelatih yang realistis dan mampu memaksimalkan potensi pemain sesuai karakter tim. Pesan penting Tavares kepada pemain dan suporter pernah ia sampaikan saat meraih gelar juara di Liga Indonesia. Pernyataan itu kini relevan sebagai gambaran filosofi yang kemungkinan diterapkan di Persebaya Surabaya.
“Kami perlu menyampaikan kepada para pemain dan penggemar bahwa musim ini akan sangat rumit,” beber Tavares. Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif menghadapi tantangan kompetisi. “Dan kami harus memahami bahwa perlu mengadopsi gaya bermain yang sesuai dengan karakteristik pemain kami,” lanjutnya. Pendekatan tersebut dinilai menjadi kunci keberhasilan tim yang ia latih.
Tavares menjelaskan karakter pemain yang cepat namun tidak terlalu kuat secara teknis. Dari situ, ia memilih pendekatan taktis yang pragmatis dan efektif. “Oleh karena itu, yang kami lakukan adalah memberikan bola kepada lawan, lebih fokus pada transisi,” jelas Tavares. Strategi tersebut terbukti mampu membawa hasil maksimal di lapangan. “Dan begitulah cara kami menang,” tegasnya singkat namun penuh makna. Filosofi ini diyakini akan menjadi dasar pendekatan Tavares bersama Persebaya Surabaya.
Selain aspek teknis, Tavares juga memiliki ketertarikan emosional terhadap sepak bola Indonesia. Ia mengaku terpesona dengan atmosfer dan semangat luar biasa dari para pendukung. “Saya selalu terpesona oleh Indonesia, baik oleh semangat para penggemarnya maupun jumlah orang yang tertarik,” ungkap Tavares. Menurutnya, dukungan suporter menjadi energi besar bagi tim.
Dengan segala latar belakang dan pesan yang ia bawa, Bernardo Tavares kini memikul ekspektasi besar. Harapan baru dimulai, dan publik Surabaya menunggu pembuktian nyata di lapangan.
Saat ini Persebaya Surabaya naik ke peringkat 5 klasemen Liga 1 musim 2025/2026 setelah menang tipis 1-0 atas Madura United di pekan ke-16. Kemenangan ini menjadi modal apik menyongsong era baru Bernardo Tavares yang mulai memberi harapan menembus papan atas. Laga Madura United vs Persebaya Surabaya berlangsung di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan, Sabtu (3/1/2026). Duel berlangsung ketat sejak menit awal dengan intensitas kecepatan tinggi dan tensi khas Derbi Suramadu. Kemenangan di kandang rival ini memberi suntikan kepercayaan diri besar bagi Persebaya Surabaya. Dengan fondasi yang mulai kuat, era baru Bernardo Tavares berpeluang membawa Green Force menembus papan atas Liga 1.




