Senyum Dulu, Foto Kemudian: Rahasia Wajah Serius Leluhur

Diposting pada

Ketika kita menilik kembali arsip foto-foto lama, seringkali mata kita disuguhi pemandangan wajah-wajah yang datar, tanpa senyum yang merekah. Foto-foto hitam putih dengan latar yang kini terasa kuno itu menampilkan individu-individu dari masa lalu dengan ekspresi yang cenderung serius, bahkan kaku. Hal ini sangat kontras dengan tren fotografi masa kini, di mana kebebasan berekspresi, pose yang luwes, dan tawa riang menjadi pemandangan yang lazim. Pertanyaannya kemudian muncul, mengapa orang-orang di masa lalu begitu jarang tersenyum dalam potret mereka?

Berbagai Faktor di Balik Ekspresi Serius dalam Foto Lama

Ada beberapa alasan mendasar yang menjelaskan fenomena ini, mulai dari isu kesehatan pribadi hingga norma sosial dan perkembangan teknologi fotografi.

1. Permasalahan Kesehatan Gigi

Salah satu penjelasan yang cukup umum diyakini adalah kondisi kesehatan gigi. Meskipun mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang di era modern, di masa lalu, masalah gigi yang buruk bisa menjadi sumber rasa malu yang signifikan.

Angus Trumble, Direktur Galeri Potret Nasional di Canberra, Australia, mengemukakan bahwa meskipun gigi yang tidak sempurna bukanlah hal yang langka, hal tersebut tidak serta-merta membuat orang nyaman untuk menunjukkannya di depan umum, apalagi dalam sebuah potret yang dianggap abadi. Ia berpendapat bahwa kesadaran akan pentingnya perawatan gigi yang lebih profesional di kemudian hari turut mendorong orang untuk lebih terbuka dalam menampilkan senyum mereka.

“Jika seseorang memiliki masalah gigi, hal itu bisa membuat mereka enggan membuka mulut saat berinteraksi dengan orang lain,” jelas Trumble.

2. Durasi Proses Pemotretan yang Lama

Di awal kemunculan fotografi, teknologi kamera belum secanggih sekarang. Proses untuk menangkap sebuah gambar seringkali memakan waktu yang cukup lama, mulai dari beberapa detik hingga bahkan beberapa menit. Kondisi ini mengharuskan subjek foto untuk menjaga pose yang stabil dan tidak bergerak agar hasil foto tidak buram. Pilihan ekspresi wajah yang datar dan serius menjadi cara paling efektif untuk mempertahankan ketenangan selama proses pemotretan yang panjang tersebut.

Namun, pandangan ini juga memiliki sisi lain. Todd Gustavson, seorang kurator teknologi dari Museum George Eastman, berpendapat bahwa narasi tentang lamanya waktu pemotretan ini terkadang dilebih-lebihkan. Ia menjelaskan bahwa sejak era 1850-an, teknologi kamera sebenarnya sudah memungkinkan pengambilan gambar dalam hitungan detik. Ini berarti secara teknis, orang bisa saja tersenyum sebentar. Namun, kemungkinan besar, kebiasaan untuk tersenyum dalam foto belum terbentuk atau dianggap umum pada masa itu.

3. Norma Sosial dan Pengaruh Seni Lukis

Ekspresi wajah dalam potret-potret awal juga sangat dipengaruhi oleh tradisi seni lukis yang mendahuluinya. Dalam dunia seni lukis pada masa itu, senyum lebar seringkali diasosiasikan dengan konotasi negatif. Senyum tersebut bisa diartikan sebagai tanda kegilaan, kebisingan, perilaku tidak sopan, bahkan hingga mabuk.

Menurut Trumble, senyum lebar dianggap tidak pantas karena terhubung dengan berbagai perilaku yang bertentangan dengan norma kesopanan yang berlaku. Oleh karena itu, pose yang tenang, formal, dan penuh wibawa lebih sering dipilih, terutama di studio foto yang melayani kalangan atas. Penting untuk diingat bahwa pada masa itu, sebuah potret foto dianggap sebagai sesuatu yang sangat berharga, bahkan mungkin menjadi satu-satunya dokumentasi visual seseorang sepanjang hidupnya. Dengan demikian, orang cenderung ingin menampilkan diri mereka dalam kondisi terbaik, paling sopan, dan paling terhormat.

4. Peran Iklan dan Budaya Populer dalam Mengubah Persepsi

Perubahan signifikan dalam kebiasaan berpose dalam foto terjadi seiring dengan meluasnya akses fotografi ke masyarakat umum, salah satunya berkat inovasi kamera Kodak. Peneliti budaya dan komunikasi, Christina Kotchemidova, menyoroti peran penting iklan Kodak dalam membentuk kebiasaan tersenyum saat difoto.

Slogan-slogan seperti “You press the button, we do the rest” berhasil menciptakan citra kamera sebagai alat yang mudah diakses dan mendorong terciptanya suasana yang lebih santai. Produk fotografi dipasarkan sebagai sarana untuk mengabadikan momen-momen bahagia, sehingga secara bertahap, senyum mulai menjadi ekspresi standar dalam sebuah foto.

“Isyarat komersial yang menyatakan bahwa tersenyum adalah hal yang seharusnya dilakukan dalam sebuah foto sangat efektif dalam memengaruhi orang,” ujar Kotchemidova.

Ketidaktersenyuman Bukan Berarti Ketidakbahagiaan

Bagi sebagian orang, melihat foto-foto lama yang minim senyum mungkin menimbulkan asumsi bahwa orang-orang di masa lalu tidak bahagia. Namun, para pakar berpendapat sebaliknya. Meskipun ekspresi yang ditampilkan dalam foto cenderung datar atau serius, hal itu tidak lantas mencerminkan tingkat kebahagiaan mereka.

Tokoh-tokoh sejarah seperti Ratu Victoria dan Presiden Abraham Lincoln, misalnya, dikenal memiliki selera humor yang baik dan kerap menunjukkan sisi ceria mereka dalam interaksi pribadi.

“Manusia sepanjang sejarah telah tersenyum, tertawa, dan berperilaku kurang lebih sama seperti yang mereka lakukan saat ini, secara alami dan spontan, di ranah pribadi. Yang berbeda adalah bagaimana mereka tampil dan mempresentasikan diri di depan publik,” pungkas Trumble.

Jadi, ekspresi serius dalam foto lama lebih merupakan cerminan dari berbagai kendala teknis, norma sosial, dan etiket pada zamannya, daripada indikasi kurangnya kebahagiaan.

Gambar Gravatar
Hidayat merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan